Karena bertujuan untuk membentuk pribadi yang bertakwa, Ramadhan menjadi tempat latihan umat untuk menempa diri (muhasabah) menjadi orang yang bertakwa. Ramadhan sebagai madrasah umat Islam memberikan bonus ibadah puasa sebagai perisai. Jika puasa adalah perisai setelah bulan Ramadhan perisai diri itu bernama takwa.

Jika bulan ini ada perisai diri umat berupa puasa, jika bulan ini ada anjuran tarawih yang memotivasi kebersamaan dan berjama’ah, dan jika bulan ini ada kewajiban zakat untuk memupuk sikap peduli, pada bulan-bulan berikutnya hanya konsistensi keimanan Ramadhan yang akan menjadi bekal umat. Konsistensi itulah yang dinamakan takwa.

Ramadhan sekali lagi adalah madrasah yang menempa umat dari hati, pikiran, ucapan hingga tindakan. Bulan ini penuh dengan aturan, norma, nilai dan nuansa yang kerap memotivasi kebaikan. Lalu bagaimana setelah Ramadhan? Apakah umat Islam harus tetap berpuasa? Apakah umat Islam harus tetap mempertahankan shalat berjama’ah? Apakah umat Islam harus berzakat terus setelah Ramadhan?

Menjaga nilai dan nuansa Ramadhan sebenarnya bukan terletak pada menduplikasi ibadah Ramadah ke bulan berikutnya, tetapi menduplikasi nilai keimanan untuk terus konsisten (istiqamah) pasca Ramadhan. Artinya, menjadi orang yang bertakwa sebagai bentukan Ramadhan tidak berarti harus berpuasa setiap hari sepanjang tahun.

Mempertahankan konsistensi ibadah, kerajinan dan semangat berjamaah, atau membiasakan diri puasa sunnah setelah Ramadhan hingga membiasakan diri berzakat dan berinfak itu hanyalah manifestasi dari nilai tempaan Ramadhan. Sesungguhnya inti Ramadhan adalah mencetak sifat dan sikap orang bertakwa melalui tempaan menahan nafsu, membiasakan kebersamaan, menanamkan sikap empati dan menanamkan nilai-nilai persaudaraan. Inilah sebenarnya nilai yang menjadi sikap dan sifat orang bertakwa sebagai hasil dari Ramadhan. Lalu bagaimana mengukurnya dalam sikap?

5 Indikator Sikap Ramadhan

Setidaknya ada lima sifat dan sikap yang diajarkan Ramadhan yang wajib diaktualisasikan pasca Ramadhan. Kelima sikap ini juga menjadi bagian dari bentuk takwa yang ditempa dan dilatih dalam Ramadhan. Dengan kata lain, jika umat Islam berpuasa, tetapi tidak mampu memiliki kelima sikap ini, bisa jadi sesungguhnya kita hanya berpuasa pada lingkup formalitas saja. Kita menjadi takut apabila kita telah berpuasa tetapi tidak memiliki 5 sikap ini. Kita takut puasa menjadi sia-sia, apalagi puasa yang celaka.  Apa saja kelima sikap tersebut?

Pertama, kesabaran. Orang yang berpuasa akan memiliki kesabaran yang tinggi. Bagaimana tidak, hal yang halal saja di larang selama berpuasa, apalagi yang haram. Berpuasa tidak hanya menahan makan, minum dan syahwat, tetapi juga amarah.

Dengan puasa umat Islam dilatih sabar menerima makian, hujatan dan fitnah. Ketika kita bersabar untuk tidak berbuat kasar kepada yang lain karena ucapan jahat orang lain, sesungguhnya kita sudah memiliki satu nilai Ramadhan bernama kesabaran.

Kedua, kejujuran. Tidak ada ibadah yang paling rahasia kecuali puasa. Tetapi puasa sangat mendidik umat untuk bersikap jujur. Hanya Allah yang tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak. Ketika pandangan orang lain tidak menjadi penting terhadap nilai ibadah kita, sesungguhnya kita sudah meraih nilai kejujuran Ramadhan.

Ketiga, kegigihan. Ibadah mana yang benar-benar membentuk kegigihan dalam pribadi umat. Ibadah haji mungkin adalah rangkaian yang menuntut kegigihan selama masa haji. Tetapi rangkaian itu terjadi secara massal dan di lokasi yang memang disucikan oleh Tuhan.

Kegigihan Ramadhan benar-benar kegigihan alami dari menahan lapar dan haus sambil lalu bekerja, menahan emosi sambil menahan lapar, melawan kelelahan untuk terus beribadah dan menghiasi diri dengan perbuatan yang baik. Wajarlah apabila bulan ini disebut “bulan jihad”sebagai bulan penuh kegigihan dan kesungguhan untuk mencari ridho Allah.

Keempat, kepedulian. Ibadah Ramadhan adalah bulan yang sangat komplit. Dari awal umat Islam ditempa dengan perasaan menderita tentang lapar dan haus. Penderitaan ini mendidik perasaan empati dan simpati kepada masyarakat yang membutuhkan. Lalu, apa tindakan diri setelah memupuk empati? Zakat mengajarkan praktek ibadah kepedulian. Bukan sekedar empati tetapi juga bukti aksi untuk saling berbagi.

Kelima, kebersamaan. Ramadhan membentuk jiwa umat untuk selalu menguatkan persuadaraan dan kebersamaan. Puasa adalah ibadah yang menanamkan solidaritas dan kebersamaan seluruh umat. Tidak ada perasaan yang dibedakan karena seluruh umat Islam adalah bersaudara. Hanya predikat takwa yang akan membedakan status umat.

Demikian tempaan dan latihan Ramadhan yang berhasil membentuk pribadi umat Islam yang bertakwa. Bertakwa dapat dilihat dari kelima sikap yang selalu menjaga diri dari keburukan dan mendekatkan diri kepada kebaikan. Jika kelima sikap ini tidak berbekas dari perilaku kita pasca Ramadhan, kita patut mengevaluasi puasa kita kembali.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.