binasa
binasa

Ketika Kekayaan dan Kesombongan Membinasakan Suatu Kaum

Setiap manusia pastilah menginginkan hidupnya bahagia dan sukses dalam segala hal terutama dalam hal harta dan tahta. Sebagian orang mengukur harta yang mereka miliki sebagai patokan kebahagiaan atas hidup yang dijalananinya di dunia.

Namun sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa harta yang melimpah mampu membutakan hati nurani manusia yang memilikinya, bahkan mampu membuat mereka melupakan siapa sang pemberi dalam hidupnya. Kekayaan pada akhirnya justru membutakan dan membinasakan.

Al-Qur’an telah melukiskan pelajaran berharga bagaimana suatu kaum yang binasa akibat kekayaan dan kemegahannya. Diceritakan suatu kota bernama Iram yang didiami penduduk kaum ‘Aad. ”(yaitu) Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.” (QS. Al-Fajr: 7-8).

Kaum ‘Aad hidup di zaman Nabi Hud. Mereka adalah suku tertua sesudah kaum Nabi Nuh yangAad tinggal di tempat yang bernama Al-Ahqaf, terletak di utara Hadramaut, antara Yaman dan Oman.

Kaum ‘Aad merupakan kaum yang diberikan Allah berkah tanah yang subur dengan sarana irigasi yang baik. Kaum ini memiliki peradaban yang tinggi dan unggul dalam banyak bidang, seperti pertanian dan orang-orangnya yang cerdas di bidang arsitektur.

Mereka memiliki sumber air yang begitu melimpah yang bisa digunakan untuk menyuburkan perkebunan serta pertanian mereka. Karena berkah itulah kaum ‘Aad mampu mendirikan bagunan dengan menara-menara yang tinggi.

Mereka membangun tempat tinggal yang begitu indah dan megah, serta membangun istana-istana mewah. Kaum ‘Aad merupakan kaum yang tersohor dikalangan kaum yang lainnya. Sayangnya, kemegahan dan kemewahan tersebut membuat kaum ‘Aad menjadi lupa diri.

Mereka hanya menuruti hawa nafsu mereka saja dan tak pernah kenal puas. Mereka merasa hidup mereka makmur karena dewa-dewa yang telah melindungi mereka dan memberikan mereka berkah yang begitu melimpah. Patung-patung mereka buat dan mereka beri nama sekeinginan mereka lalu setelahnya mereka sembah patung-patung tersebut.

Baca Juga:  Berdakwah dengan Ilmu Dangkal Pasti Intoleran

Banyak hal bodoh yang mereka lakukan. Mereka memiliki kekayaan namun tidak memiliki cukup kecerdasan spiritual untuk mengenal Tuhannya. Perilaku kaum ‘Aad sudah melampaui batas dengan melupakan Sang Pencipta mereka.

Karena perilaku ingkar yang dilakukan kaum ‘Aad, Allah kemudian mengutus seorang Nabi untuk menyampaikan kebenaran kepada mereka. Ialah Nabi Hud yang kala itu dipercayakan Allah menyempaikan kebenaran kepada kaum ‘Aad.

Tertulis pada al-Quran Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 65 yang berbunyi, “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

Nabi Hud merupakan seorang Nabi yang memiliki sifat yang sabar namun tegas dalam berpindirian. Dengan kerasnya hati kaum ‘Aad, Nabi Hud sangat sabar menghadapi perilaku tersebut. Sayangnya Nabi Hud tidak berhasil membukakan mata hati para kaum ‘Aad, mereka mengabaikan, melecehkan serta menindas Nabi Hud yang dianggap menentang tuhan yang mereka buat.

 

Karena tidak kapok-kapoknya Nabi Hud menyampaikan kebenaran yang dibawanya, kaum ‘Aadpun merasa terganggu akan kehadiranNya ditengah mereka. Kaum tersebut akhirnya menantang Nabi Hud untuk memohon agar Nabi Hud meminta kepada Allah memberikan azab kepada mereka.

Hal itu dilakukan mereka karena mereka meyakini patung yang mereka buat akan mampu untuk menyelamatkan mereka dari bencana apapun yang ada di muka bumi ini. Karena kesombongan dan kebodohan yang dimiliki kaum ‘Aad, akhirnya Allah mengabulkan azab yang diturunkan oleh kaum yang sombong dan angkuh ini.

Allah menimpakan azab kemarau yang sangat panjang hingga tiga tahun lamanya. Karena kemarau yang begitu panjang membuat sumber air yang mereka miliki menjadi kering dan kemarau inipun membuat mereka kehilangan lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber pendapatan utama mereka.

Baca Juga:  Gelombang Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara

Setelah kemarau yang berkepanjangan yang dirasakan kaum ini, Nabi Hudpun  kembali menyerukan agar mereka mau beriman kepada Allah yang telah membuktikan dengan azab kemarau yang diturunkannya.

Sebagai ganti keimanan mereka, Nabi Hud menawarkan hujan yang deras untuk tanah mereka yang mengering. Dan mengembalikan lagi kekuasaan serta kekayaan yang mereka miliki dulu.

Namun sayangnya, kerasnya hati kaum ‘Aad membuat mereka enggan mempercayai ucapannya. Maka murka Allahpun kembali kepada mereka. Maka, datanglah awan hitam yang menyelimuti tempat tinggal kaum A’ad.

Namun bukan takut yang mereka rasakan, melainkan syukur karena mereka menganggap bahwa awan hitam yang datang merupakan pertanda hujan akan turun dan kembali menyegarkan lahan pertanian dan perkebunan mereka setelah mengalami kemarau panjang.

Maka datanglah angin yang berhembus dengan kuat. Lahan pertanian, perkebunan serta bangunan yang mereka milikipun hancur. Azab yang ditimpakan Allah kepada mereka kali ini mampu membuat mereka ketakutan. Namun sayangnya, Allah telah murka oleh kaum yang telah diberi kesempatan bertaubat selama tiga tahun ini.

Bencana angin ini berlangsung selama delapan hari tujuh malam. Kaum ‘Aad tewas bergelimpangan. Allah berfirman, “Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu liat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al-Haqqah: 6-8)

Kaum A’ad merupakan gambaran sebuah kaum yang terbuai akan kemewahan dan kekayaan sampai melupakan Allah. Pada akhirnya merekapun mendapatkan kehidupan yang menyedihkan. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah Kaum A’ad, untuk selalu bersyukur dan menghindari sikap angkuh serta sombong. Kekayaan dan kemegahan bukan suatu jaminan keselamatan jika tertutupi keangkuhan diri.

Baca Juga:  Doa dan Harapan: Jangan Putus Asa, Allah Lebih Tahu Pilihan yang Terbaik

 

Bagikan Artikel ini:

About Indah Fauziah

Avatar of Indah Fauziah

Check Also

hukum tanam benang

Hukum Tanam Benang untuk Kecantikan, Bolehkah?

Dunia kecantikan tak henti-hentinya berinovasi dengan berbagai metode yang membuat para kaum hawa semakin bisa …

KDRT

KDRT Harus Didiamkan karena Aib Pasangan?

Dalam berumah tangga pasti kita tidak akan terlepas dari masalah yang melibatkan konflik antar pasangan. …