Sebagian besar orang tua pasti mengharapkan anak-anaknya tumbuh dewasa. Namun, beberapa anak meninggal di usia dini, seperti anak laki laki dari Rasulullah yani Ibrahim bin Muhammad.

Ibrahim adalah Anak terakhir dari Nabi Muhammad dari ibu Maria al-Qibthiyah. Ibrahim lahir pada tahun 8 Hijriah. Namun, Allah mempunyai rencana lain. Ibrahim wafat saat usia dini. Ia meninggal pada tahun 10 Hijriah dalam usia 18 bulan.

Maria al-Qibthiyah tentu menjadi perempuan istimewa di tengah istri-istri Nabi. Hanya dia yang bisa mengandung seorang anak dari Rasulullah setelah Siti Khadijah. Namun, siapa menyangka siapa sebenarnya Maria al-Qibthiyah yang dulunya hanya seorang budak.  

Maria adalah seorang budak yang pernah menjadi hadiah dari Muqauqis sebagai pemimpin Iskandariah. Mariah berbeda dengan hamba sahaya lainnya. Ia memiliki kulit putih dan berparas cantik. Selain itu ia juga berpengetahuan luas. Mariah mewarisi kecantikan ibunya yang merupakan keturunan bangsa Romawi.

Walaupun bekas budak, Rasulullah tidak pernah membedakan Mariah dengan istri-istrinya yang lain. Beliau menempatkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man. Mariyah pun menjadi ibu dari orang-orang beriman (ummul mukminin). Sungguh beruntung, hanya Maria setelah setahun dari pernikahannya dengan Rasulullah akhirnya diberikan anugrah seorang anak dalam kandungannya.

Ketika mengetahui kehamilan Mariah, maka Rasulullahpun merasa sangat bahagia. Di bulan Dzulhijjah tahun kedelapan Hijrah, Mariah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ibrahim bin Muhammad. Kelahiran anaknya menjadikan Mariah sebagai budak yang merdeka sepenuhnya.

Kehadiran Ibrahim mendapat sambutan gembira dari masyarakat Madinah. Dan di hari ketujuh kelahiran, Rasulullah mencukur Ibrahim dan mensedekahkan perak seberat timbangan rambut tersebut. Rambut tersebut kemudian dikubur di tanah.

Rasulullah berharap kelak Ibrahim kecil mendapat berkah seperti Nabi pendahulunya yakni Nabi Ibrahim. Sebagai tradisi masyarakat Arab, maka Ibrahimpun dicarikan ibu susuan yakni seorang perempuan, istri dari tukang pandai besi bernama Abu Saif yang tinggal di perbukitan Madinah.

Dari Anas bin Malik, “Ibrahim tinggal di dataran tinggi Madinah. Rasulullah sering ke sana, dan kami ikut. Beliau masuk ke rumah. Wanita yang menyusuinya adalah istri seorang pandai besi. Rasulullah akan pulang setelah puas menimang Ibrahim.” (HR. Muslim).

Tiada hari tanpa Rasulullah menemui Ibrahim di sisi ibunya, meski terkadang sebentar, sekedar untuk menumpahkan rindu dan cinta. Rasulullah menimang-nimangnya dan menciumnya.

Tetapi kebahagiaan Rasulullah bersama Ibrahim tidak berlangsung lama. Pada usia Sembilan belas bulan, Ibrahim mulai sakit. Sontak Rasulullah dan Mariah menjadi sangat sedih dan sangat menghawatirkan kondisi kesehatan anak semata wayangnya tersebut.

Karena dirasa kondisi Ibrahim semakin parah, maka Rasulullahpun bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”. Tanpa disadari Rasulullah telah bercucuran air mata. Kondisi Ibrahim semakin parah dan atas kehendak-Nya Ibrahim kecil meninggal dunia.

Orang tua mana yang tidak sedih ditinggal si buah hati. Apalagi Rasulullah juga seorang manusia. Rasulullah pernah memiliki dua putra yang kesemuanya meninggal dunia. Pun juga dengan putrinya yang hanya tersisa Siti Fatimah. Sedih adalah manusiawi. Dan menangis adalah ekspresi insani.

Begitu pula Rasulullah yang meneteskan air mata karena kepergian putranya. Beberapa sahabat seolah menyinggung larangan menangisi jenazah. Namun, Nabi SAW bersabda, “Aku tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku  sekarang adalah pengaruh cinta kasih di dalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayang, maka orang lain pun tidak akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.”

Rasulullah mengurus sendiri jenazah Ibrahim dan menshalati dengan takbir empat kali. Ibrahim dimakamkan di Baqi bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari. Namun sayangnya, banyak orang lalu menghubungkan kematian Ibrahim dengan gerhana matahari yang terjadi di kala itu.Namun, Rasulullah bersabda kepada setiap umatnya bahwa, “Gerhana bulan dan matahari tidak terjadi karena kematian atau hidupya seseorang.”

Ibrahim tentu menjadi bagian dari sejarah Rasulullah. Pun juga meninggalkan banyak peninggalan ajaran, pelajaran dan pesan Rasulullah dalam merawat anak. Bagaimana memberikan nama anak yang baik, akikah anak, mencukur rambut hingga mensedekahkan harta saat kelahiran seorang anak. Termasuk pelajaran penting jika kesedihan ditinggal seorang yang dicintai tidak terlalu berlebihan, tetapi tangis adalah tindakan manusiawi sebagai ekspresi cinta dan kasih sayang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.