quran dan pancasila
quran dan pancasila

Al-Quran atau Pancasila? : Menguji Sehatnya Nalar Beragama dan Berbangsa

Salah satu poin pertanyaan tes wawasan kebangsaan yang terus digoreng oleh media terkait alih status pegawai KPK adalah pilih al-Qur’an atau Pancasila. Kontroversi ini mulai merebak kembali ketika Mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah, menyoroti salah satu pertanyaan TWK di akun Twitternya, @febridiansyah, Selasa (1/6/2021).

Sontak persoalan ini kembali menjadi umpan untuk dikomentari oleh beberapa kalangan. Salah satunya semisal oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Tidak tanggung-tanggung ia menyebut pembuat soal tersebut tidak punya logika dan tidak sehat otaknya. Pembuat soal menurutnya tidak mengerti Pancasila dan UUD 1945.

Saya justru menilai hal sebaliknya. Silahkan koreksi jika pendapat saya salah dengan cara komentar yang sehat. Saya berpendapat justru pertanyaan tersebut ingin menguji otak sehat kita dalam beragama dan bernegara. Pembuat soal tentu sudah mengetahui jawabannya. Karena posisinya sebagai soal memang seharusnya ia harus menguji nalar kebangsaan dan keagamaan yang diujikan.

Apa yang salah dari pertanyaan pilih al-Quran atau Pancasila sebagai sebuah pertanyaan untuk menguji jawaban seseorang? Sebagai sebuah pertanyaan ia ingin menarik jawaban dari persepsi seseorang dalam menilai hubungan antara Islam dan negara, Pancasila dan al-Quran dalam konteks berbangsa dan beragama. Bukan dengan maksud mempertentangkannya.

Jangan salah, sesungguhnya pertanyaan ini kerap digunakan oleh kelompok radikal untuk meradikalisasi dengan menggunakan ayah tahkim. Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Slogan ini berangkat dari ayat “Barang siapa yang tidak menjalankan hukum Allah maka ia termasuk orang-orang kafir (QS Al-Maidah: 44) yang kerap dijadikan justifikasi kelompok radikal dalam membenturkan antara al-Quran dengan perundangan-undangan dan sistem negara yang ada.

Kelompok radikal tidak akan pernah membagi wilayah antara beragama, berbangsa dan bernegara. Semua aturan harus berlandaskan kepada titah Tuhan melalui kitab suci. Mereka selalu berada dalam pemikiran mempertentangkan antara kitab suci dan Undang-undang yang ada. Kelompok ini memang ingin meracuni otak umat dengan selalu mempertentangkan antara hal yang tidak selayaknya berada dalam oposisi biner.

Baca Juga:  Sekjen MUI Minta Pemerintah Tak Pukul Rata Terkait Penolakan Pemulangan WNI Eks ISIS

Namun, nalar beragama yang sehat dan nalar berbangsa yang sehat tidak akan pernah terjebak dengan pertanyaan memilih al-Quran atau Pancasila. Namun, bagi individu yang mudah terserang propaganda ayat tahkim yang salah tafsir akan menjadi kebingungan ketika mendapatkan pertanyaan tersebut.

Apakah pertanyaan itu mempertentangkan? Sebagai pertanyaan itu sah dilakukan untuk menerima jawab apakah seseorang mempertentangkan atau justru menjawab ada kesesuaian dan tidak perlu ada pertentangan. Mereka yang terbiasa dan termakan propaganda kelompok yang selalu mempertentangkan akan menjawab mempertentangkan. Namun, mereka yang terbiasa dengan referensi dan pemahaman Pancasila yang sesuai dengan ajaran agama bahkan dengan al-Quran justru tidak akan mempertentangkan.

Ketika ada pertanyaan apakah sifat wajib bagi Rasul itu jujur atau bohong? Apakah pertanyaan ini mempertentangkan? Tentu pertanyaan ini mudah dijawab karena memang untuk menguji nalar keagamaan siswa ibtidaiyah.

Namun, untuk pertanyaan dalam kerangka menguji nalar keagamaan dan kebangsaan, pertanyaan antara Pancasila dan al-Quran adalah pertanyaan yang akan menguji otak yang sehat. Bukan justru otak pembuatnya yang tidak sehat. Tetapi mungkin tulisan ini tidak berpretensi untuk memberikan jawaban dari pertanyaan itu. Karena saya yakin otak yang sehat akan menjawab dan mengomentari dengan jawaban yang sehat dan cerdas.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

khilafiyah

Menyoal Khilafiyah : Kenapa Dalilnya Sama, Tetapi Hukumnya Beda?

Kata Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya al Sawa’iq al Mursalah, “Terjadinya perbedaan di kalangan …

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …