mapak poso
mapak poso

Mapak Poso : Tradisi Kegembiraan Menyambut Ramadan

Dari Abu Hurairah Ra :“Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ‘Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Di bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Imam Ahmad).

Bulan Ramadan yang agung menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Rasulullah pun selalu berdoa menjelang Rajab dan Sya’ban agar bisa dipertemukan dengan bulan suci ini. Ramadan adalah bulan pernah berkah sehingga kedatangannya selalu ditunggu dan disambut dengan gembira sebagaimana Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya. Lalu, bagaimana kegembiraan itu dilakukan?

Dalam praktek di masyarakat nusantara, banyak tradisi yang diwariskan oleh para penyebar Islam dengan menjadikan kegembiraan yang bernilai Islami itu tertanam di tengah masyarakat. Masyarakat harus dibuatkan pengingat dengan cara membuat tradisi dan budaya. Gembira menyambut Ramadan dimasukkan dalam tradisi dan budaya masyarakat agar mereka selalu ingat kedatangan bulan agung ini.

Salah satu tradisi yang ada di Jawa menjelang bulan puasa, terutama bagi masyarakat dinamakan “mapak poso”. Mapak berarti menyambut, poso berarti bulan puasa. Mapak poso merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa yang akan beragam dari satu wilayah dengan wilayah lainnya. Umumnya hal ini dilakukan dengan berkumpul bersama membaca doa, berziarah kubur (membersihkan dan berdoa untuk mereka yang telah tiada) dengan membacakan tahlil dan yasin.

Tradisi mapak poso juga dilakukan dengan cara menyajikan makanan dalam wadah yang biasa di sebut dengan berkat. Berkat yang dibuat kemudian ditata rapi dan ustad mulai berdoa dalam acara bancaan dengan mengundang para kerabat dan tetangga terdekat dari rumah.

Baca Juga:  Abu Bakar as-Shiddiq: Penyelamat Islam Setelah Nabi Muhammad Saw Wafat

Berkat memiliki arti berkah, maknanya, mapak poso diharapkan mampu membawa berkah di bulan puasa. Bancaan sendiri berarti upacara tradisi yang mengumpulkan orang terdekat untuk berdoa bersama. Berkat yang dibagikan berupa nasi dan lauk pauk. Lauk pauk yang disajikan tergantung pada orang yang memiliki hajat dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ringkasnya, acara ini bisa diartikan sebagai sedekah kepada sesama dan tidak melanggar syariat Islam.

Dalam pelaksanaannya sendiri tidak ada penanggalan khusus, hanya biasanya dalam pelaksanaannya dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa. Mapak poso dalam praktek seperti itu tentu tidak ditemukan referensinya dalam hadist. Ini merupakan kreasi akulturasi antara nilai Islam dengan budaya Jawa yang dahulunya dilakukan oleh para Wali Songo untuk membudayakan kegembiraan dan kesiapan menyambut bulan Ramadan.

Dengan akulturasi budaya seperti ini, Islam bukan hanya mudah diterima oleh masyarakat nusantara dengan karkater gotong royong, berkumpul dan berdoa bersama, tetapi Islam selalu diingat dan dipraktekkan karena menyatu dengan budaya masyarakat. Tentu tidak ada aktifitas yang bertentangan dengan ajaran Islam, bersedekah, berdoa bersama, berziarah dan bersyukur dijumpakan kembali di bulan Ramadan adalah nilai-nilai Islami yang terdapat dalam tradisi ini.

Terpenting dalam pelaksanaan mapak poso ini adalah niatnya, yang berupa kegembiraan, kesungguhan dan kesiapan lahir dan batin untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi yang begitu agung yang diwariskan oleh leluhur untuk selalu merekatkan dan mempersatukan. Ramadan bukan hanya memupuk kesalehan inividu, tetapi kesalehan sosial untuk selalu peduli kepada sesame. Itulah inti takwa.

Tidak dipungkiri, selain penuh dengan nilai Islami, mapak poso bisa digunakan untuk memperkuat persatuan yang ada dilingkup masyarakat. Mereka yang sibuk dengan pekerjaan dan tidak memiliki waktu untuk berkumpul, dalam tradisi mapak poso, mereka dipertemukan dan sesibuk apapun menyempatkan waktu untuk datang menghadiri undangan dari sang tuan rumah. Dalam acara mapak poso juga terdapat nilai kesetaraan, kaya dan miskin berkumpul dan duduk bersama menjadi satu perkumpulan.

Baca Juga:  Menelusuri Makna Tarian Sufi, Sema

Tradisi mapak poso merupakan salah satu warisan leluhur yang di dalamnya mengandung nilai-nilai yang sungguh sangat luar biasa. Nilai hubungan dengan Tuhan untuk mempersiapkan bulan Ramadan dan nilai kebaikan antara sesama manusia. Inilah salah satu bentuk tradisi dari sekian banyak tradisi yang ada di Indonesia. Sudah sepatutnya kita sebagai warga Negara Indonesia untuk menjaga tradisi yang baik ini supaya tradisi seperti ini tidak tergerus.

Kini bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari, tradisi mapak poso saat ini sudah mulai dilaksanakan oleh masyarakat. Meski di tengah pandemic, namun tidak menyurutkan niat masyarakat untuk tetap melaksanakannya, karena memang sudah dianggap sebagai kebiasaan, bukan kewajiban.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

memiliki keris

Muslim Memiliki Keris, Ada Masalah?

Ada pertanyaan yang sedikit lucu tetapi penting dijawab, bolehkah seorang muslim memiliki keris? Pertanyaan ini …

mahsa amini

Tragedi Mahsa Amini dan Cara Berislam Kita

Ternyata persoalan jilbab tidak hanya menjadi persoalan di Negara Indonesia saja. Pada tanggal 13 September …