Kisah Nabi Musa Ingin Menyaksikan Keadilan Allah

0
146

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 216)

Terkadang persepsi jelek, buruk sangka kepada Allah meliputi pikiran dan perasaan seseorang. Terlalu lemah untuk mengimani keadilan Allah. Walaupun senyatanya keadilan yang paling adil hanya pencipta yang memilikinya.

Apa yang terjadi dan terpampang di depan mata merupakan keadilan Allah yang ditunjukkan pada hambanya. Namun, karena terbatasan pandangan ‘ain al basyirah, pandangan mata hati atau mata bathin, kerap menyangka peristiwa tersebut sebagai fenomena biasa.

Apa yang dialami Nabi Musa layak untuk direnungkan. Suatu ketika Nabi Musa bermunajat di bukit Thursina. Dalam ‘uzlahnya ia berdoa, “Ya Allah, tunjukkanlah keadilanmu kepadaku!” Menjawab doa Nabi musa Allah pun berfirman kepadanya, “Jika Aku menampakkan keadilanKu kepadamu, engkau tidak akan sabar dan tergesa-gesa menyalahkanKu”.

Musa menjawab sindiran ini dan berkata, “Dengan taufikMu”, “Aku akan bersabar menerima dan menyaksikan keadilanMu”. Lalu Allah mengabulkan permintaan Musa. Firman-Nya, “pergilah engkau ke sebuah mata air. Bersembunyilah engkau di dekatnya dan saksikan apa yang akan terjadi”!

Bersegera Musa menuju mata air yang ditunjukkan oleh Allah kepadanya. Setelah memperhatikan keadaan beberapa saat, Musa bersembunyi di tempat yang terlindung dan aman dari pandangan seandainya ada seseorang mengambil air di sumber mata air tersebut. Dengan perasaan agak tegang, dari tempat yang tersembunyi itu ia menunggu apa yang akan terjadi.

Kemudian, tak berselang lama dari kedatangan Musa ke tempat tersebut, datanglah seorang penunggang kuda. turun dari kudanya, mengambil air dan minum. Kalau ditilik dari penampilannya yang serba mewah, ia orang kaya. Membawa sekantong uang. Diletakkannya kantong yang berisi uang tersebut di pinggir mata air. Dengan tergesa-gesa ia pergi sehingga lupa membawa uang yang disimpannya.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang anak kecil untuk mengambil air. Ia melihat sekantong uang di tempat itu, hatinya girang, lalu mengambilnya dan langsung pergi.

Setelah anak itu pergi, datanglah seorang kakek buta. Ia mengambil air untuk minum, berwudhu dan sholat. Setelah si kakek selesai sholat, datanglah penunggang kuda tadi bermaksud mengambil uangnya yang tertinggal. Ia kecewa karena uangnya telah raib dan hanya menemukan kakek buta itu sedang berdiri dan akan segera beranjak pergi.

Dengan kasarnya, penunggang kuda berkata, “Wahai kakek tua, kamu pasti mengambil kantongku yang berisi uang”! Tuduhan itu mengalir dengan enteng seakan memang kakek tua tersebut yang mengambilnya. Kakek tua itu tersentak dan kagetnya bukan kepalang. Ia berkata, “Bagaimana saya dapat mengambil kantong Anda, sementara mata saya tidak dapat melihat?” Ketegangan terjadi. Penunggang kuda berkata sambil menuding dan membentak, “Kamu jangan berdusta. Tidak ada orang lain disini selain dirimu”. Setelah bersitegang, akhirnya penunggang kuda kehilangan kesabarannya, kakek buta itu dibunuhnya. Kemudian, ia menggeledah baju si kakek, betapa kecewanya, ia tidak menemukan uang yang dicarinya.

Melihat kejadian tersebut nabi Musa serasa akan keluar dan tempatnya bersembunyi. Akan tetapi, keinginannya di tahan, ia lalu bertanya kepada Allah, “Ya Allah, hamba sungguh tidak sabar melihat kejadian ini. Namun hamba yakin Engkau Maha Adil. Mengapa kejadian itu bisa terjadi”?

Allah mengutus malaikat Jibril untuk menjelaskan apa yang terjadi. “Wahai Musa, Allah Maha Mengetahui hal-hal gaib yang tidak engkau ketahui. Ketahuilah, anak kecil yang mengambil sekantong itu sebenarnya mengambil haknya sendiri. Dahulu, ayahnya pernah bekerja pada si penunggang kuda, tetapi jerih payahnya tidak dibayarkan. Jumlah yang harus dibayarkan sama persis dengan yang diambil anak itu. Sementara si kakek buta adalah orang yang membunuh ayah anak kecil itu sebelum ia mengalami kebutaan”.

Demikianlah, Allah menunjukkan keadilannNya kepada Musa. Contoh kecil keadilan Allah terhadap makhluknya. Manusia terkadang sering berburuk sangka kepada Allah, sering merasa mengapa hanya dirinya yang diberi kesulitan oleh Allah, sementara orang lain tampak selalu mendapat kebahagiaan dan kesenangan. Mengapa begitu sulit mencari nafkah, misalnya, namun orang lain begitu mudahnya mendapatkan kekayaan materi.

Sering, karena keterbatasannya, manusia tidak mampu membaca keadilan Allah secara tepat. Menganggap Allah tidak adil karena keputusanNya, terasa janggal dan merugikan diri kita. Kisah ini membuka ruang hati, bahwa Allah Maha adil kepada hambanya, juga kepada semua makhluk ciptaanNya.

Wallahu A’lam