Pada suatu hari di jalanan kota Madinah, ada seorang pedagang madu yang sedang menawarkan barang dagangannya itu. Layaknya seorang pelanggan, sahabat Nabi yang bernama Nu’aiman memanggil pedagang madu itu dengan melambaikan tangan. Lalu Nu’aiman berkata, “Tuan, sahabatku ingin membeli madu darimu dan itu rumahnya,” sambil menunjuk rumah Rasulullah yang tidak jauh dari jalanan itu.
Tanpa berfikir panjang, sang pedagang memberikan madu itu tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Lalu madu itu dibawa oleh Nu’aiman menuju rumah Rasulullah. Sesaat sampai di dalam rumah Rasulullah, ia dipersilahkan masuk lalu ia menyodorkan madu itu kepada Rasulullah sembari berkata, “Wahai Rasulullah, ini aku bawakan madu untukmu, terimalah sebagai hadiah dariku.”
Rasul pun menerimanya dengan senang hati, tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun. Sementara Nu’aiman terlihat buru-buru pamit pulang. Ketika sudah pamit dan keluar dari rumah Rasul, Nu’aiman menghampiri pedagang madu yang masih berdiri tegap di ujung jalan.
Dengan tenang Nu’aiman berkata kepadanya, “Maaf, tuan, aku akan pergi dulu, ada urusan penting yang harus aku selesaikan sekarang. Sebentar lagi sahabatku akan keluar untuk membayar madumu.”
Kemudian Nu’aiman bergegas pergi meninggalkannya seorang diri. Sedangkan pedagang itu sendiri juga tampak kebingungan karena tidak tahu siapa yang ada di dalam rumah itu.
Setelah cukup lama menunggu di luar, ternyata pemilik rumah itu tidak kunjung keluar. Karena merasa kesal, ia pun beranikan untuk mengetuk pintu rumah itu dengan keras dan berteriak sekuat tenaga. “Wahai penghuni rumah, madu saya belum dibayar. Cepat segera bayar!”
Sontak saja teriakan itu membuat Rasulullah kaget dan kebingungan. Akhirnya beliau baru menyadari bahwa sedang dikerjai oleh Nu’aiman. Beliau pun segera keluar rumah menemui pedagang itu dan memberikan uang. Sang pedagang itupun tampak kaget begitu melihat sosok pemilik rumah itu adalah Rasulullah.
Pada keesokan harinya, Rasulullah bertemu dengan Nu’aiman. Sambil menahan tawa karena teringat kejadian tempo hari, beliau menegurnya, “Nu’aiman sahabatku, apa yang telah engkau lakukan kemarin?”
Dengan tersipu malu, Nu’aiman pun menjawab, “Wahai Rasul, engkau sangat menyukai madu. Maka aku ingin sekali memberikan madu kepadamu sebagai hadiah. Tapi waktu itu, aku sedang tidak punya uang sama sekali untuk membelikanmu madu. Aku hanya bisa mengantarkan madu itu sampai kepadamu. Semoga Allah memberiku hidayah atas kebaikanku ini.” Mendengar jawaban sahabatnya itu, Rasulullah tidak marah, tetapi justru ia mendoakannya sambil sedikit menahan tawa.
Nu’aiman sangat faham bahwa perhatian Rasulullah terhadap madu sangat besar. Diriwayatkan dalam kitab Tajridu as-Sarih di bagian bab at-Thib (obat) karangan Ibnu al-Mubarak ada hadis yang menceritakan bahwa suatu hari ada seseorang sahabat datang kepada Rasulullah yang mengadukan saudaranya sedang mengeluh kesakitan di bagian perutnya. Rasul menyarakan untuk meminum madu.
Sampai ada tiga orang yang mendatangi Rasul di hari itu juga dengan keluhan yang sama. Rasul pun tetap memberikan resep yang sama. Yaitu, “Berilah minuman madu untuknya.”
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah