Awal tahun 2021 Indonesia berwajah suram. Berbagai musibah terjadi. Banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim dan gempa bumi mengoyak dan memporak-porandakan beberapa kawasan negeri ini. Entah mengapa alam begitu tidak bersahabat? Tak terkira kerugian yang diderita dan tak terukur perih siksa korban bencana.
Yang sering jadi pertanyaan, apakah musibah yang melanda adalah siksa atau ujian kepada kita? Kunci jawaban untuk pertanyaan ini pada ujungnya hanya menyisakan satu pilihan jawaban, yakni bersabar atas semua musibah yang terjadi. Pasca musibah hanya tawakkal yang bisa dilakukan. Sebab perjalanan waktu tidak akan bisa ditarik ke depan, menyesal tidak bisa diandalkan.
Menghadapi segala musibah yang terjadi, ada baiknya kita kembali ke masa dulu, pada masa Nabi dan juga sahabatnya. Belajar dari kisah mereka disaat ditimpa musibah.
Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dimuat satu hadis yang menceritakan musibah gempa bumi yang terjadi di Madinah.
Dari Hafs, dari Laits, dari Syahr, beliau menyatakan, “Pada masa Nabi kota Madinah pernah mengalami goncangan. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah mengingatkan kalian, maka ingatlah kepada Allah”.
Peristiwa yang sama juga pernah terjadi pada masa Umar bin Khattab. Kisahnya didokumentasikan dalam kitab Istidzkar. Di masa Sayyidina Umar, Madinah dihantam gempa bumi sampai pagar bergerak. Umar kemudian berdiri seraya memuji Allah. Setelah itu, Umar berkata, “Bepata cepatnya apa yang kalian perbuat. Demi Allah, jika gempa terjadi lagi, saya akan keluar dari sisi kalian”.
Umar berkata demikian karena mensinyalir adanya kemaksiatan yang telah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Bila ditelusuri lebih jauh, ungkapan beliau ternyata berdasar pada sebuah hadis seperti termuat dalam Al Mustadrak ‘ala al Shahihain. Dalam hadis yang sangat panjang tersebut, Aisyah menyatakan bahwa Allah akan memerintahkan bumi untuk bergerak bila penghuninya telah menghalalkan zina dan minuman keras. Kemudian Allah memerintahkan bumi untuk berhenti bergerak bila penghuninya telah bertaubat. Namun jika mereka tidak bertaubat, maka gempa akan menghancurkan dan meluluh lantakkan mereka.
Sahabat Anas bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah ini hukuman”? Aisyah menjawab, “Ini adalah rahmat, berkah, nasihat serta pelajaran bagi orang mukmin dan adzab bagi orang kafir”.
Umar bin Khattab sejatinya mengajarkan kepada umat Islam kala itu untuk introspeksi diri dari kesalahan yang diperbuat. Evaluasi diri untuk membenahi kesalahan yang telah dilakukan dan memperbaiki tatanan alam dan moral yang telah terkoyak. Dalam al Qur’an telah jelas bahwa semua kerusakan di bumi sebab ulah manusia.
Bagi umat Islam, apa yang sebaiknya dilakukan bila ada saudaranya yang terkena musibah?
Nabi bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang mukmin, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa membantu orang yang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib orang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan melindungi hambanya selama hambanya menolong saudaranya”. (HR. Muslim).
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah