kesederhanaan KH hasyim asyari

Khutbah KH. Hasyim Asy’ari Menyikapi Penghinaan terhadap Islam dan Nabi

Memang penghinaan terhadap agama Islam dan Nabi bukan hanya terjadi saat ini. Mulainya sejak era Nabi di Makkah dan terus berlanjut dari masa ke masa. Termasuk pada masa KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang ulama Nusantara pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU) dengan massa terbesar di Indonesia.

Sejak dulu fenomena penghinaan terhadap Islam dan Nabi sudah ada. KH Hasyim Asy’ari merasa sangat prihatin terkait penghinaan kepada baginda Nabi yang terus saja muncul tak henti di media-media cetak dan mimbar-mimbar pidato.

Tuangan keprihatinan itu beliau sampaikan Pada muktamar NU ke -15 di Surabaya tanggal 9-15 Desember 1940 bertepatan dengan tanggal 10-15 Dzulqo’dah 1359 H. Pada khutbah pembuka (iftitah), kiai asal Jombang ini menyampaikan beberapa poin penting terkait dunia yang sedang dilanda krisis perang dunia ke- 2. Juga keprihatinan beliau terkait penghinaan kepada Nabi Muhammad yang sedang terjadi.

KH. Saifuddin Zuhri menulis penggalan khutbah KH. Hasyim Asy’ari tersebut dalam bukunya Berangkat dari Pesantren sebagai berikut:

Ujian bagi kita belumlah reda. Kini semakin terasa betapa semakin hebatnya usaha musuh-musuh Islam hendak memadamkan cahaya Allah SWT. Berulang-ulang kali melalui media pers dan mimbar-mimbar dilancarkan serangan penghinaan terhadap junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Kami sudah mendesak kepada pemerintah (Hindia-Belanda) agar menempatkan satu fasal dalam peraturan perundang-undangan tentang hukuman bagi orang-orang dan golongan dari manapun datangnya yang menyerang kesucian Islam, serta penghinaan terhadap Nabi besar Muhammad SAW. Tetapi, teriakan kita itu hilang lenyap bagaikan teriakan di padang pasir.

Maka sekarang tidak ada jalan lain, kita langsung memohon kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pendengar dari Pemohon segenap hamba-Nya!“.

Baca Juga:  Revolusi Akhlak Dimulai dengan Tawadhu’

Penggalan khutbah KH. Hasyim Asy’ari ini, memberitahukan kepada kita yang ada di Indonesia dan seluruh umat Islam di planet bumi untuk menyikapi pelecehan terhadap agama Islam dan penghinaan kepada baginda Nabi yang dilakukan oleh Presiden Prancis Immanuel Marcon dan majalah Prancis Charlie Hebdo dengan cara-cara yang konstitusional. Melalui pernyataan sikap menuntut hukuman bagi pelaku sesuai dengan aturan undang-undang internasional.

Jika dengan cara demikian tidak didengar, maka tidak ada jalan lain selain berdoa kepada Allah, memasrahkan sepenuhnya kepada-Nya. Di dunia, pelaku penghinaan kepada agama Islam dan Nabi bisa saja lolos dari jeratan hukum dan undang-undang, akan tetapi kelak di akhirat Allah akan membalasnya seperti Dia menceritakan Abu Lahab dalam Al Qur’an.

Umat Islam memang selalu diuji dengan provokasi dan upaya memecah belah. Namun di tengah badai provokasi itu umat Islam tidak boleh menunjukkan sikap yang bisa membenarkan tujuan mereka. Mereka ingin memancing kemarahan dan memantik kekerasan.

Umat Islam harus berani menyuarakan untuk membela Islam dan Nabi. Namun, bagaimanapun pembelaan tidak boleh mengandalkan kekerasan dan mudah terprovokasi. Kesatuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia mengecam Macron sejatinya sudah menunjukkan kekuatan Islam itu sendiri. Jangan nodai persatuan Islam saat ini dengan tindakan yang merusak citra Islam.

Mari tetap bersuara lantang dan selalu berdoa. Karena doalah senjata dan kekuatan Islam yang sebenarnya selain ikatan persatuan dan persaudaraan seluruh umat Islam.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

puasa dzulhijjah

Istri Puasa Sunnah 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Tanpa Ijin Suami, Inilah Pendapat Ulama Madzhab

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam al …

Pernikahan beda agama

Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Islam dan Negara

Pernikahan beda agama kembali menjadi polemik dan perbincangan hangat publik Indonesia. Topik ini semakin hangat …