sikap zuhud Nabi

Ketika Rasulullah Menyisihkan Kenikmatan

Dalam kitab-kitab Tarikh, ketika menceritakan tentang kezuhudan Nabi Muhammad, selalu melibatkan dua contoh perilakunya yang sangat populer. Pertama, tindakan Rasulullah sengaja mengganjal perutnya dengan dua batu untuk menahan lapar selama mengikuti proses pembuatan parit. Kedua, kesaksian Umar bin Khattab saat Rasulullah bangun tidur dari tempat tidurnya yang menyisakan bekas di punggungnya.

Cerita lengkapnya begini, kisah pertama terjadi saat para sahabat sedang bersatu untuk menggali parit besar sebagai benteng pertahanan tentara muslim dari gempuran musuh beserta sekutu-sekutunya. Saat itu sengatan matahari yang menembus hamparan padang pasir membuat tenggorokan mereka pun mengering. Dan rasa lapar pun sudah mulai mengoyak perut para sahabat.

Bahkan di antara mereka ada yang sudah tidak sanggup lagi menahan haus dan lapar, dan agar baju yang mereka pakai tidak tanpak kelonggaran dan kerempeng, mereka berinisiatif untuk mengganjal perutnya dengan sebuah batu yang diselipkan. Lalu sebagian mereka ada yang mengadu kepada Rasulullah sembari menunjukkan batu yang digunakan untuk mengganjal, “Wahai Rasulullah, kami sangat lapar sampai-sampai kami harus melapisi perut kami seperti ini.”

Mendengar aduan itu, seolah Rasulullah ingin menahan tawa, lalu beliau membuka jubah panjangnya yang menutupi perutnya, sehingga tampak dua batu yang digunakan untuk mengganjal perutnya. Dan melihat itu, para sahabat cukup menahan malu. Karena Rasulullah juga melakukan tindakan yang sama untuk menahan letih dan lapar. Para sahabat pun beranjak meninggalkan Rasulullah dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing.

Adapun kisah kedua, terjadi saat Umar bin Khattab dengan sengaja memasuki rumah Rasulullah dan menyaksikan Rasulullah sedang berbaring di atas ranjang tidurnya yang terbuat dari pelepah pohon kurma. Setelah ia bangun, Umar bin Khattab melihat ada bekas alas tidurnya yang menggores di punggung.

Baca Juga:  Sahabat Zahir yang Pernah Ditawarkan Rasulullah di Pasar

Seketika itu, Umar pun menangis. Ketika ditanya oleh Rasulullah, “Umar, kenapa kamu menangis?” Ia pun menjawab, “Saya ingat para penguasa Habasyah, Kisra dan singgasananya yang mewah, dan Hurmuz beserta singgasananya yang megah. Sedangkan engkau ini adalah utusan Allah tidur beralaskan pelepah yang sangat kasar.” Rasul pun menjawab, “Umar, menurutmu lebih baik mana jika mereka mendapatkan dunia, sedangkan kita mendapatkan akhirat?”

Dua kisah tersebut menggambarkan pola zuhud yang oleh sebagian ulama dinilai sangat penting. Sebab zuhud dengan menahan kenikmatan di tengah-tengah kemegahan dan kekayaan justru lebih berat dibanding zuhud dalam keadaan miskin dan terpinggirkan. Sehingga menurut sebagian para pelaku ini dengan model lainnya, menganologikan bahwa zuhud tidak harus meninggalkan harta tetapi tidak “gumantung” dengan harta sebagai satu-satunya modal untuk hidup.

Saat itu, seandainya Rasulullah berkenan untuk hidup bergelimang harta, besar kemungkinan sangat mudah ia raih. Tetapi lagi-lagi modal utama untuk menjalankan syiar agama (terlepas dari kepatutan sebagai utusan Allah) tidak bergantung pada materi dunia yang sifatnya fana. Oleh sebab itu, Al-Qur’an menegaskan, “Dan apabila engkau melihat kenikmatan di surga, niscaya akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang lebih besar,” (QS. Al-Insan, 20).

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Khoirul Anwar Afa

Avatar
Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta.