kekaguman ulama arab
kekaguman ulama arab

Kekaguman Ulama Arab pada Indonesia

“Pendidikan Islam di Indonesia mampu menjadikan anak  berakhlak mulia, tercermin dari sikap tawadlu dan rasa hormatnya kepada orang tua dan guru-guru mereka”, ungkapan akademisi Sudan Dr. Qosamullah Abdel Ghaffar yang menjabat sebagai Kepala Jurusan Syariah Universitas Internasional Afrika/UIA dan Anggota Majma Fikih Sudan. Dosen ini mengakui adanya keindahan harmoni Islam Indonesia dengan interaksinya yang luas dan melihat prilaku diaspora pelajar Indonesia di UIA yang dalam hal ini tidak kalah indah dengan  alam Indonesia itu sendiri.

Tidak sedikit dari ulama Arab yang kagum dengan akhlak pelajar dan keindahan Indonesia. Seorang penyair kenamaan asal Suriah; Syekh Ali Thantawi menulis buku khusus yang isinya memuji keindahan Indonesia.  Menurutnya, Indonesia adalah surga dunia. Buminya subur dan penghuninya hidup bergotong royong. Sebagaimana kebanyakan penulis Arab, Syekh Ali Thantawi menyebut Indonesia dengan sebutan “Jawa”.

Harmoni sosial dalam hubungan masyarakat dan akhlak umat Islam Nusantara merupakan bagian dari realitas keberagaman dan keberagamaan yang harus disyukuri dan dijaga sebaik-baiknya. Hal-hal yang bisa merusak peradaban dan anatomi sistem sosial seperti gaya hidup hedonis, penipuan, kedengkian dan kekerasan  seksual harus diantisipasi sejak dini.

Ilmuwan Sudan Prof. Abdullahi Ahmed An-Naim yang mengajar di Emory University, Amerika Serikat dan pernah menjadi nara sumber Webinar yang diadakan oleh Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII menulis dalam bukunya “Islam dan Sekulerisme Negara” sebanyak satu bab khusus yang menjelaskan Indonesia sebagai realitas keberagaman dan puncak pluralisme. Menurutnya,  keberagaman perlu dipahami sebagai perbedaan agama dan etnis, dan pluralisme sebagai  ideologi, arah atau sistem yang menerima keberagaman tersebut sebagai nilai positif dan mudah dikompromikan.

Ahmed An-Naim memandang bahwa negara agama sebagaimana paham khilafah merupakan bid’ah (kreasi manusia) yang muncul setelah masa penjajahan dimulai pertengahan abad ke-20 dan dibangun atas dasar pemahaman Eropa tentang negara dan hukum. Menurutnya, agama dan negara harus berdialog sebagaimana dalam konteks Indonesia ada dialog Islam dan Pancasila yang memuat sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam sudut pandang maqoshid syariah (tujuan-tujuan Syariat) sehingga ulama Nusantara diantaranya KH. Sahal Mahfudz mensosialisasikan pandangan bahwa Indonesia bukan negara sekuler. Hal ini sedikit berbeda dengan Ahmed An-Naim yang memandang sekulerisme melekat pada negara bukan masyarakat, dan menjadi sebuah keniscayaan dalam Islam.

Baca Juga:  Menjadi Muslim yang Kaffah setelah Ramadan

Kenyataan harmoni Indonesia juga diakui oleh ulama Mesir   Syekh Abdul Aziz As-Syahawi saat safari dakwah di Indonesia dengan mengatakan; “Di Indonesia segala sesuatunya sangat Indah”. Jika keindahan yang dirasakan ini lahir dari realitas keberagaman dan keberagamaan Nusantara, terutama akhlak para pencari ilmu maka perlu bagi anak bangsa mensyukurinya dengan memperharum nama Indonesia sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sejarah Indonesia menyebutkan bahwa Presiden Soekaro menggunakan teori harmoni dalam mengatasi masalah perbedaan di Indonesia, bukan teori konflik yang mengarah pada sikap mengkambinghitamkan atau “memakan” korban pihak-pihak tertentu.

Secara tidak langsung Indonesia dianggap memiliki peradaban yang tinggi. Terdapat perpaduan antara tata nilai, tata kelola dan tata sejahtera meski belum bisa dikatan sempurna dan ideal, terutama dalam hal kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin yang diatasi melalui proses pemandirian rakyat sesuai arus ekonomi baru bottom-up yang dikawal langsung oleh Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin. Institusi pendidikan (ilmu), peradilan (keadilan) dan ekonomi (harta) sebagai pilar peradaban bisa berjalan seiring dan terus dipicu untuk saling melengkapi. Ini salah satu rahasia ekonomi Indonesia mampu bertahan di tengah tekanan krisis global dan ancaman krisis pangan.

Kebanggaan ulama Timur Tengah juga nampak dari sikap  seorang ulama Suriah; Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi yang selalu menggunakan peci hitam khas Indonesianya. Tidak sedikit orang yang menyesal dengan kondisi Suriah saat ini. Mufti Suriah Syekh Badruddin Hasoun dalam pidatonya di Parlemen Eropa mengakui bahwa posisi negaranya tidak beruntung dengan peliknya pemberontakan dan masalah SARA.

Mufti Hasoun dengan tegas menyebut bahwa apa yang umum disebut peradaban Islam, Yahudi atau Nasrani sebenarnya hanyalah imajinasi, dan yang ada sesungguhnya adalah peradaban kemanusiaan sebagaimana penyebutan hudan lin Naas, petunjuk bagi umat manusia dalam al-Qur’an, bukan umat Islam.

Baca Juga:  Menjelaskan Maksud "Tidak Ada Hukum Kecuali Hukum Allah"

Dengan kelebihan ini, Indonesia sangat patut menyuarakan advokasi sosial dari sudut pandang agama demi kemaslahatan universal. Nabi Muhammad Saw telah mencontohkan bagaimana mendialogkan agama dan negara sebagaimana  Islam adalah agama sekaligus negara. Harmoni sosial dan keindahan Indonesia perlu dijaga secara konsisten melalui penjagaan setiap warga Indonesia terhadap hubungannya dengan lingkungan, agama, pemeluk agama maupun antar pemeluk agama.

Selain itu, Indonesia harus senantiasa dijauhkan dari logika penyimpangan dan logika pengakuan (klaim). Generasi bangsa Indonesia jika semakin sering menyimpang atau mengaku-ngaku hebat maka akan semakin menjauh dari peran nyata, apalaki menjadi produsen sejarah yang benar-benar patut dikagumi dan dibanggakan oleh bangsa lain.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

prasangka

Cara Ulama Salaf Melawan Prasangka Buruk

Prof. Jamal Faruq seorang ulama al-Azhar Mesir mengutip pernyataan Syekh Abderrahman Habankah al-Maidani bahwa diharamkannya …

fikih peradaban

Indonesia dan Peran Fikih Peradaban

“Islam adalah kekuatan spiritual, intelektual, emosional dan material peradaban”, tulis ulama Mesir Abdel Mun’im al-Qi’iy …