Mazhab
Mazhab

Lembaga Pendidikan Islam Harus Pelajarari Semua Mazhab dan Adopsi Kurikulum Islam Moderat Al-Azhar

Cilegon – Lembaga pendidikan Islam harus mempelajari semua mazhab guna mencegah radikalisme dan sikap menang sendiri. Untuk itu, Lembaga pendidikan Islam dinilai perlu mengadopsi kurikulum Al Azhar Mesir. Sebagai perguruan tinggi tertua di dunia, Al-Azhar Mesir mengajarkan Islam moderat yang rahmatan lil alamin. Ini penting untuk menyikapi munculnya lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan radikalisme dan anti-Pancasila seperti Khilafatul Muslimin.

““Radikalisme itu berbahaya. Untuk mencegahnya, semua lembaga pendidikan Islam harus mengenalkan mazhab besar,” kata Ketua Alumni Al Azhar Mesir Banten Asep Sofwatullah Lc di Cilegon dikutip dari Antara, Kamis (23/6/2022).

Menurutnya, dalam Islam ada 4 mazhab besar yaitu Mazhab Hambali, Hanafi, Maliki dan Syafii. Dengan mempelajari berbagai mazhab, umat Islam akan lebih toleran dengan memahami dan menghormati perbedaan. Pasalnya masing-masing mazhab memiliki pendapat yang tidak selalu sama dalam menjalankan ibadah.

“Dengan mempelajari mazhab utama, umat Islam menjadi tidak fanatik terhadap satu pemahaman tertentu saja. Jadi tidak ada ngotot-ngototan dan merasa benar sendiri. Ini hal yang terpenting, menumbuhkan sikap tolerasnsi,” kata Asep Sofwatullah yang juga menjabat Sekretaris Camat Bojonegara, Cilegon.

Cara Wudhu misalnya, ada sejumlah perbedaan. Demikian juga Qunut pada saat Salat Subuh dan lain-lain.

“Jadi intinya membentuk umat Islam yang memiliki wawasan luas. Jadi  tidak akan lagi mengkafirkan kelompok lain,” terang Asep Sofwatullah.

Asep mencontohkan sebelumnya antara orang NU dan Muhammadiyah sering terlibat dalam perdebatan yang tidak ada ujungnya terkait pemahaman yang berbeda. Namun belakangan, antar anggota kedua organisasi Islam terbesar Indonesia tersebut jarang muncul perdebatan yang berlarut-larut.

“Ini karena orang Muhammadiyah mempelajari NU, demikian pula orang NU mempelajari Muhammadiyah. Jadi akhirnya saling toleran,” terangnya.

Mengenai Khilafatul Muslimin, Asep Sofwatullah menilai banyak pihak yang menyalahgunakan untuk kepentingan orang tertentu untuk berkuasa.

“Terus siapa yang menjadi khalifah, nanti akan perang terus tak henti berebut menjadi khalifah,” tutur Asep Sofwatullah.

Menurut Asep Sofwatullah, khalifah adalah pemimpin dan Indonesia sudah ada pemimpin yaitu presiden. Dan pemilihan presiden sudah ada mekanisme tertentu yang baku dan diterima semua pihak sehingga tak terjadi perang.

“Khalifah dalam bahasa bahasa Indonesia adalah pemimpin. Indonesia sudah punya pemimpin yaitu Presiden,” tandasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Najib Azca

Muktamar Internasional Fikih Peradaban Bahas Kedudukan Piagam PBB di Mata Syariat Islam

Jakarta- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Muktamar Internasional Fikih Peradaban di Hotel Shangri-La Surabaya, …

Muhammad Irfan Danyal bin Mohamad Nor remaja Singapura rencanakan aksi teror dan dirikan Kekhalifahan Islam

Terinspirasi Zakir Naik dan Video ISIS, Remaja Singapura Rencanakan Aksi Teror dan Diriikan Kekhalifahan Islam

Singapura – Propaganda terorisme di media digital terbukti ampuh menyasar generasi muda. Ratusan bahkan ribuan …

escortescort