kekayaan
kekayaan

Ketika Harta Menjadi Ujian

Ketika sahabat merasa iri dengan pembagian harta ghanimah Nabi berkata: “Wahai sekalian Anshar, tidakkah kalian ridha, mereka pulang dengan kambing dan unta, sedangkan kalian wahai Anshar, pulang bersama Rasulullah?” Seketika itupun para sabahabat Rasulullah itupun mulai menangis terisak hingga janggut mereka basah karena air mata.


Pasca berakhirnya perang Hunain, Rasulullah memerintahkan para pejuang dan kesatria Islam agar berkumpul di Ji’ranah. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah mulai membagikan harta rampasan perang atau ghanimah.

Walaupun, akhirnya memenangi peperangan, pada pertempuran Hunain, umat Islam hampir saja dikalahkan oleh lawannya yakni suku Tsaqif (penduduk kota Thaif) dan Hawazin. Qur’an merekam kisah ini dalam firman Allah: “Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun. Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.“ (Qs. At-Taubah: 25)

Sebagaimana diketahui dalam pertempuran Hunain, orang-orang Mukmin yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari pasukan kaum musyrik, merasa sombong karena jumlah mereka yang banyak. Kesombongan itulah yang menyebabkan pertempuran itu hampir saja dimenangkan pihak musuh, walaupun pada akhirnya kejayaan berada di tangan kaum muslim.

Dari pertempuran ini dapat dipetik suatu pelajaran bahwa jumlah yang banyak bukan merupakan faktor utama bagi sebuah kemenangan. Kemenangan sangat ditentukan ditentukan oleh jiwa patriotisme.

Di Ji’ranah telah menunggu pasukan Muhajirin dan Anshar. Uniknya, dalam pembagian ghanimah kali ini Rasulullah memberikan kepada kaum Mujahirn dan Anshar bagian yang lebih sedikit dari mereka prajurit yang baru masuk Islam. Padahal orang-orang yang baru masuk Islam adalah orang-orang yang tidak kekurangan harta.

Perlu di ketahui dalam setiap pembagian ghanimah Rasulullah selalu meminta petunjuk Allah supaya tidak terjadi kesalahan dalam pembagiaanya. Rasulullah membaca maksud Allah memberikan ghanimah  yang lebih besar agar hati mereka menjadi mantap memilih Islam.

Para mualaf ini merupakan orang-orang terpandang dari kalangan Quraisy, dan mereka adalah manusia yang memiliki hasrat yang besar pada harta. Tidak salah kemudian apabila Rasulullah menarik hati mereka melalui harta lebih dulu, baru kemudian memberi pencerahan melalui Al Qur’an dan sabda-sabda beliau sehingga hati mereka menjadi kokoh.

Ada rasa tidak terima dari kalangan Anshar ketika mereka melihat Rasulullah membagikan ghanimah kepada para muallaf dari kaum Quraisy. Mereka merasa kecewa sebab Rasulullah tidak membagikan secara adil kepada mereka. Rasa kecewa itupun diungkapkan oleh Sa’ad bin Ubadah, tokoh dari kalangan Anshar.

Karena ungkapan kecewa mereka, Rasulullah pun meminta Sa’ad mengumpulkan kaumnya. Setelah mereka semua berkumpul Rasulullah kemudian berkata kepada mereka: “Bukankah aku dulu datang pada saat kalian sesat, lalu Allah menunjukkan jalan bagi kalian? Pada saat kalian dulunya miskin, lalu Allah menjadikan kalian sejahtera? Pada saat kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian?” Lantas kemudian orang-orang Anshar tertunduk, dan bisa mengucapkan, “Benar, wahai Rasulullah.”

Kemudian beliau membuka pintu-pintu hati mereka, orang-orang yang sudah menolong beliau ketika hijrah dan dalam perjuangan menyebarkan risalah beliau. Beliau berkata: “Wahai sahabat Anshar, masihkah tersisa rasa cinta kalian terhadap dunia, meski sebesar ujung jari kelingking? Aku hanya ingin hati mereka (para muallaf) tertarik sehingga mau masuk Islam. Dan aku percaya sepenuhnya pada keimanan kalian.”

Lantas Rasulullah menyambung ucapannya kembali “Wahai sekalian Anshar, tidakkah kalian ridha, mereka pulang dengan kambing dan unta, sedangkan kalian wahai Anshar, pulang bersama Rasulullah?” Seketika itupun para sabahabat Rasulullah itupun mulai menangis terisak hingga janggut mereka basah karena air mata.

Mereka kini sudah paham maksud serta tujuan Rasulullah akan pembagian tersebut. Merekapun kini rela serta iklas dengan apa yang sudah menjadi keputusan Rasulullah.

Sesungguhnya beragam perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para khulafa ar-rasyidin dan pemimpin-pemimpin setelah mereka memiliki tujuan utamanya adalah agar tercipta kejayaan Islam. Emas, perak dan ternak hanyalah kenikmatan berikutnya setelah Islam dapat disebarkan ke berbagai negeri. Keislaman penduduk negeri yang ditaklukkan menjadi prioritas utama dan ghanimah adalah bonus dari perjuangan mereka.


Imam Santoso

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Menag Nasaaruddin di Konferensi Internasional di Mesir copy

Bicara di Forum Internasional, Menag Tekankan Agama sebagai Arah Kemajuan Modern

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama memiliki peran strategis sebagai kompas …

Masjid Al Ikhlas PIK 2 ok copy

Kehadiran Masjid Al Ikhlas PIK 2 Simbol Penguatan Toleransi dan Rekatkan Harmoni dalam Keberagaman

Jakarta – Kehadiran Masjid Al-Ikhlas PIK 2 di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, dinilai …