Abu Bakar
Abu Bakar

Tangis Haru Umar bin Khattab Keluar Ketika Tahu Abu Bakar Selalu Melakukan Hal Ini

Kita tahu Umar bin Khattab adalah sahabat yang tegas dan pemberani. Makanya beliau ditakuti banyak orang. Bahkan setan sekalipun takut kepada Umar. Dilihat dalam sejarahnya, karakter Umar bin Khattab terbilang kuat dan keras. Baik ketika belum masuk Islam maupun sudah menjadi muslim.

Dalam banyak kisah, sahabat Umar bin Khattab ketika menghadapi suatu hal, pasti beliau selalu mengandalkan akal dan fisik. Artinya jika tak bisa diselesaikan secara baik-baik, maka opsi terakhirnya adalah adu fisik. Itulah yang tergambar dalam fikiran kita mengenai watak khalifah kedua itu.

Terlepas dari watak atau karakter yang tegas itu, Umar bin Khattab juga terekam beberapa kali menangis terharu ketika menyaksikan suatu hal yang menyentuh hatinya. Inilah sebenarnya bukti bahwa Umar bin Khattab juga memiliki hati yang lembut. Salah satu contoh menangis harunya Umar bin Khattab ketika melihat tempat tidur nabi SAW di rumahnya yang keras dan tentunya tidak nyaman.

Selain contoh di atas, Umar bin Khattab pun beberapa kali menangis haru bercampur takut ketika mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang adzab. Menangisnya Umar selain bukti lemah lembut hatinya, juga karena kepedulian sosialnya tinggi. Hal ini sebagaimana beliau melihat sahabat seperjuangannya, Abu Bakar yang saat itu menjabat sebagai khalifah melakukan suatu hal wujud kepeduliannya kepada umat Islam yang membutuhkan.

Ceritanya berawal ketika suatu hari, Umar bin Khattab tak sengaja melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq di waktu fajar. Umar pun kemudian tertarik mengamatinya. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh, Abu Bakar ternyata mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya.

Baca Juga:  Ternyata, Nabi Sering Shalat Tarawih di Rumah Bersama Keluarganya

Umar bin Khattab yang memang mengamatinya dari kejauhan, beliau tentu tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu, dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sebagai salah seorang terdekat Abu Bakar, Umar jelas mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk yang diamatinya tersebut.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar pun diam-diam tetap mengamati, namun masih belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai pada suatu hari, saking penasarannya, Umar bin Khattab memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya.

Umar bin Khattab nampaknya ingin sekali menyaksikan apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Biar tak ada prasangka-prasangka yang kurang baik menyelimutinya. Beliau ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.

Setelah Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapati seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar langsung tercengang dengan apa yang dilihatnya. Beliau kemudian ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan khalifah Abu Bakar .

Umar bertanya: “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini selama ini?”.

Nenek tua itu menjawab: “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Lalu setelahnya dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Umar menekuk kedua lututnya, keluarlah tangis harunya. Kemudian ia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu.” (maksudnya, khalifah berikutnya sesudah kekhalifahan Abu Bakar harus bekerja lebih keras, agar mampu menandingi kualitas kepedulian sosial kekhalifahan Abu Bakar AS).

Baca Juga:  Belajar dari Khalifah Umar Membangun Kemegahan Islam

Sungguh luar biasa, Abu Bakar, seorang Khalifah yang mampu melakukan tugas pemerintahan dan kemanusiaan dengan sama-sama baiknya. Di kemudian hari, Umar bin Khattab saat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar meneladani kepedulian beliau dengan sering ‘blusukan’ di pinggiran kota Madinah pada malam hari.

Hal di atas beliau lakukan karena untuk mengetahui secara langsung keadaan warga-warganya yang kemudian beliau bantu kesusahannya. Selain itu, dengan penyamaran saat ‘blusukan’, Umar mendapatkan saran dan kritik yang membangun dari warga-warganya. Kinerja dan akhlak pemimpin-pemimpin awal Islam memang patut kita teladani.

Bagikan Artikel

About M. Alfiyan Dzulfikar