Intoleransi

Kesalahan Memahami Ayat Ini akan Menyebabkan Sikap Intoleran

Dalam memahami sebuah ayat dalam al-Qur’an, umat Islam membutuhkan tidak hanya bisa mengartikan secara terjemahan saja, tetapi juga memahami maknanya secara utuh. Memahami makna tidak seperti menerjemahkan. Ada perangkat ilmu lain yang harus dimiliki, bukan sekedar baca terjemahan dan melontarkan fatwa.

Dalam Surat al-Fath, banyak orang yang memahami ayat terakhir dalam surat ini secara sepotong-sepotong. Allah berfirman dalam surat al-Fath 27, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka….”.

Jika baca sepintar dan melepaskan ayat ini dari konteks dan pemahaman yang utuh akan melahirkan suatu pemahaman seperti itulah sikap umat Islam terhadap orang-orang kafir selamanya. Artinya di manapun dan kapanpun umat Islam harus bersikap keras terhadap orang kafir. Dan terjemahan yang sangat fatal jika pengertian ini dipahami bahwa umat Islam harus bersikap keras terhadap yang berbeda agama.

Ayat ini seringkali dipahami, diajarkan dan digunakan untuk bersikap keras terhadap orang yang berbeda agama tanpa pandang bulu. Sehingga seolah ini lah sikap tegas umat Islam terhadap yang berbeda keyakinan harus bersikap keras dan tidak ada toleransi.

Tentu dalam memahami ayat dan hadist selain penting memahami secara utuh, juga penting memahami konteksnya. Ayat maupun hadist tidak datang di ruang hampa tetapi memiliki konteks dan pesan yang perlu didalami secara utuh. Konteks ayat Al-Fath dilatari oleh perjanjian hudaibiyah.

Kesalahpahaman dalam memahami pesan utuh ayat ini sering berpotensi menimbulkan gesekan sosial di masyarakat di Indonesia. Terjemahannya adalah umat Islam harus bermuka masam kepada non muslim. Sebagian muslim lainnya juga memilih untuk bersikap mencurigai kebaikan orang kafir dan menoleransi keburukan orang Islam tanpa mau memahami betul-betul makna yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga:  Tak Perlu Viagra, Inilah Do’a untuk Tahan Lama dalam Berhubungan

Perlu diketahui dalam surat diatas ada ketika terjadi dalam suasana yang menegangkan. Bukan ayat yang mengisahkan tentang keadaan yang sedang dalam kondisi tenang atau damai. Konteks ayat Al-Fath dilatari oleh perjanjian hudaibiyah. Perjanjian ini diadakan atas ketegasan Rasulullah dalam membela muslimin. Dipahami, dalam perjanjian manapun, pastinya akan terasa suasana menegangkan, tidak berbedan dengan perjanjian Hudaibiyah. Dalam ayat dan hadist ini sejumlah orang munafik mengambil kesempatan untuk menimbulkan kegaduhan.

Jika ayat itu diletakkan pada kondisi yang tidak dalam kondisi damai dan adanya potensi orang kafir dalam melanggar perjanjian dan ada ancaman dari orang kafir terhadap umat Islam, maka sangat wajar jika ayat itu memberikan semangat pada zaman dan konteksnya. Ayat ini tentu tidak bertentangan dengan ayat lain yang Allah yang memberikan dorongan kepada umat Islam untuk berlaku adil dan damai seperti yang tertulis dalam Surat al-Mumtahanah ayat 8 mengatur relasi dengan pihak kafir.

Allah berfirman, “Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs al-Mumtahanah ayat 8).

Ayat ini dan ayat al-Fath bukan suatu ayat yang bertentangan. Allah Maha Sempurna begitu pun firmannya adalah Kebenaran Tanpa Kesalahan. Tidak mungkin ada ayat yang bertentangan dalam menyuruh satu hal dan melarang satu hal. Ketidaksempurnaan adalah berada di manusia ketika memahami ayat tersebut. Salah memahami atau tidak bisa melihat konteks dan pemahamannya yang lebih utuh.

Dalam firman Allah di atas menunjukkan bahwa Allah tidak melarang umatnya untuk berbuat baik, bersilaturrahim, membalas kebaikan dan berbuat adil kepada kaum musyrikin baik kerabatmu maupun selain mereka yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Bahkan ketika Rasulullah menaklukkan Makkah tidak ada satupun darah dan peperangan yang ada adalah pengampunan dan rekonsiliasi terhadap kaum kafir.

Baca Juga:  Hadist Bantahan Rasulullah Terhadap Mitos Musibah di Bulan Safar

Dengan demikian, ketegasan sikap Rasul adalah satu hal yang berkenaan dengan prinsip mempertahakan Islam dan menjamin keamanan muslim. Sementara sikap lemah lembut dan toleran Rasulullah adalah prinsip menerjemahkan akhlak damai Islam dan menjamin harmoni muslim dan non-muslim.

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar