niat dalam ibadah scaled
niat dalam ibadah scaled

Membantah Pernyataan Salafi Wahabi tentang Hukum Haram Melafadzkan Niat dalam Ibadah

Belakangan ini mulai ramai Meme tentang keharaman melafadzkan niat dalam ibadah. Sudah bisa ditebak siapa pelaku keonaran dalam agama ini, tidak ada lagi kecuali kelompok Salafi Wahabi.

Dalam Meme tersebut, Salafi Wahabi menyatakan bahwa melafadzkan niat ibadah adalah perbuatan haram dan termasuk bid’ah yang tercela. Sebab melafadzkan niat ibadah tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw atau pun para sahabatnya. Niat harus dilakukan di dalam hati, tidak boleh diucapkan. Untuk memperkuat pernyataan ini, mereka tanpa rasa malu mengutip pendapat beberapa ulama madzhab Syafi’i, sekalipun sebenarnya kutipan tersebut tidak sesuai dengan hukum yang mereka tetapkan. Contoh mereka mengutip pendapatnya imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin:

اَلنِّيَّةُ فِي جَمِيْعِ الْعِبَادَاتِ مُعْتَبَرَةٌ بِالْقَلْبِ وَلَا يَكْفِي فِيْهَا نُطْقُ اللِّسَانِ مَعَ غَفْلَةِ الْقَلْبِ وَلَا يُشْتَرَطُ وَلَا يَضُرُّ مُخَالِفَتَهُ الْقَلْبُ

Artinya: “Niat dalam semua ibadah akan diterima dengan melakukannya di dalam hati, sehingga niat tidak cukup dengan mengucapkan lisan sementara hati melalaikannya. Mengucapkan niat dengan lisan tidak menjadi syarat (dalam sahnya ibadah) dan tidak menjadi masalah adanya perbedaan yang terdapat dalam hati dengan lisan”

Ini lah bukti ketidak fahaman mereka terhadap kitab-kitab ulama Salaf. Kata “la yakfi” mereka pahami “bid’ah”. Makna darimana ini ?

Bagaimana sebenarnya hukum melafadzkan niat ?

Ulama mengkategorikan ada tujuh aspek pembahasan terkait dengan masalah niat. Pembahasan tersebut dikumpulkan ke dalam satu Syi’ir yang berbunyi:

حَقِيْقَةٌ حُكْمٌ مَحَلٌّ وَزَمَنْ  #كَيْفِيَّةٌ شَرْطٌ وَمَقْصُوْدٌ حَسَنْ

Artinya: “Hakikat, hukum, tempat, dan waktu… tatacara, syarat, dan tujuannya yang baik”

Apa yang dibahas oleh Salafi Wahabi tentang melafadzkan niat itu berkaitan dengan mahallun niyat (tempat niat).

Ulama sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati. Dari hal ini, ada dua pangkal pembahasan; Pertama, niat tidak sah hanya dengan melafadzkan menggunakan lisan saja sementara hatinya tidak melakukan. Karena yang diperhatikan apa yang ada di dalam hati, sebab itu maka seandainya tidak sama apa yang diucapkan hati dengan yang diucapkan lisan, maka yang dijadikan dijadikan pertimbangan adalah yang ada di dalam hati. Sehingga seandainya orang yang hendak melaksanakan shalat Dzuhur, dalam hatinya berniat shalat ashar dan lisannya mengucapkan shalat Ashar, maka shalat orang tersebut tidak sah. Sebab yang dilihat adalah apa yang ada di hati, bukan yang ada di lisan. Maka dia harus berniat kembali.

Baca Juga:  Siapa yang Pantas Menyandang Gelar Ulama

Kedua, dalam sahnya niat, tidak disyaratkan melafadzkan niat menggunakan lisan, jika dalam hatinya sudah mengucapkan. Sebab apa yang terdapat dalam lisan tidak menjadi perhatian hukum. Kecuali dalam beberapa hal yang tidak terkait dengan ibadah, jual beli, talak, rujuk dan sebagainya. Maka yang diperhatikan adalah apa yang ada di lisan bukan di dalam hati.

Dengan demikian, kaitan hukum melafadzkan niat adalah kepada hukum sah atau tidak sah suatu ibadah (hukum wad’i) bukan berkaitan dengan haram dan wajib (hukum taklifi). Seandainya pun melafadzkan niat hukumnya wajib dalam semisal di luar ibadah, bukan berarti seandainya tidak melafadzkan hukumnya akan haram. Begitu juga, ketika dikatakan niat tempatnya di dalam hati bukan berarti jika melakukan di luar hati kemudian menjadi haram. Pemahamannya jauh sekali.

Sementara pendapat imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin di atas, jelas tidak benar jika menganggap imam Nawawi sedang menghukumi haram kepada orang yang melafadzkan niat dengan lisan. Maksud tidak sah jika hanya sekedar melafadzkan niat di lisan saja sementara di dalam hati tidak mengucapkan. Jadi bukan haram, tapi tidak sah. Terbukti di dalam kitabnya yang lain, imam Nawawi mengatakan “melafadzkan niat hukumnya sunnah”. Dalam kitab Majmu’ ia berkata:

وَلَا يُشْتَرَطُ نُطْقُ الِلّسَانِ بِلَا خِلَافٍ وَلَا يَكْفِى عَنْ نِيَّةِ الْقَلْبِ بِلَا خِلَافٍ وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ اَلتَّلَفُّظُ مَعَ الْقَلْبِ كَمَا سَبَقَ فِي الْوُضُوْءِ وَالصَّلَاةِ

Artinya: “Tidak disyaratkan mengucapkan niat dengan lisah tanpa ada perbedaan pendapat, begitu juga tidak cukup tanpa mengucapkan di dalam hati. Akan tetapi sunah mengucapkan niat dengan lisan bersama hati, sebagaimana dalam wudhu’ dan shalat”

Oleh karena itu, hukum melafadzkan niat sama sekali tidak haram, apalagi dikatakan bid’ah. Karena hukum asal dari niat hanya berkaitan dengan hukum wad’i bukan hukum taklifi. Kecuali ada faktor-faktor eksternal maka hukumnya baru akan berubah, bisa menjadi wajib, sunnah, dan sebagainya.

Baca Juga:  Memaknai dan Menangani Penyakit ala Rasulullah

Wallahua’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

Imam Syafii

Benarkah Imam Syafi’i Menolak Kaum Sufi ?

Wahabi, satu-satunya kelompok dalam Islam yang tidak suka dengan ajaran tasawwuf. Dengan bermacam-macam ujaran yang …

wahabi

Wahabi Haramkan Perayaan Maulid Nabi Saw karena Kesalahan Memahami Hadits

Tidak diragukan lagi, Wahabi satu-satunya kelompok dalam Islam yang mengharamkan perayaan Maulid Nabi saw. dari …