Kabah
Kabah

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 127 : Kisah di Balik Pembangunan Baitullah

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Al-Quran adalah kalamullah yang mu’jiz diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantara yang dapat di percaya yaitu Jibril AS. Yang ditulis dalam mushaf dan dinukilkan kepada kita dengan mutawatir, serta diperintah membacanya. Ayat ini sendiri dalam disiplin Ulumul Quran masuk dalam Qissoh fi al-Quran. Yang mana dalam Qissoh tersebut banyak sekali pelajaran yang dipetik dan diambil, agar dapat dipakai dalam konteks kehidupan sekarang. Dan dalam Qissoh fi al-Quran sendiri memiliki manfaat dan tujuan agar senantiasa kita sebagai umat islam untuk mengamalkan apa yang didapat dari Qissoh tersebut.

Malaikat Membangun Baitullah

Allah swt, menyuruh Nabi Ibrahim membangun ka’bah, malaikat Jibril kemudian menunjukkan tempatnya. Para Malaikat telah membangunnya sebelum Nabi Ibrahim, tepatnya ketika Allah berkata kepada para Malaikat, “ aku akan menciptakan khalifah dimuka bumi “ .

Malaikat berkata, “Tuhan, apakah engkau akan menjadikan khalifah dari jenis lain yang akan membuat kerusakan, menumpahkan darah, saling iri, saling benci, dan gemar berbuat keji ? Tuhan jadikanlah khalifah tersebut dari kami. Kami tidak akan akan membuat kerusakan, menumpahkan darah, saling iri, saling benci, dan menyebarkan kedzaliman disana (bumi). Kami akan memuji keagungan-Mu, mensucikan-Mu, mentaati-Mu, dan tidak durhaka kepada-Mu.

Lalu Allah membantah malaikat dengan berkata : Aku mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui.

Allah kemudian meletakkan bangunan dilangit yang dikenal dengan Baitul Makmur. Setiap harinya Baitul Makmur itu dikunjungi sekitar tujuh puluh ribu malaikat. Lalu Allah menyuruh para Malaikat ke Bumi seraya berkata, buatkan untuk-Ku yang sama di Bumi. Setelah Malaikat selesai membangun Ka’bah, lalu Allah menyuruh kembali untuk berthawaf di Baitullah tersebut seperti yang mereka lakukan di Baitul Makmur.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir Ahkam : Menggali Hukum dari al-Qur’an

Ibrahim dan Ismail Membangun Ka’bah

Setelah ibunda Ismail ( Siti Hajar ) wafat, seiring berjalannya waktu Ismail pun menikah dengan wanita dari Jurhum. Pada suatu hari, Ibrahim mengunjunginya, namun Ismail tidak ada dirumah karena sedang mencari nafkah untuk keluarganya.

Ibrahim pun bertanya kepada istri Ismail tersebut, “bagaimana keadaan kalian ?” lalu istri Ismail pun menjawab, “Kami hidup dalam derita dan kesengsaraan”. Lalu Ibrahim berpesan kepada istri Ismail dengan berkata, “kalau suami mu pulang, sampaikan salamku, suruh dia mengganti ambang pintunya”.

Ketika Ismail pulang, ia berkata kepada istrinya, “apakah kamu didatangi seseorang ? “ Istrinya menjawab, iya, ayahmu tadi datang dan menanyakan mu, lalu aku menjawab engkau sedang pergi mencari nafkah untuk kami. Dia juga bertanya bagaimana keadaan kita, lalu kujawab, keadaan kita susah dan menderita. Lalu Ismail pun bertanya kembali, “apakah ayahku menitipkan pesan ?” istrinya menjawab, “ iya, dia menitipkan salam untukmu dan menyuruhmu mengganti ambang pintumu”. Ismail pun paham maksud dari perkataan ayahnya, lalu Ismail berkata kepada istrinya, “ayahku menyuruhku untuk menceraikanmu, pulanglah kerumah ayahmu.”

Seiring berjalannya waktu, Ismail pun menikah lagi dengan salah satu gadis Jurhum yang bernama Shamit binti Muhalhalbin Sa’ad bin Auf. Beberapa waktu kemudian Ibrahim datang kembali ke rumah Ismail untuk mengunjunginya, akan tetapi pada saat itu Ismail sedang tidak ada dirumah. Ibrahim pun bertanya kepada Istri Ismail, “Dimana Ismail ? “, kemudian istri Ismail menjawab, “ia sedang mencari nafkah”. Lalu Ibrahim bertanya kembali, “bagaimana keadaan kalian ?”, istri Ismail menjawab, “Alhamdulillah kami hidup makmur”. Kenudian Ibrahim bertanya kembali, “apa makanan kalian ?”, istri Ismail menjawab Daging, ayah, kemudian Ibrahim bertanya kembali, “apa minuman kalian ?”, istri Ismail menjawab air, ayah.

Baca Juga:  Tips berdialog dengan Remaja Ala Nabi Ibrahim

Kemudian Nabi Ibrahim berdoa ; Ya Allah berilah berkah dari daging dan air kepadanya. Setelah berdo’a, Ibrahim berkata, “menantuku kalau suamimu pulang sampaikan salamku, katakan bahwa aku menyuruhnya mengukuhkan ambang pintunya. Setelah selesai melepas lelah Ibrahim pun bergegas pergi. Sementara tak berapa lama dari kepergian Ibrahim, Ismail pun pulang, lalu istrinya memberitahukan kedatangan Ibrahim kerumah nya dan menyampaikan pesannya.

Setelah istri Ismail menyampaikan pesan Ibrahim kepadanya, Ismail pun berkata, “sesungguhnya ayah menyuruhku untuk mempertahankan dirimu”.

Seiring berjalannya waktu, Ibrahim kini mengunjungi putranya, ia datang dengan membawa rindu dan kasih sayang lalu berkata, “Ismail, Allah menyuruhku mengerjakan sesuatu”, lalu Ismail pun menjawab, “tunaikan segala perintah-Nya ayah”, kemudian Ibrahim pun bertanya kembali, “kamu bersedia menolongku “ lalu Ismail menjawab, “dengan senang hati ayah”. Kemudian  Ibrahim mengarahkan telunjuknya dan berkata, “ Allah menyuruhku membangun rumah-Nya disini”.

Tanpa mengulur waktu Ibrahim dan Ismail segera melaksankan tugas yang diperintahkan Allah untuk membangun ka’bah, mereka berdua saling membantu, Ismail menyiapkan batu, sementara itu Ibrahim menyusunnya hingga rapih dan sempurna dari seluruh segi. Setelah selesai membangun ka’bah mereka berdoa : “ Ya Tuham kami, terimalah dari kami (amalan kami), Sungguh, Engkau Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui”.

Semoga kita dapat mengambil makna dan pelajaran diatas, yang mana dalam kisah tersebut memiliki beberapa point penting. Yang pertama adalah mentaati dan menghormati suami, dan pesan yang kedua adalah menjalankan segala perintah Allah swt, salah satunya adalah membangun Baitullah. Dalam Kisah Ibrahim dan Putranya Ismail.

Bagikan Artikel

About Dr. Ahmad Syah Alfarabi

Avatar