ichsanuddin noorsy scaled
ichsanuddin noorsy scaled

Noorsy Kutip Al Anam 162 tentang Tidak Perlu Takut Covid-19, Seperti Apa Tafsir yang Sebenarnya

Dibenaknya, Ichsanuddin Noorsy mungkin bermaksud mencari argumen untuk menguatkan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan pemerintah terkait Keputusan Kementerian Agama tentang pembatalan haji. Sayang seribu kali sayang, jauh panggang dari api.

Dalam salah satu forum di Youtube Refly Harun, dengan penuh semangat Ichsanuddin Noorsy mengatakan bahwa salah satu pilar maqashidus syariah yaitu hifdzu al nafs (menjaga dan memelihara jiwa) bertentangan dengan ayat al Qur’an surat al An’am ayat 162.

Bunyi ayatnya sebagai berikut : Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,

Menurutnya, hifdzun nafsi bertentangan dengan ayat ini karena umat Islam diperintahkan untuk pasrah secara totalitas kepada Allah. Memasrahkan hidup dan mati hanya kepada Allah. Karena itu, tidak perlu takut kepada Covid-19 dan haji tidak perlu dibatalkan.

Ahli ekonomi mungkin, tapi ahli tafsir bukan. Karena mengatakan ayat tersebut bertentangan dengan hifdzun nafsi adalah kesalahan besar. Disamping itu, Ichsanuddin Noorsy sama sekali tidak memahami maqashidus syariah, salah satu sub bahasan ushul fikih. Sebab kalau paham teori maqashidus syariah tidak mungkin mengatakan hifdzun nafsi bertentangan dengan ayat tersebut.

Quraish Shihab dalam tafsirnya al Misbah menafsirkan ayat tersebut dengan; Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, ketaatanku selama hidup, iman dan amal shaleh yang akan aku bawa mati, semuanya murni hanya untuk Allah yang telah menciptakan semua makhluk. Hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati”.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ayat tersebut turun kepada Nabi Muhammad dan memerintahkan beliau untuk menyampaikan berita kepada orang-orang musyrik penyembah berhala dan kalau menyembelih hewan tidak menyebut asma Allah bahwa beliau tidak sama dengan mereka. Karena sesungguhnya shalat dan ibadah Nabi hanya ikhlas untuk Allah.

Baca Juga:  Argumen Menolak Negara Islam

Ayat tersebut semakna dengan surat al Kautsar ayat 2 yang memerintahkan bahwa shalat dan kurban hendaklah dilakukan dengan betul-betul ikhlas karena Allah.

Dalam tafsir al Wasith li Thanthawi ditulis, sesungguhnya shalatku, ibadahku, amal-amal shaleh yang aku lakukan selama hidup, iman dan amal-amal shaleh yang akan aku bawa mati, semua itu ikhlas hanya untu Allah.

Dengan demikian jelasa bahwa surat al An’am ayat 162 berisi perintah untuk ikhlas dalam ibadah. Tidak terkait dengan perintah untuk memasrahkan hidup dan mati. Lagi pula memasrahkan hidup dan mati bukan berarti pasrah tanpa arah. Tetap harus ikhtiar dulu baru tawakkal dan doa.

Prinsip hidz an-nafs sebagai salah satu pilar bahkan pilar paling penting dalam tujuan syariat tidak bertentangan sama sekali dengan ayat tersebut. Konteks ayat di atas bukan untuk keberanian mengalahkan apapun bahkan menyerahkan nyawa demi ibadah. Namun, suatu nilai dan ajaran untuk ikhlas melakukan ibadah hanya untuk Allah, bukan tujuan selainNya.

Dengan demikian, mengatakan jangan takut kepada Covid-19 dan tidak perlu membatalkan ibadah haji adalah sama dengan mengatakan, “meskipun kamu tidak pandai berenang gak perlu takut meloncat ke sungai yang dalam dan kuat arusnya, pasrahkan hidup dan matimu kepada Allah”. Itu sama saja bunuh diri.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

muadzin

Apakah Muadzin Disyaratkan Punya Wudhu’?

Dari al Zuhri, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAw, “Tidak boleh adzan kecuali orang yang …

menjaga kebersihan masjid

Anjuran Menjaga Kebersihan Masjid dan Memberinya Pengharum

Bukan suatu alasan dengan mengatakan terpenting adalah menjaga banyaknya jamaah di masjid sementara menjaga kebersihan …