Sepenggal kisah Batu Mulia, Hajar Aswad

0
159
hajar aswad

Hajar Aswad merupakan batu termulia bagi umat Islam yang ada di muka bumi ini. Batu ini diyakini berasal dari surga. Batu hitam yang berbingkaikan perak serta mengeluarkan bau yang sangatlah harum. Batu ini merupakan salah satu bagian dari masjidil haram.

Batu ini pertama kali ditemukan oleh Nabi Ismail ketika akan membuat Ka’bah bersama ayahnya, Nabi Ibrahim. Mereka lantas mencium batu berwarna putih itu kemudian di letakkannya batu tersebut pada sisi bagian Ka’bah. Rasulullah bersabda:

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

Artinya: “Hajar Aswad turun dari surga, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam.” [Hadits shahih riwayat at Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 877].

Dalam hadist ini dijelaskan bahwa dahulunya ketika Nabi Ismail menemukan batu Hajar Aswad, batu ini memiliki warna putih. Namun, dosa dari umat manusia yang membuat batu mulia ini berubah menjadi hitam.

Bangunan Ka’bah mengalami beberapa renovasi. Beberapa ada yang menyatakan bahwa pondasi dari Ka’bah dibangun oleh para malaikat. Namun, adapula  yang meyakini bahwa nabi Adamlah yang membangunnya pertama kali dan Nabi Ibrahim yang melanjutkan pembangunan Ka’bah tersebut.

Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 127:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ayat di atas membuktikan bahwa memang benar adanya bahwa nabi Ibrahim serta Ismail telah merenovasi dasar-dasar Baitullah. Dan merekapun berdoa dan meminta supaya Allah menerima amalan yang telah mereka kerjakan.

Baca Juga:  Islam Periode Mekkah

Sebenarnya Ka’bah juga sering mengalami ancaman. Pada masa kelahiran Rasul juga pernah ada tantara habsyah dengan pasukan unta yang menyerang Ka’bah. Bahkan pada suatu ketika Ka’bah pernah mengalami kebakaran. Hal itu terjadi pada masa masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah.

Cucu dari Abu Bakar menolak pengangkatan Yazid sebagai khalifah karena menurutnya Yazid dinilai tak pantas karena memiliki perangai buruk. Penolakan Abdullah bin Zubair ini mendapat kecaman dan penyerangan dari Pasukan Yazid bin Muawwiyah yang dilancarkan oleh pasukan dari syam. Akibat peperangan tersebut, Ka’bah terbakar.

Setelah Ka’bah diratakan dengan tanah oleh Walid bin Mughirah (untuk renovasi). Hajar aswadpun di keluarkan dan diketahui bentuk hajar aswad telah terpecah-pecah. Namun pecahan-pecahan hajar aswad dapat dipatri atau disatukan lagi dengan ikatan perak yang kini tetap menjadi bingkainya.

Batu Hajar Aswad menjadi patokan bagi jemaah haji dalam melakukan tawaf. Selain itu, batu ini pun merupakan batu yang tidak dapat ditemukan kesamaan jenis dengan batu yang lain di bumi.

Mencium Hajar Aswad bukan bertujuan untuk memuliakan sebuah batu yang berupa benda mati. Mencium Hajar Aswad merupakan bagian dari perintah Allah dan Rasulullahnya. Mencium Hajar Aswad merupakan salah satu bukti ketaatan terhadap Allah dan Rasulullah sebagian bagian teladan ibadah Ibrahim.

Umar bin Khatab pernah mengatakan: “Sesungguhnya aku menciummu (Hajar Aswad) dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Tri Wahyuningsih

Tinggalkan Balasan