kata shalat dalam al-quran
Alquran

Memahami Kata Shalat dalam Al-Quran

Keberadaan ayat-ayat Shalat dalam al-Qur’an menegaskan betapa agungnya urusan shalat bagi setiap muslim sebagaimana arti ayat itu sendiri adalah tanda kebesaran Allah Swt. Ulama generasi Salaf membahas secara khusus masalah Shalat seperti kitab “Ta’dzim Qadris Shalah” (mengagungkan kedudukan shalat) ditulis oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi as-Syaf’i (W. 294 H) yang telah mengumpulkan riwayat tersebut selama lebih dari 20 tahun. Imam al-Mawarzi menekankan pentingnya shalat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam sebuah buku yang berjudul “Kata Shalat dalam al-Quran” karya Dr. KH. M. Sholeh Qosim, M.Si disebutkan bahwa kata “صَلَاةٌ” dari segi asal usul penyebutannya, berasal dari bahasa Babilonia yang artinya ibadah tertentu dalam syari’at Nabi Ibrahim a.s., kemudian  masuk dalam bahasa Arab setelah berpisahnya Nabi Isma’il dengan ayahnya Nabi Ibrahim a.s. Kata Shalat dalam al-Qur’an yang dijelaskan dalam buku tersebut berjumlah 92 kata mencerminkan betapa pentingnya Shalat dalam kehidupan seorang hamba. Dari segi sanad dan praktek, asal usul Shalat dibahas oleh Kyai Sholeh dalam bukunya “Tuntunan Shalat Seperti Nabi Saw” yang menjadi buku best seller di Nusantara.

Shalat merupakan sebaik-baik sarana seorang mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt sebagaimana kedudukan Shalat sebagai “مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ”, artinya sarana orang-orang mukmin untuk menghadap Allah Swt. Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw melaksanakan Shalat dengan berbeda-beda waktunya. Menurut Syekh Bakri Satha dalam kitab  I’anatut Thalibin bahwa Shalat Shubuh adalah shalatnya Nabi Adam, Dhuhur shalatnya Nabi Dawud, Ashar shalatnya Nabi Sulaiman, Maghrib shalatnya Nabi Ya’qub dan Isya’ shalatnya Nabi Yunus, sedangkan semua shalat yang telah disebutkan adalah shalatnya Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga:  Pandangan Al-Quran tentang LGBT serta Faktor dan Dampaknya

Keistimewaan Shalat adalah adanya satu rahasia yang tidak mampu dipahami oleh manusia, kecuali hanya sebatas kemampuannya dan pemahaman itu diberikan oleh Allah Swt untuk dirinya. Rahasia-rahasia Shalat akan selalu baru dan berubah menurut pemahaman yang dimiliki oleh pendiri Shalat sebagaimana makna-makna al-Qur’an yang selalu baru dan segar tergantung sudut pandang dan pengetahuan terkini yang dimiliki oleh pembacanya. Shalat dan al-Qur’an juga memiliki hubungan yang erat dan istimewa dengan al-Qur’an hingga dalam sebuah ayat terdapat lafadz “القُرْآنُ” yang mengandung arti Shalat itu sendiri. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Isra 78 :

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودً

Artinya : “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan.”

Ayat tersebut merupakan salah satu dari Ayat-ayat Shalat dalam al-Quran yang memiliki ragam pembahasan, diantaranya; perintah mendirikan shalat, sifat orang beriman yang mendirikan dan menjaga shalatnya, keutamanan shalat dan kedudukannya sebagai sarana memohon pertolongan untuk urusan dunia dan akhirat, serta ancaman dan celaan bagi orang yang menyepelekan dan bermalas-malasan mendirikan shalat.

Penulis abad 15 H yang mengarang buku tentang Shalat dalam al-Qur’an adalah Penulis-penulis asal Saudi Arabia, diantaranya; Syekh Mathar bin Daghist al-Mursyidi al-‘Utaibi (w. 1426 H) yang membahas Ayat-ayat Shalat sebagai ibadah ritual dengan jumlah kurang lebih 58 ayat, Prof. Fahad bin Abderrahman bin Sulaiman ar-Rumi yang membahas konsep dan fikih Shalat dalam al-Qur’an (terbit tahun 1996 M), Muhammad bin Abdillah bin Nasir bin Dhafir dalam Disertasinya (terbit tahun 2008 M) yang membahas Shalat serta keterkaitannya dan gaya bahasa al-Quran dalam menjelaskan Shalat dengan kajian tafsir tematik. Seluruh penulisan tersebut menegaskan bahwa kata Shalat dalam al-Qur’an tidak selalu dimaksudkan dengan shalat lima waktu dan shalat lima waktu tidak selalu disampaikan menggunakan kata Shalat, disamping mengupas hal-hal terkait dengan Shalat baik menurut makna konteks Ayatnya maupun menurut makna syar’i-nya yaitu bentuk ibadah sebagaimana shalat lima waktu, shalat jum’at, shalat jama’ah, shalat jenazah, shalat khauf dan beberapa shalat sunnah.

Baca Juga:  Tafsir Surat Al-Ra'du Ayat 28: Inilah Bentuk Dzikir yang Menenangkan Hati

Keberadaan ayat yang mengandung kata Shalat ini perlu dijelaskan makna tafsirnya dengan harapan umat Islam memahami makna kata  Shalat dan keagungan Shalat sebagai sarana ibadah melalui pesan-pesan  al-Qur’an, terutama di tengah meningkatnya hidup materialistik dan hedonistik yang melalaikan mereka dari tujuan hidup dan beragama itu sendiri. Selain itu, penafsiran kata Shalat yang keberadaannya sering berdampingan dengan kata zakat dalam al-Qur’an diharapkan dapat menggugah kesadaran umat Islam akan pentingnya menjadi pribadi yang tangguh dengan karakter “kesalehan total”, tidak hanya kesalehan ritual, melainkan juga kesalehan sosial. Sebuah kaidah menyebutkan “barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan makhluk”.

Memahami kata Shalat dalam Al-Quran tidak cukup tanpa menjalankan shalat seperti tuntunan Nabi Saw. Siapa pun yang ingin menghadirkan Shalatnya dalam kehidupan sehari-hari perlu memaknai dan menyempurnakan ibadah shalatnya. Sehingga dalam konteks hidup beragama dan berbangsa, Shalat tidak hanya memberikan arti bagi pribadi muslim sebagai hamba Allah Swt atau pemimpin bagi diri sendiri, melainkan juga sebagai khalifah atau pemimpin bagi orang lain di muka bumi ini.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

doa miskin

Benarkah Nabi Berdoa Minta Miskin ?

“Ya Allah, hidupkanlah Aku sebagai orang miskin, matikan Aku sebagai orang miskin dan kumpulkan Aku …

kekaguman ulama arab

Kekaguman Ulama Arab pada Indonesia

“Pendidikan Islam di Indonesia mampu menjadikan anak  berakhlak mulia, tercermin dari sikap tawadlu dan rasa …