Kurban

Assalamulaikum Wr Wb.

Ustadz, saya mau bertanya. Ini sudah mendekati pelaksanaan ibadah kurban, tetapi belum akikah, manakah yang perlu didahulukan? Atau bisakah kurban diniatkan juga dengan akikah?

Terima kasih jawabannya ustad

Wassalamualaikum wr wb.

Nindya, Bekasi


Walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih atas pertanyaanya, semoga saudari Nindya selalu diberkahi dan dirahmati Allah.

Kurban adalah ibadah pelengkap Idul Adha. Secara historis keduanya tidak bisa dipisahkan. Kurban yang sering kita saksikan tiap tahun itu barasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat atau mendekati.

Artinya kurban sejatinya didedikasikan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu dalam fikih Islam itu kurban itu adalah binatang ternak yang disembelih yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pelaksanaannya ialah mulai tanggal 10 Dzulhijjah dan berakhir hingga hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).

Ajaran kurban tersebut telah jelas dikemukakan langsung oleh Al Quran dengan firman-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. QS. Al-Kautsar 2”

Kutipan al-Thabari terhadap tafsiran Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud kurban itu adalah menyembelih binatang di hari nahr tanggal 10 Dzul hijjah. Jami’ al-bayan, 24/653.

Dalam pandangan ulama’ fikih. Ada ketidak seragaman dalam memberikan hukum berkurban. Abu Hanifah misalnya menghukumi wajib, sementara Abu Yusuf dan Muhammad, dua muridnya menghukumi sunnah Muakkad. Senada dengan Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad yang menghukumi sunnah. Al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, 4/244-245

Lalu bagaimana dengan akikah? Dalam syari’at Islam, para orang tua dianjurkan untuk mengakikahi putra putrinya, dengan cara menyembelih kambing. Dua kambing untuk laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.

Hukum akikah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan), dan ini adalah pendapat jumhur ulama (Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad) sementara Imam Abu Hanifah menghukumi Mubah. Al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, 4/284-285

Bila ditarik benang merahnya, antara kurban dan akikah sama sama anjuran (sunnah) dengan melupakan fatwa dari Imam Abu Hanifah. Karena sama-sama sunnah, maka keduanya tidak ada yang saling diutamakan atau bahkan keduanya boleh ditinggalkan. Namun melaksanakannya lebih utama dari pada meninggalkannya.

Lalu bagaimana bila keduanya digabung. Berkurban sekaligus diniatkan untuk akikah. Dalam pandangan Madzhab Syafii, ternyata ada perbedaan pendapat. Dalam kitab Hasyiyah al-Qalyubi. Ibnu Hajar al-Haitami memaparkan bahwa menggabung antara kurban dan akikah tidak boleh. Bila dilakukan maka hanya dianggap akikah saja atau kurban saja. Alasan keduanya adalah syari’at yang memiliki latar belakang yang berbeda. Kurban berlatarbelakang ibadah haji sementara akikah latarbelakangnya adalah kelahiran seorang anak.

Sementara pandangan lain dipaparkan oleh Imam Ramli, menurutnya, kurban dan akikah bisa digabung dengan satu niat dan dianggap sah untuk keduanya. Karena keduanya sama sama pekerjaan sunnah dan bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Akikah pendekatan diri dengan cara bersyukur kepada Allah atas karunia kelahiran sang anak.  Sementara kurbanpun demikian. Pendekatan diri kepada Allah dengan cara berbagi. Hasyiyah al-Qalyubi, 4/255

Wallahu a’lam

Wassalamua’alaikum awarhamatullahi wabarakatuh

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo