khutbah nabi
khutbah

Jangan Ngeyel, Khutbah Nabi Itu Singkat, Ini Dalilnya!

Beberapa hari lalu, Wadah Silaturrahmi Khatib Indonesia (Wasathi) mewacanakan usulan khutbah di masjid-masjid di seluruh Indonesia dibatasi hanya 15 menit. Di antara alasannya adalah agar jamaah lebih khusyuk mendengarkan dan menangkap khutbah.

Sebenarnya, ketentuan khutbah singkat itu sudah dipraktekkan oleh Nabi. Hal itu terlihat, diantaranya dalam sebuah riwayat dari Jabir bin Samurah As-Suwaiy, bahwa beliau berkata,

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ

Artinya : “Rasulullah Saw biasa memberi nasihat ketika hari Jumat (khutbah) tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud, no. 1107.)

Dalam lain kesempatan, juga terdapat suatu riwayat yang bisa menjadi contoh untuk kita terkait menyampaikan khutbah.  Pada suatu kesempatan, sebagaimana disampaikan oleh Abu Wa’il, bahwa ada sahabat Nabi bernama ‘Ammar sedang khutbah. Khutbahnya sangat singkat sehingga ditergur oleh sahabat lain karena singkatnya khutbah yang ia sampaikan.

Mendapatkan masukan itu, ‘Ammar menyampaikan bahwasannya apa yang ia jalankan itu berdasarkan kebiasaan rasulullah. Lalu ia berkata bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ  فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً

Artinya : “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Khutbah yang singkat tidak selalu menunjukkan bahwa sang khatib tidak kompeten atau penguasaan ilmunya kurang mendalam. Anggapan bahwa singkatnya khutbah berbanding lurus dengan tingkat pemahaman sang khotib ini memang sudah melekat pada masyarakat. Padahal tidak demikian. Inilah yang salah kaprah. Jangan samakan khutbah dengan forum ilmiah atau majlis ta’lim. Jangan ngeyel. Singkatnya khutbah justru mencerminkan bahwa sang khotib itu paham agama.

Baca Juga:  Mendidik Akhlak Anak dengan Membiasakan Dzikir

Memang, anjuran khutbah singkat ini tidak boleh dimaknai secara dangkal. Artinya, khutbah singkat itu harus memperhatikan beberapa hal, seperti pembicaraan yang jelas dan padat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam suatu riwayat:

Dalam riwayat lain,

‎وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ

Artinya : “Tetapi beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang dan jelas. Orang yang duduk menghadap beliau akan mudah menghafal perkataan beliau.” (HR. Tirmidzi).

Khutbah singkat ini juga selaras dengan tuntutan keadaan, di mana banyak jamaah yang mengantuk atau bahkan tidak fokus dan menghayati khutbah yang disampaikan sang khotib. Pada kondisi inilah, khutbah singkat bisa menjadi solusinya. Harapannya, jamaah bisa memahami apa yang disampaikan oleh sang khotib dan tentunya bisa mengamalkannya.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Ali Mashum

Avatar of Ahmad Ali Mashum

Check Also

nasionalisme bencana

Benarkah Nasionalisme Bencana bagi Islam?

Dalam acara Kajian Online Afkar Islam: Islam dan Nasionalisme pada 30 Agustus 2021 kemarin di …

dalil nasionalisme

Tafsir QS. al-Baqarah Ayat 126: Basis Dalil Nasionalisme dalam Islam

Tidak lama lagi, tepatnya tanggal 17 Agustus 2021, segenap penduduk republik ini akan merayakan hari …