niat puasa1
niat puasa1

Mau Tahu Puasamu Diterima? Coba Cek 5 Indikator Ini

Apa ukuran sebenarnya tentang diterimanya amal Ramadan? Tidak ada ukuran pasti apakah puasa seseorang telah diterima oleh Allah. Bahkan Allah mengatakan pahala puasa itu adalah spesial. Dalam hadist qudsi Allah berfirman :  Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. 

Lalu, apa ukurannya orang telah berhasil menjalankan ibadah puasa? Ukuran keberhasilan puasa sebenarnya bisa dilacak dari tujuan disyariatkannya sebagaimana dalam Qs : Al-Baqarah 183.  Tujuan puasa adalah membentuk insan yang bertakwa. Mengukur keberhasilan puasa secara mudah dapat dilihat apakah puasa yang kita jalani sudah membentuk pribadi yang bertakwa.

Setidaknya ada lima sifat dan sikap yang diajarkan Ramadan yang menjadi bagian dari bentuk takwa. Apa saja kelima sikap tersebut?

Pertama, kesabaran. Orang yang berpuasa akan memiliki kesabaran yang tinggi. Bagaimana tidak, hal yang halal saja di larang selama berpuasa, apalagi yang haram. Berpuasa tidak hanya menahan makan, minum dan syahwat, tetapi juga amarah. Dengan puasa umat Islam dilatih sabar menerima makian, hujatan dan fitnah. Ketika kita bersabar untuk tidak berbuat kasar kepada yang lain karena ucapan jahat orang lain, sesungguhnya kita sudah memiliki satu nilai Ramadan bernama kesabaran.

Kedua, kejujuran. Tidak ada ibadah yang paling rahasia kecuali puasa. Tetapi puasa sangat mendidik umat untuk bersikap jujur. Hanya Allah yang tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak. Ketika pandangan orang lain tidak menjadi penting terhadap nilai ibadah kita, sesungguhnya kita sudah meraih nilai kejujuran Ramadan.

Ketiga, kegigihan. Ibadah mana yang benar-benar membentuk kegigihan dalam pribadi umat. Ibadah haji mungkin adalah rangkaian yang menuntut kegigihan selama masa haji. Tetapi rangkaian itu terjadi secara massal dan di lokasi yang memang disucikan oleh Tuhan. Kegigihan Ramadan benar-benar kegigihan alami dari menahan lapar dan haus sambil lalu bekerja, menahan emosi sambil menahan lapar, melawan kelelahan untuk terus beribadah dan menghiasi diri dengan perbuatan yang baik. Wajarlah apabila bulan ini disebut “bulan jihad”sebagai bulan penuh kegigihan dan kesungguhan untuk mencari ridho Allah.

Baca Juga:  Lima Hikmah Terjadinya Gerhana Matahari dan Bulan Menurut Rasulullah

Keempat, kepedulian. Ibadah Ramadan adalah bulan yang sangat komplit. Dari awal umat Islam ditempa dengan perasaan menderita tentang lapar dan haus. Penderitaan ini mendidik perasaan empati dan simpati kepada masyarakat yang membutuhkan. Lalu, apa tindakan diri setelah memupuk empati? Zakat mengajarkan praktek ibadah kepedulian. Bukan sekedar empati tetapi juga bukti aksi untuk saling berbagi.

Kelima, kebersamaan. Ramadan membentuk jiwa umat untuk selalu menguatkan persuadaraan dan kebersamaan. Puasa adalah ibadah yang menanamkan solidaritas dan kebersamaan seluruh umat. Tidak ada perasaan yang dibedakan karena seluruh umat Islam adalah bersaudara. Hanya predikat takwa yang akan membedakan status umat.

Demikian tempaan dan latihan Ramadan yang berhasil membentuk pribadi umat Islam yang bertakwa. Bertakwa dapat dilihat dari kelima sikap yang selalu menjaga diri dari keburukan dan mendekatkan diri kepada kebaikan. Jika kelima sikap ini tidak berbekas dari perilaku kita pasca Ramadan, kita patut mengevaluasi puasa kita kembali.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

berlebihan dalam beragama

Berlebihan dalam Beragama; Trik Iblis Menyesatkan Manusia

Cap iblis sebagai pembangkang setelah terang-terangan menolak perintah Tuhan supaya bersujud kepada Nabi Adam menjadi …

khilafiyah

Menyoal Khilafiyah : Kenapa Dalilnya Sama, Tetapi Hukumnya Beda?

Kata Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya al Sawa’iq al Mursalah, “Terjadinya perbedaan di kalangan …