jihad
jihad

Apa Arti Jihad Sebenarnya?

Jihad, istilah yang sarat dan juga sebuah konsep yang menggambarkan jurang pemisah miskomunikasi yang dala antara Islam dan Barat. Beberapa memandang jihad sebagai benturan peradaban dan biasanya bertindak berdasarkan keyakinan. Jihad secara harfiah, menurut sebagian cendekiawan Muslim bermakna perjuangan atau usaha.

Maher Hathout, penulis Jihad versus Terrorism, percaya ada kebutuhan ganda untuk meluruskan tentang jihad. Ia menyimpulkan bahwa jihad, sebagaimana diproyeksikan dalam Al-Qur’an, bukanlah sebuah konsep tunggal. Menurut Hathout, dalam al-Qur’an, jihad diproyeksikan sebagai upaya untuk mengubah diri sendiri, dan juga dalam situasi tertentu secara fisik berdiri melawan penindas.

Namun makna paling tepat dari istilah jihad tergantung pada konteksnya. Dari situlah Barat kerap keliru dalam menerjemahkannya, mereka sering menganggap arti jihad adalah perang suci. Jihad, khususnya di bidang agama dan etika, terutama mengacu pada perjuangan manusia untuk mempromosikan apa yang benar dan mencegah apa yang salah.

Meluruskan Salah Paham tentang Arti Jihad

Dalam al-Qur’an, jihad adalah istilah yang memiliki banyak arti. Selama periode Mekah (610-622 M), ketika Nabi Muhammad menerima wahyu al-Qur’an di Mekah, penekanannya adalah pada dimensi internal dari arti jihad, yaitu sabr, yang mengacu pada praktik sabar-kesabaran oleh umat Islam dalam menghadapi perubahan hidup dan terhadap mereka yang menginginkannya.

Al-Qur’an juga berbicara tentang melakukan jihad dengan caranya melawan orang-orang Mekah yang kafir selama periode Mekah. Sebagaimana tertuang dalam surat al-Furqon ayat 25, yang mana menyiratkan perjuangan verbal dan diskursif melawan mereka yang menolak pesan Islam.

Pada periode Madinah (622–632 M), di mana Nabi Muhammad menerima wahyu al-Qur’an di kota Madinah, dimensi baru dari arti jihad muncul yaitu berperang untuk membela diri melawan agresi para penganiaya Mekah, yang disebut qital.

Dalam literatur selanjutnya yang terdiri dari Hadits, catatan ucapan dan tindakan Nabi dan tulisan-tulisan kuno membangun makna lebih umum dari arti jihad –sabr dan qital– dinamai jihad nafs yaitu perjuangan pada diri sendiri dari hawa nafsu atau spiritual melawan diri yang lebih rendah dan jihad sayf yang bermakna pertempuran fisik dengan pedang. Dari keduanya masing-masing disebut al-jihad al-akbar (jihad besar) dan al-jihad al-aṣghar (jihad kecil).

Baca Juga:  Bermadzhab Tidak Harus Selalu Ikut Pendapat Imam Madzhab

Dalam banyak tafsir, berbagai cara mempromosikan apa yang baik dan mencegah apa yang salah termasuk dalam rubrik luas jihad fi sabilillah atau berjuang di jalan Allah. Oleh karena itu, sebuah hadits terkenal mengacu pada empat cara utama di mana jihad dapat dilakukan: dengan hati, lidah, tangan (tindakan fisik tanpa pertempuran bersenjata), dan pedang.

Arti jihad merupakan prinsip moral untuk berjuang melawan segala rintangan yang menghalangi jalan kebaikan. Melahirkan dan membesarkan anak, misalnya, merupakan contoh jihad lahiriah, karena banyak rintangan yang harus dilalui untuk melahirkan dan membesarkan anak. Jihad mungkin juga melibatkan pertempuran melawan penindas dan agresor yang melakukan ketidakadilan.

Ini bukanlah “perang suci” sebagaimana perang salib akan dianggap sebagai perang suci, dan meskipun Islam mengizinkan dan bahkan mendorong dakwah, Islam melarang konversi paksa. Dalam tradisi Islam, bentuk jihad yang melibatkan pertempuran membutuhkan kondisi etika tertentu yang memungkinkan untuk berperang, serta aturan keterlibatan yang jelas seperti persyaratan untuk melindungi non-pejuang. Para ahli telah membandingkan Jihad yang melibatkan pertempuran dengan konsep Kristen tentang “perang yang adil.”

Perkembangan Arti Jihad

Dalam artikulasi hukum internasional Islam, terutama para ahli hukum Muslim klasik memperhatikan masalah keamanan negara dan pertahanan militer wilayah Islam. Oleh karena itu, mereka berfokus terutama pada jihad sebagai tugas militer, yang menjadi makna utama dalam literatur hukum dan resmi. Perlu dicatat bahwa al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 190 secara eksplisit melarang dimulainya perang dan hanya mengizinkan pertempuran melawan agresor yang sebenarnya.

Di sisi lain, tunduk pada realisme politik, banyak ahli hukum Muslim pramodern mengizinkan perang ekspansi untuk memperluas kekuasaan Muslim atas wilayah non-Muslim. Beberapa bahkan menganggap penolakan non-Muslim untuk menerima Islam sebagai tindakan agresi itu sendiri, yang dapat mengundang pembalasan militer dari pihak penguasa Muslim.

Baca Juga:  Catat! Jihad dan Terorisme Itu Beda Jauh, Yuk Simak Penjelasannya

Para ahli hukum memberikan pertimbangan khusus kepada mereka yang mengaku percaya pada wahyu ilahi-Kristen dan Yahudi khususnya, yang digambarkan sebagai “Ahli Kitab” dalam Al-Qur’an dan karena itu dianggap sebagai komunitas yang harus dilindungi oleh penguasa Muslim.

Mereka bisa memeluk Islam atau setidaknya tunduk pada aturan Islam dan membayar pajak khusus (jizyah). Jika kedua pilihan itu ditolak, mereka harus diperangi, kecuali jika ada perjanjian antara komunitas tersebut dan otoritas Muslim.

Seiring waktu, kelompok agama lain, termasuk Zoroastrianisme, Hindu, dan Buddha, juga dianggap sebagai “komunitas yang dilindungi” dan diberi hak yang serupa dengan hak-hak orang Kristen dan Yahudi. Jihad militer hanya dapat diproklamirkan oleh pemimpin yang sah dari pemerintahan Muslim, biasanya disebut khalifah. Selanjutnya, mengutip pernyataan Nabi Muhammad, para ahli hukum melarang serangan terhadap warga sipil dan perusakan properti.

Sepanjang sejarah Islam, perang melawan non-Muslim, bahkan ketika dimotivasi oleh kepentingan politik dan sekuler, disebut jihad untuk memberi mereka legitimasi agama. Ini adalah tren yang dimulai selama periode Umayyah (661–750 M).

Di zaman modern ini juga berlaku pada abad ke-18 dan ke-19 di Afrika Muslim di selatan Sahara, di mana penaklukan agama-politik dipandang sebagai jihad, terutama jihad Usman dan Fodio, yang mendirikan kekhalifahan Sokoto (1804) di sekarang Nigeria utara. Begitupun yang terjadi pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, di mana perang Afghanistan dianggap masuk dalam kategori jihad melawan Uni Soviet dan Barat.

Selama dan sejak saat itu, ekstremis Islam telah menggunakan rubrik jihad untuk membenarkan serangan kekerasan terhadap Muslim yang mereka tuduh murtad. Berbeda dengan para ekstremis seperti itu, sejumlah pemikir Muslim modern dan kontemporer bersikeras pada pembacaan al-Qur’an secara holistik, dengan menekankan pentingnya pembatasan al-Qur’an terhadap aktivitas militer untuk membela diri dalam menanggapi agresi eksternal.

Baca Juga:  Melihat Maslahah di Balik Larangan Keberadaan dan Aktivitas FPI

Karenanya, sebagian besar penyalahgunaan istilah jihad kontemporer mungkin berasal dari invasi Uni Soviet ke Afghanistan, ketika aktor tanpa kewarganegaraan mulai mengklaim hak untuk menyatakan jihad. Dalam tradisi Islam, tidak ada dasar teologis atau politis untuk klaim ini. Kelompok radikal dan ekstremis menggunakan dan menyalahgunakan istilah jihad untuk memberi lapisan agama pada gerakan dan taktik politik kekerasan mereka.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Hasan Izzurrahman

Avatar of Muhammad Hasan Izzurrahman

Check Also

islam timur tengah

Selalu Digambarkan Agama Kekerasan, Apa yang Hilang dalam Ajaran Islam?

Islam, media Barat cenderung mengabadikan stereotip bahwa Islam adalah agama kekerasan dan kaum perempuannya selalu …

perayaan idul adha

Idul Adha di Masa Pandemi : Sejarah dan Makna Perayaan

Idul Adha, atau dalam bahasa Arab (الأضحى) secara harfiah diterjemahkan sebagai hari raya qurban, sementara …