Membelah Bulan
Membelah Bulan

Ketika Rasulullah Membelah Bulan, Mampukah Mukjizat Dirasionalkan?

“Bahwa orang-orang Makkah meminta utusan Allah untuk menunjukkan kepada mereka mukjizat, dan ia menunjukkan kepada mereka pemisahan bulan.” (Sahih Al-Bukhari). 

Secara kasat mata dan kajian ilmiah ketika mendengar cerita Nabi membelah bulan pasti semua akan menolak. Mereka mengatakan akal sehat tidak mampu menjangkau fenomena itu. Kenapa ukuran mukjizat harus dengan akal? Kenapa setiap yang tidak masuk akal dan tidak mampu digapai rasio berarti tidak ilmiah?

Sebagaimana diketahui salah satu dari tujuh mukjizat yang dikaruniakan Allah kepada Rasulullah adalah membelah bulan menjadi dua bagian. Di suatu malam di daerah Syam terdapat seorang Raja bernama Habib bin Malik, ia merupakan sosok raja penyembah berhala.

Suatu ketika raja Habib datang ke kota Makkah bersama rombongannya untuk bertemu Rasulullah. Beliau mendengar dari beberapa rakyatnya mengenai dakwah yang di sampaikan Rasulullah. Saat di perjalanan ia bertemu dengan Abu Jahal, seorang petinggi Quraisy yang sangat tidak menyukai dakwah Muhammad. Maka Abu Jahalpun menyarankan kepada rombongan sang raja untuk menayakan keberadaan Muhammad kepada Bani Hasyim. 

Maka rombongan sang rajapun mulai mencari keberadaan Bani Hasyim. Setelah bertemu, raja tersebut lalu bertanya perihal pria seperti apakah Muhammad itu kepada salah seorang dari Bani Hasyim. Orang tersebut kemudian menjelaskan bahwasanya di masa kecil Rasulullah merupakan anak yang bisa dipercaya, jujur, dan baik budi. 

Dan ketika menginjak usia 40 tahun, Muhamad mulai mengenalkan agama baru yang dianutnya. Muhammad mulai menghina tuhan-tuhan kami. Dia menyebarkan agama yang bertentangan dengan agama yang diwariskan oleh nenek moyang kami. Mendengar penjelasan tersebut, raja Habib merasa dilecehkan oleh Rasulullah. Maka iapun memerintahkan prajuritnya untuk membawa Rasulullah ke hadapannya. 

Baca Juga:  Paganisme Arab dan Cara Rasulullah Mengembalikan Khittah Teologis Arab

Bersama dengan Abu Bakar, Rasulullah mendatangi sang raja. Ada ke khawatiran umat-umat Rasulullah ketika tau Beliau melakukan perjalanan ke Athbah untuk menemui raja Habib. Tanpa di sangka-sangka, ternyata perlakuan raja Habib kepada Rasulullah sangat berbeda dengan petinggi Quraisy.

Rasulullah ternyata mendapatkan sambutan ramah dari sang raja dan dipersilahkan duduk di kursi yang terbuat dari emas. Sang rajapun berkata kepada Rasulullah, perikhal kerasulannya dan mukjizat apa yang dimilikinya. Namun Rasulullah malah membalikkan pertanyaan untuk sang raja, “Mukjizat apa yang tuan inginkan?”

Raja Habib mengutarakan keinginannya bahwa iapun ingin melihat matahari yang mampu ia tenggelamkan atau munculkan bulan di siang hari dan sang raja juga menginginkan Rasulullah untuk membelah bulan itu menjadi dua bagian. Dan Jika Rasulullah mampu melakukan apa yang dimintanya, maka ia dan rakyatnya akan mengakui kenabian Muhammad.

Mendengar pernyataan tersebut, Rasulullahpun menyanggupi apa yang diminta sang raja Habib. Beliaupun mulai untuk meminta pertolongan dari Allah untuk memenuhi permintaan tersebut. Pada waktu itu, matahari sedang beranjak senja. Rasul kemudian berdoa agar bulan segera terbit.

Maka terbitlah bulan dengan sinar yang benderang. Kemudian terjadilah peristiwa Rasul membelah bulan. Dua jari Rasul kemudian mengisyaratkan supaya bulan turun kepadanya, tak lama kemudian terlihat ada sekelompok awan yang turun mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah. Maka seketika Rasulullah pun membelah bulan menjadi dua dan kembali menyatukannya.

Sang raja mulai merasa takjub dan terguncang hatinya. Ia tidak pernah berfikir akan mendapati fenomena yang semustahil itu. Sang raja menyadari hal tersebut tidak mungkin terjadi pada manusia biasa.  Selain itu Rasulullah juga menebak bahwasanya sang raja memiliki seorang putri yang cacat, dan atas kehendak Allah, kini putrimu telah sembuh menjadi putri yang sempurna.

Baca Juga:  Ummu Umarah : Mujahid Perempuan yang Menjadi Perisai Rasulullah

Raja Habibpun terbelalak ingin segera menemui putri yang ia sayangi. Iapun tidak lupa menyatakan keimanannya terhadap agama yang dibawa Rasulullah. Iapun berseru; “Ketahuilah, sesungguhnya aku bersaksi: tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu baginya; dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah utusannya!”.

Merasa kalah, maka Abu Jahalpun berbicara kepada sang raja, bahwa sebenarnya apapun yang dilakukan Muhammad merupakan sihir belaka, dan ia telah beriman kepada tukang sihir yang ada di kota Makkah. Tanpa memerdulikan ucapan Abu Jahal, sang rajapun kemudian berpamitan untuk pulang ke istananya.

Pertanyaannya, apakah Nabi benar-benar membelah bulan atau sekedar sihir seperti keraguan Abu Jahal? Lalu, jika tidak pernah terjadi kenapa Raja Habib sangat yakin dengan kebenaran Islam dan memilih beriman? Pertanyaan itu akan kita balikkan apakah kita memilih pandangan Abu Jahal atau Sang Raja.

Bukan sekedar membelah bulan. Dalam takaran akal peristiwa isra dan mikraj Nabi jelas tidak bisa ditangkap oleh akal pikiran manusia. Betapapun mukjizat ingin diletakkan dalam tataran rasio akan selalu gagal. Karena itu adalah wilayah keyakinan yang membutuhkan hati bukan sekedar akal pikiran.

Mukjizat adalah hal berharga yang didapatkan para Nabi pada masanya untuk meneguhkan keimanan yang ragu. Bukan untuk meragukan mukjizat dengan akal pikiran.

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar