Ott Kpk
Ott Kpk

Marak OTT, Inilah Pangkal Perilaku Koruptif Menurut Ibnu Khaldun

Pemberitaan KPK yang berhasil menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pada Rabu (25/11) kemarin, telah menghebohkan rakyat Indonesia. Sontak seluruh perhatian publik tertuju pada sosok menteri yang baru menjabat sekitar satu tahun itu. Pun media dan netizen, turut ramai membahasnya.

Wajar jika kejadian tersebut menyita perhatian publik secara luas. Sebab, Edhy Prabowo merupakan pejabat tinggi negara (menteri aktif) yang mendapat amanah dari seluruh bangsa ini untuk menakhkodai negara di bidang yang cukup vital, yakni kelautan dan perikatan, justru diduga menerima suap sebesar Rp 3,4 Milyar. Dan yang membuat publik terhenyak adalah, dari hasil tangkap tangan itu, KPK menemukan barang-barang mewah seperti tas Louis Vuitton (LV), tas Hermes, baju Koper Tumi dan tas koper LV.

Tidak selang lama, KPK kembali OTT Wali Kota Cimahi. Kali ini terkait proyek rakyat, yakni Rumah Sakit. Dalam OTT ini, Satgas turut menyita uang tuna sebesar Rp 420 juta. Publik belum sempat menghela nafas akibat kasus yang menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan,namun kini justru kasus yang sama mencuat.

Adalah sebuah hal yang lumrah apabila publik bertanya-tanya; apa gerangan yang menyebabkan para pejabat tinggi negara ‘gemar’ mencuri uang rakyat? Terkait hal ini, ulama kenamaan Islam Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam magnum opusnya Muqaddimah menjelaskan secara gamblang bahwa sebab utama perilaku koruptif adalah nafsu untuk hidup mewah.

Ulama yang memiliki reputasi keilmuannya diakui di berbagai belahan dunia, bahkan teori dan gagasannya yang selalu menemukan relevansinya hingga kini itu sama sekali tidak menyebutkan pangkal perilaku korupti itu dengan macam-macam sebab, alias hanya satu saja, yakni dorongan hidup mewah. Artinya, jika manusia, lebih-lebih pejabat negara, mampu mengendalikan keinginan hidup mewah (sederhana), maka korupsi tidak akan semarak saat ini.

Baca Juga:  Lebih Utama Shalat Sendirian di Awal Waktu atau Menunda Menunggu Shalat Berjamaah

Apa yang ditegaskan oleh Ibnu Khaldun ratusan tahun lalu semakin terkonfirmasi kebenarannya. Lihat saja, pejabat publik yang terkena OTT pasti memiliki barang-barang mewah. Dalam konteks ini, benar apa yang dikatakan oleh tokoh India, Mahatma Gandhi: “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintirkecil manusia yang serakah.”

Teladan Kesederhanaan

Di saat situasi yang tidak ideal karena berbagai persoalan terjadi seperti korupsi yang sudah menggeja di hampir seluruh elemen kehidupan dan langkanya sosok kharismatik yang bersih, berintegritas dan tulus, umat harus kembali meneladani Nabi Muhammad Saw. Sebab, beliau adalah figur teladan yang sangat ideal. Segala perkataan dan perbuatannya harus kita pelajari dan jadikan rujukan agar bisa ditiru dalam kehidupan keseharian.

Pada suatu hari, Umar bin Khattab menemuai Nabi Muhammad Saw di kamar beliau. Sahabat Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar yang telah usang. Saking usangnya, di punggung Rasulullah ada bekas tikar tersebut. Melihat kejadian itu, Umar pun lalu meneteskan air mata akibat tak kuasa membendung air mata karena iba melihat kondisi Nabi demikian.

Nabi Muhammad pun lantas bertanya: “Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?”

Umar bin Khattab pun kemudian menjawab; “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di punggung engkau. Aku juga tidak melihat apapun di rumah engkau. Para raja tidur di atas kasur sutra dan tinggal di istana yang megah dan mewah, sementara engkau di sini. Padahal engkau adalah nabi dan manusia pilihan Allah!”

Sungguh mengejutkan! Nabi Muhammad Saw menjawab sambil tersenyum; “Wahai, Umar! Kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kesenangan mereka itu pasti terputus. Sedangkan kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”

Baca Juga:  Mendefinisikan dan Mengekspresikan Islam di Indonesia

Tidak hanya sekali atau dua kali saja Nabi Muhammad memberikan teladan kepada kita tentang hidup sederhana. Padahal, sebagaimana kisah Aisyah menolak mengganti tempat tidur Rasulullah dengan kain yang berisi wol empuk. Rasulullah kemudian mengatakan: “Wahai Aisyah, seandainya aku mau, gunung-gunung itu akan dijadikan emas dan perak oleh Allah kepadaku.”

Begitulah kesederhanaan Rasulullah yang membuat banyak orang di sekitarnya merasa ternyuh lantaran sikap beliau yang luar biasa. Karena sikap ini pula, Rasulullah bebas dari perilaku koruptif.

Dengan demikian, jika korupsi di negeri ini ingin musnah, maka jalan yang paling efektif adalah menerapkan sikap qana’ah—merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas, bermewah-mewahan dan merasa kurang yang berlebihan.

Gaya hidup qana’ah ini harus menjadi sifat dasar setiap orang dan juga harus menjadi sebuah gerakan bersama, terutama para elite negeri ini yang dekat dengan godaan kekuasaan dan harta. Nabi Muhammad bersabda: “Bukanlah kekayaan itu banyak harta, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir