Memoderasi Radikalisme (Bagian I)

0
167

Akan ada di dalam tubuh umatku fitnah fitnah tidak akan selamat darinya kecuali yang dihidupkan oleh Allah dengan ilmu HR At Tirmidzi Memurnikan Tauhid Syaikh Ahmad Zaini Dahlan guru dari pendiri Persyarikatan Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam hadits di atas adalah ilmu tentang Allah SWT yaitu ilmu tauhid yang murni Maksudnya dari ilmu tauhid yang murni adalah ilmu tauhid yang hanya membahas tentang Allah SWT saja tidak menghubungkan ketauhidan Allah SWT dengan kepentingan politik manusia seperti pemahaman Al Hakimiyah yang disalahpahami oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan kemudian menjadi pembenar bagi aksi aksi kekerasan atas nama agama sampai pada saat ini Penafsiran hadits ini oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dibahas dalam pembahasan keutamaan Al Ghaniy Asy Syakir yang disebutkan kelebihannya karena tidak terlena dengan dunia dengan kesadaran bahwa harta yang dikumpulkannya juga merupakan hak bagi kaum lemah dan fakir miskin Pesan penting Syaikh Ahmad Zaini Dahlah kepada KH Ahmad Dahlan dan murid murid beliau lainnya adalah keharusan untuk mendampingi dan membantu kaum fakir miskin karena bantuan kepada kaum fakir miskin merupakan penerang di alam kubur dan di Hari Kiamat nanti Ajaran pemahaman tauhid dan pesan Syaikh Ahmad Zaini Dahlah ini kemudian dijewantahkan oleh KH Ahmad Dahlan dengan aktifitas pengajaran pendidikan dan bantuan sosial bagi kaum fakir miskin yang kemudian dilembagakan dan diwariskan kepada kita semua dalam bentuk Persyarikatan Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan memahami pemurnian tauhid sebagai pemahaman seorang hamba akan Allah SWT yang dijewantahkan dengan bantuan kepada kaum fakir miskin dalam bentuk pendidikan kesehatan dan bantuan materi tanpa upaya untuk merebut kekuasaan karena hanya akan menimbulkan fitnah dan kesengsaraan bagi Umat Islam Pemahaman KH Ahmad Dahlan ini sama dengan pemahaman Proyek Peradaban Islam yang dipahami oleh Mantan Ketua Dewan Syuro Al Jama ah Al Islamiyah Mesir dr Najih Ibrahim bahwa Proyek Peradaban Islam adalah proyek hidayah bukan proyek politik Proyek Peradaban Islam harusnya menyentuh langsung hati dan akal mausia untuk taat kepada Allah SWT dan menolong sesama umat manusia serta melestarikan alam dan peradaban manusia bukan justru merusaknya Khalifah Umar bin Khathab RA yang pada masanya berhasil mengusir Romawi dan Persia di bagian utara Semenanjung Arab bahkan Mesir melarang pasukan Umat Islam untuk merusak peninggalan peradaban Romawi dan Persia sehingga dapat dinikmati oleh kita sampai saat ini sebagai sebuah destinasi wisata Bahkan Umat Islam mempelajari Peradaban Romawi dan Peradaban Persia yang kemudian menjadikan Umat Islam maju dan berkembang pesat karena mentransformasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan dari peninggalan Peradaban Romawi dan Peradaban Persia Membentengi dari Godaan RadikalismePemerintah Mesir memahami bahwa kader dan tokoh Al Jama ah Al Islamiyah JI kebanyakan tidak mengenyam pendidikan di tingkat pasca sekolah menengah atas kecuali sedikit Kebanyakan berasal dari kawasan yang tidak tersentuh pembangunan seperti distrik Dayrut provinsi Asyut distrik Jamaliyah provinsi Daqahlia dan distrik Maghagah provinsi Al Minya Maka pasca dideklarasikannya inisiatif revisi pemikiran dan anti kekerasan pada tahun 1995 Pemerintah Mesir membuka peluang bagi kader dan pimpinan JI untuk melanjutkan jenjang pendidikan Salah satunya adalah dr Najih Ibrahim yang mendalami penyakit kulit dan Thariq Az Zumar yang menyelesaikan program doktoral Baca juga Peran Strategis Ormas dan Tokoh Agama Harus Dimaksimalkan untuk Tangkal RadikalismeSetelah kader dan pimpinan JI bebas dengan lapang dada tanpa dendam pada tahun 2005 Pemerintah memberikan lahan pekerjaan dengan membantu memberikan lapangan kerja dan pelatihan keprofesian Beberapa di antaranya adalah Shabra Al Qasimi yang mendapatkan modal usaha toko ATK Hisyam An Najjar yang aktif menulis di media massa dan dr Najih Ibrahim yang membuka praktek Kehidupan mereka saat ini berlangsung normal dan dapat diterima oleh masyarakat umum seolah tidak pernah mengalami kehidupan di dalam penjara Bahkan ketiganya turut terpanggil hadir dalam diskusi diskusi keilmuan membahas perkembangan radikalisme dan aksi aksi terorisme yang mengatas namakan agama dengan turut memberikan analisis dan masukan tidak hanya bagi Kepolisian akan tetapi juga media massa dan institusi keagamaan yaitu Al Azhar Jendral Besar Suwar Adz Dzahab mantan presiden Sudan saat ini aktif dalam gerakan gerakan filantropi di berbagai Negara Islam dan merekrut kader kader muda dari kalangan Islamis untuk diterjunkan ke daerah daerah konflik daerah bencana dan daerah yang terwabah penyakit sebagai relawan agar hati mereka tersentuh bahwa kenikmatan yang paling besar adalah kehidupan yang normal dan stabil Pandangan ini terinspirasi dari masa transisi Sudan yang diantarnya menuju kondisi politik dan keamanan yang lebih stabil Jendral Besar Suwar Adz Dzahab merupakan keturunan dari Al Abbas bin Abdul Muthalib RA yang saat ini merupakan anggota dari Majelis Hukama Muslimun yang dibentuk oleh Grand Syaikh Al Azhar Prof Dr Ahmad Ath Thayib bersama para ulama ulama sepuh dan berpengaruh lainnya Baca juga RUU Pesantren Sarana Strategis Cegah Bibi Radikalisme Sejak DiniMakram Muhammad Ahmad seorang wartawan senior dari SKH Al Ahram merekam dengan jelas perkembangan proses moderasi atas para kader dan pimpinan JI sampai berhasilnya inisiatif revisi pemikiran dan anti kekerasan yang diragukan oleh banyak pihak Makram Muhammad Mahmud menjelaskan bahwa kader dan pimpinan JI walaupun melawan Pemerintah dan tidak mengakui sistem kenegaraan tetap merupakan anak bangsa yang berhak dirangkul serta mendapatkan kesempatan untuk sejahtera dan hidup layak seperti masyarakat umum Oleh karena itu Makram Muhammad Ahmad mengajak masyarakat untuk menerima dan sering meminta kepada para kader dan pimpinan JI untuk menyampaikan kontra narasi atas narasi radikal dan propaganda terorisme serta menyadarkan masyarakat akan bahaya radikalisme dan terorisme melalui media massa atau pertemuan pertemuan umum Salah satu hasil dari kontra propaganda adalah tulisan tulisan dr Najih Ibrahim yang di antaranya adalah koreksi kritis atas pemikiran Sayid Quthb yang menyamakan para pemimpin Negara Arab dan Negara Islam seperti Abu Jahal dan tidak digunakannya keilmuan keagamaan dalam menafsirkan teks teks Al Qur an akan tetapi menafsirkan Al Qur an dengan emosi dan pandangan kekalahan Umat Islam sebagai landasan untuk menafsirkan Al Qur an dan narasi narasi radikal Sayangnya yang perlu diungkapkan kepada Umat Islam dan publik luas adalah bahwa perlawanan Sayid Quthb dilandaskan kekecewaan karena tidak mendapatkan posisi menteri pendidikan yang telah dijanjikan oleh Jamal Abdul Nasser dengan alasan kemampuan Sayid Quthb hanya pada sebatas membuat naras narasi untuk mengikis pengaruh monarki Hal ini sesuai dengan pengakuan Sayid Quthb kepada rekannya Abbas Khidlr Penulis Mush ab Muqoddas Eka Purnomo Lc Pengamat Terorisme di Timur Tengah The Islah Center