pelarangan riba
pelarangan riba

Menelisik Tahapan Pelarangan Riba dalam al-Qur’an yang Jarang Diketahui

Dewasa ini banyak kalangan yang menyatakan keharaman riba secara mutlak. Padahal, proses keharaman riba disyariatkan secara bertahab. Lantas bagaimana tahapannya? Untuk itulah, tulisan ini akan mengupasnya.

Para mufassir sepakat bahwa keharaman riba secara mutlak terjadi secara bertahap. Salah satu hikmahnya adalah agar hamba-Nya bisa menerima perintah dan larangan dengan keteguhan hati sebab pada saat itu, praktek riba sangat marak dan ‘mencekik’ rakyat kecil.

Tahap pertama, Allah menunjukkan bahwa riba bersifat negatif. 

Pada tahapan pertama, Allah memberikan pernyataan menolak anggapan bahwa pinjaman riba dengan maksud untuk memantu orang itu tidak bisa dijadikan dalih untuk meraih kebaikan disisi-Nya. Yang bisa mendekatkan dan mendatangkan pahalan di sisi Allah adalah membayar zakat.

Hal ini sebagaimana firman Allah berikut:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)” (QS. Ar Ruum: 39).

Ayat di atas merupakan ayat pertama yang berbicara tentang riba. Menurut jumhur mufassir, sebut saja seperti Ibnu Katsir dan At-Thabari, QS. Arruum ayat 39 tersebut termasuk ayat makkiyah. Dan para ulama juga berpendapat bahwa ayat tersebut tidak berbicara tentang riba yang diharamkan.

Tahap kedua, Allah memberikan isyarat tentang keharaman riba.

Isyarat tentang keharaman riba baru muncul pada tahap kedua, tepatnya melalui kecaman terhadap praktek riba di kalangan masyarakat Yahudi. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِير

“Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih” (QS. An-Nisa: 160-161).

Tahap ketiga, Allah mengharamkan salah satu bentuk riba.

Tahapan ketiga, riba belum diharamkan secara mutlak, hanya yang diharamkan salah satu bentu riba saja, yaitu yang bersifat berlipat ganda.

Allah SWT. Berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Ali Imran:130).

Terkait ayat di atas, Abu Ja’far al-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan kriteria berlipat ganda sebagai bukan merupakan syarat terjadinya riba, tetapi merupakan sifat atau karakteristik membungakan uang saat itu.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kata “adh’afan mudha’afah (berlipat ganda), bunga dengan jumlah besar, berlipat ganda atau kecil sekalipun tetap merupakan riba. Pemahaman ayat ini secara komprehensif dapat juga merujuk QS. Al-Baqarah ayat 278-279.

Tahap keempat, Allah mengharamkan riba secara total.

Ini merupakan tahapan yang paling akhir dari rentetan tahapan sebelumnya dan hal ini yang berlaku (hukumnya) hingga saat ini. Hal ini disampaikan melalui firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat: 275, 276 dan 278.

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 276, Allah dengan tegas dan jelas berfirman bahwa jual-beli dengan rib aitu berbeda: jual beli dihalalkan, sementara riba diharamkan. Baru kemudian Allah mengharamkan riba secara mutlak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya”. (QS. Al Baqarah: 278-279).

Dalam taapan terakhir ini, Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk meninggalkan segala bentuk riba. Keharaman riba secara total ini, menurut ulama fikih sebagaimana dikutip dari buku “Keadilan Distributif dalam Ekonomi Islam” karya Euis Amalia, terjadi apada abad kedelapan atau awal abad ke-9 hijriah.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

misteri lelaki penghuni surga

Dear Wahabi, Kunci Masuk Surga Tidaklah Cukup Hanya Melakukan Shalat Malam Saja!

Salah satu ciri gerakan dan paham Wahabi adalah gemar menyalahkan kelompok lain (selain kelompoknya) meskipun …

kiamat

Kedua Kaki Seorang Hamba di Hari Kiamat Tidak Akan Bergerak Sebelum Kepadanya Diajukan Empat Pertanyaan Ini

Desember 2022 akan segera berakhir. Itu artinya, tidak lama lagi segenap penduduk di muka bumi …

escortescort