shalat tarawih
masjid nabawi

Seperti Apa Shalat Tarawih Masa Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab?

Ada beberapa hal menarik mengenai shalat tarawih Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayiyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhum. Menariknya, kita akan mengetahui sejarah pelaksanaan shalat tarawih pada zaman kedua sahabat tersebut. Apakah shalat tarawih dilakukan berjamaah atau munfarid (sendirian) pada zaman kedua Khalifah tersebut? Berapa jumlah rakaat yang ideal dalam pelaksanaan shalat tarawih: 8, 11, atau 20 bahkan 36 rakaat?

Sebelum lebih jauh menelusuri kemenarikan shalat tarawih, kita perlu sama-sama mengetahui hukum shalat tarawih. Shalat tarawih merupakan shalat sunnah muakkadah (shalat yang sangat dianjurkan). Hasil riset tim Fazilet Neşriyat dalam Kalender Fazileti bahwanya shalat tarawih bukan merupakan sunah puasa melainkan sunah bulan Ramadan. Orang yang tidak berpuasa karena sebuah halangan tetap harus mengerjakan shalat tarawih selama dia mampu untuk mengerjakannya.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra., pelaksanaan shalat tarawih dilakukan secara  munfarid atau berkelompok tiga, empat, atau enam orang. Di antara para sahabat pun ada yang melaksanakan shalat 8 rakaat kemudian menyempurnakan di rumahnya. Mengutip dari islam.nu.or.id, ada sebuah keterangan bahwa Imam Malik memilih 8 rakaat. Bahkan di kalangan mazhab Maliki pun masih ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) antara 20 rakaat dan 36 rakaat.

Hal demikian sebagaimana Imam Malik bin Anas ra. meriwayatkan hadis bahwa Imam Darul Hijrah Madinah berpendapat shalat tarawih itu lebih dari 20 rakaat sampai 36 rakaat, “Saya dapati orang-orang melakukan ibadah malam di bulan Ramdan (shalat tarawih) dengan 39 rakaat (yang tiga adalah witir).”

Akan tetapi, mayoritas Malikiyyah (pengikut mazhab Imam Malik) sendiri sesuai dengan pendapat mayoritas Syafi’iyyah (pengikut mazhab Imam Syafi’i), Hanabilah (pengikut mazhab Imam Hambali), dan Hanafiyyah (pengikut mazhab Imam Hanafi) sepakat bahwa shalat tarawih ialah 20 rakaat dan ini merupakan ijma’ (kesepakatan oleh para ulama).

Baca Juga:  Begini Cara Luapan Kasih Sayang Nabi Pada Anak Tanpa Melihat Gender

Lain halnya pada masa Khalifah Umar ra., beliau berinisiatif untuk pelaksaannya dilakukan secara berjamaah. Inisiatif ini terekam dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari. Abdirrahman bin ‘Abdil Qari’ keluar bersama Sayiidina Umar ra. ke masjid pada bulan Ramadan. Didapati di dalam masjid tersebut orang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang berjamaah.

Setelah melihat hal tersebut Sayidina Umar ra. berkata,

إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ

“Saya punya pendapat, andai mereka ( shalat tarawih sendiri-sendiri dan ada yang berjamaah) aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus”.

Kemudian Sayyidina Umar mengumpulkan mereka dengan Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. Pada malam berikutnya kami (Sayyidina Umar ra. dengan Abdirrahman bin ‘Abdil Qari)  datang ke masjid kembali melihat orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah dibelakang satu imam.

Kemudian Sayyidina Umar berkata,

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik baiknya bid’ah adalah ini”.

Dikisahkan pula dalam suatu hadis yang diriwayatkan Abu Dawud bahwasanya Abi Hurairah ra. melihat Rasulullah SAW. keluar dan melihat banyak orang yang melakukan shalat di bulan Ramadan (tarawih) di sudut masjid. Kemudian Rasul bertanya kepada Abi Hurairah,

مَا هَؤُلَاءِ ؟

“Siapa mereka?”

Kemudian dijawab,

هَؤُلَاءِ نَاسٌ لَيْسَ مَعَهُمْ قُرْآنٌ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ يُصَلِّي وَهُمْ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai Alquran (tak bisa menghafal atau tidak bisa hafal Aquran).

Kemudian Ubay bin Ka’ab mengimani shalat (tarawih) mereka, lalu Nabi berkata, “Mereka itu benar, dan sebaik-baiknya perbuatan adalah yang mereka lakukan”.

Ketika itu shalat tarawih dilakukan berjamaah dengan 20 rakaat. Seperti dalam hadis riwayat Malik bahwasanya Yazid bin Ruman telah berkata Manusia senantiasa melaksanakan shalat pada masa Umar ra. di bulan Ramadan sebanyak 23 raakaat (20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir)

Baca Juga:  Fikih Puasa untuk Milenial (3) : Mengenal Asal Usul Shalat Tarawih, Ibadah Sunnah dengan Nuansa Syiar Islam

Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa shalat tarawih itu boleh dilakukan sendirian maupun berjamaah. Namun shalat tarawih berjamaah merupakan bentuk inisiatif Sayidina Umar ra. dan ini merupakan sunnah. Karena mengikuti para Khulafaur Rasyidin merupakan sunnah yang secara langsung dideklarasikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Khususnya berkaitan dengan kedua Khalifah tersebut Nabi bersabda,

عَنْ حُذَيْفَةُ هُوَ الَّذِي يَرْوِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِقْتَدُوا بِاَللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ( أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ)ـ

“Dari Hudzaifah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah dua orang setelahku, yakni Abu Bakar dan Umar,” (HR Turmudzi).

Adapun jumlah rakaat dapat kita katakan itu ideal ialah 20 rakaat dan disambung 3 rakaat shalat witir. Sebagaimana yang telah dijelakan sebelumnya, bahwa sudah menjadi ijma’ kesepakatan para ulama.

Bagikan Artikel ini:

About Ridwan Arifin Shoheh

Avatar of Ridwan Arifin Shoheh
Aktivis MATAN DKI Jakarta

Check Also

islam kaffah

2 Tahap Menjadi Muslim Kaffah

Ada 2 tahapan agar kita dapat memahaminya Islam kaffah secara utuh. Sehingga tidak terkesan memaknai islam kaffah secara serampangan.