metode tafsir
metode tafsir

Memahami Ayat-ayat Toleransi dan Perang [1]: Dualisme Wajah Islam?

Kanal Akhbar Islam Kaffah dalam beberapa minggu terakhir menyoroti beberapa peristiwa terkait perkembangan Islam, salah satunya mengenai Islamophobia yang menguat di Eropa dan kontroversi Presiden Prancis Macron.

Hal ini memantik penulis untuk mengkaji ayat-ayat Alquran yang selama ini banyak disalahpahami, baik itu oleh kelompok Islam sendiri maupun non-Islam yang terpengaruh oleh isu liar tentang Islam. Isu liar tentang Islam yang berkembang di dunia Barat, terutama pasca peristiwa bom bunuh di yang menghantam WTC di AS, adalah agama keras dan disebarkan dengan pedang.

Memang harus diakui bahwa strereotip Islam sebagai agama ‘pedang’ yang sarat dengan nuansa kekerasan dan perang telah lama berkecamuk di benak sebagian besar orang Barat (W. Arnold: 2002). Tak dapat dipungkiri pula telah banyak Islamolog Barat yang tercerahkan sehingga sadar bahwa pandangan tersebut keliru, namun stereotip dan Islamophobia (masih) belum bisa dihilangkan.

Menyadari perkembangan adanya stereotip tersebut, kalangan intelektual Islam telah bersusah-payah menghadirkan bantahan-bantahan teologis maupun historis, tetapi eksistensi gerakan Islam garis keras (radikal) yang melang-lang buana dan memakan korban di mana-mana menjadi kontra produktif dengan sanggahan dan pelurusan pandangan tersebut.

Sehingga, para ilmuan kemudian banyak yang menyimpulkan bahwa Islam sering diekspresikan dalam dua wajah yang saling berlawanan; wajah damai, sejuk dan wajah keras, perang. (Lihat Ali Asghar Engineer, 2001: 121). Memang, Alquran sebagai kitab suci umat Islam, disamping memuat ayat-ayat perdamaian, toleransi, kerukunan dan sejenisnya, juga memuat ayat-ayat berkaitan dengan perintah peperangan.

Hal tersebut kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan sementara bahwa dalam Islam memang terdapat potensi yang mendorong pengikutnya untuk bersikap toleran terhadap kaum non-Islam, namun pada sisi yang lain, justru Islam juga memerintahkan kepada umatnya untuk tegas dan keras terhadap orang-orang kafir. Terlebih apabila ayat-ayat tentang jihad dan sejenisnya ini dipahami secara tekstualis dengan menghilangkan aspek historisitasnya.

Baca Juga:  Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Musthafa Zaid dalam kajiannya menyebutkan bahwa ayat yang memerintahkan untuk bertindak ‘toleran’ terhadap orang kafir dan ayat yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir, ada sekitar 140 ayat (Musthafa Zaid, al-Nask fi Alquran al-Karim, 1987: 508). Lebih lanjut, ia merinci sebagai berikut: ayat berkaitan denga toleransi diklasifikasikan menjadi enam, (1) ayat-ayat sabar [Ali Imran, 186; Thaha, 128-130 dan lainnya],

(2) ayat tentang penafian pemaksaan dalam beragama [Al-Baqarah, 256; Yunus, 99 dn lainnya], (3) ayat tentang perintah membalas keburukan atau bantahan dengan sikap yang lebih baik (4) ayat yang berkaitan dengan memaafkan orang-orang musyrik [ al-Hijr, 85, al-Zukhruf, 89 dan lain-lain] (5) ayat-ayat tentang berpaling dari orang musyrik [al-Nisa’, 63,82; al-An’am, 106 dan lainnya], dan (6) ayat berisi tentang memperlakukan orang-orang kafir dengan perlakuan yang baik pula [Al-Jatsiyah, 14; Al-Nisa’, 84 dan lainnya].

Pada sisi lain, terdapat sekitar 22 ayat yang memerintahkan umat Islam untuk memerangi orang musyrik dan kafir (lihat Abd al-baqi’, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz Alquran al-Karim, 644-645). Ayat-ayat ini diantaranya ada yang akrab dikenal dengan istilah ayat pedang (ayat al-saif). Diantara ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut: al-Taubah, 12,13,29,36; al-Baqarah, 190,191,244; al-Hajj, 39 dan al-Mumtahanah, 9.

Adanya ‘dualisme’ wajah Islam sebagaimana disebutkan dalam paragraf di atas telah memantik intelektual Islam untuk menelaahnya secara mendalam dan tuntas. Karena itu, persoalan ini telah menjadi konsentrasi para ilmuan dan cendekiawan muslim guna mencarikan intrepretasi yang pas dan rasional. Diantara intelektual yang terjun dalam persoalan ini adalah Ibn Sallamah (w. 337-410 H) dan al-Shami. Kedua pemikir kondong ini memberikan solusi cukup rasional dan ilmiah.

Baca Juga:  Cara Menyucikan Najis Pakaian yang Dicuci dengan Mesin Cuci

Menurut mereka, ayat-ayat toleransi dan perang harus dipahami menggunakan kaidah atau teori nasaskh (menghapus). Sementara, ulama kontempoerer seperti Muhammad Abduh (1849-1905) dan lainnya, justru menyangkal penggunaan nasakh sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan ini.

Lantas, bagaimana mehami ayat-ayat toleransi dan ayat perang yang seolah kontradiksi itu dan bagaimana solusi atas persoalan ini?

Bersambung

Bagikan Artikel ini:

About Muh. Ulin Nuha, MA

Avatar of Muh. Ulin Nuha, MA

Check Also

jihad

Catat! Jihad dan Terorisme Itu Beda Jauh, Yuk Simak Penjelasannya

Kejadian aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar menyisakan duka yang mendalam bagi …

kunjungan paus

Adakah Nilai-nilai yang Bisa Dipetik dari Kunjungan Paus di Irak?

Paus Fransiskus sudah mengunjungi beberapa wilayah di Timur Tengah. Teranyar, Paus Fransiskus melakukan kunjungan bersejarah …