makan gurita
makan gurita

Makan Ikan yang Masih Hidup, Bagaimana Hukumnya ?

Di dalam Islam, seluruh binatang laut hukumnya halal dimakan. Karena sudah jelas bunyi hadits Nabi saw:

الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Artinya: “Air laut suci mensucikan airnya, dan halal bangkainya” (HR. Abu Dawud dan lainnya)

Kehalalan mengkonsumsi binatang laut tidak perlu disembelih terlebih dahulu. Dan ini merupakan kesepatakan ulama. Bahkan dalam madzhab Syafi’i menyembelih ikan hukumnya makruh, kecuali ikan  besar.[1]

Namun belakangan ini, dijumpai banyak restoran yang menyajikan menu makanan dari hewan gurita. Tentang kehalalan gurita sendiri, tidak perlu dibahas lagi, karena gurita termasuk binatang laut. Hanya saja, pada menu tersebut, gurita disajikan dalam kondisi hidup, tidak dalam keadaan mati. Memakannya pun ketika gurita itu masih hidup.

Bagaimanakah Fiqh menanggapi menu saji seperti ini ?

Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Hanafi dan Hanbali tidak boleh makan ikan yang masih hidup, karena yang demikian merupakan penyiksaan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Dalam al Mausu’uah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah dijelaskan:

وَإِذَا أُخِذَ السَّمَكُ حَيًّا لَمْ يَجُزْ أَكْلُهُ حَتَّى يَمُوتَ أَوْ يُمَاتَ، كَمَا يَقُول الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ

Artinya: “Apabila ikan diambil dalam keadaan hidup-hidup, maka tidak boleh dimakan hingga ia mati atau dibunuh, sebagaimana dikatakan oleh Madzhab Hanafi dan Hanbali”[2]

Sementara dalam madzhab Syafi’i, terdapat perbedaan pendapat antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Menurut Ibn al Qash hukumnya halal sementara menurut Abu Hamid al Ghazali hukum tidak boleh, karena merupakan penyiksaan. Sehingga menurut Abu Hamid al Ghazali, tidak boleh memasak ikan yang masih hidup.[3]

Kemudian, menurut imam Nawawi pendapat yang kuat tentang hukum makan binatang laut yang masih hidup adalah makruh, tidak sampai haram.[4] Dari imam Nawawi ini, memungkinkan bahwa yang dimaksud tidak boleh pada pendapatnya al Ghazali di atas, tidak sampai kepada tingkatan haram, hanya sekedar makruh saja.

Baca Juga:  Ramai Bikin Avatar di Medsos, Apa Hukumnya?

Sampai di sini, dapat kita ketahui bahwa makan ikan atau binatang laut apa pun jenisnya dalam keadaan hidup-hidup menurut pendapat yang paling kuat adalah makruh tidak sampai haram.

Namun yang perlu diketahui, bahwa sesungguhnya perbuatan makruh sekalipun tidak berdosa melakukannya tetapi tetap dinilai perbuatan yang tidak baik. Sehingga, cara yang baik menurut agama Islam dalam mengkonsumsi ikan adalah setelah ikan tersebut mati, baik mati sendiri atau sengaja dibunuh.

Wallahu a’lam


[1] Ibarahim al Bajuri, Hasyiah al Bajuri, Juz 2, Hal 323

[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 5, Hal 128

[3] Saifuddin al Syayi, Hilyatul Ulama’, Juz 3, Hal 142

[4] Syaraf al Nawawi, Majmu’ Syarh al Muhaddzab, Juz 9, Hal 73

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

hukum penista agama

Hukuman bagi Penista Agama dalam Perspektif Fikih

Hukuman apa yang tepat menurut Fiqh bagi penista agama ? Ini pertanyaan yang seringkali menggelinding …

taliban

Taliban dan Isu Al Mahdi dalam Perspektif Islam

Kemenangan Taliban atas Pemerintah Afghanistan sepekan lalu menjadi sorotan utama publik. Beramai-ramai media informatika dunia …