tafsir sufi
tafsir

Mengapa Terdapat Pengulangan Kata Dalam Al-Qur’an? Ini Alasannya!

Al-Qur’an adalah kitab penyempurna kitab-kitab sebelumnya, pedoman hidup manusia yang tidak pernah lekang oleh zaman. Keindahan sistematika penulisan setiap katanya tidak ada satu makhluk pun yang dapat menandinginya. Kata-kata Al-Qur’an menggambarkan kepada kita bahwa I’jaz Al-Qur’an adalah sebuah bentuk rangkaian retorika yang sangat indah dan akan mengalami revolusi pada tiap generasi.

Dari salah satu al-i’jaz yang terdapat dalam al-Qur’an adalah pengulangan yang terjadi pada ayat-ayatnya atau yang lebih dikenal dalam cabang ilmu Al-Qur’an al-tikrar. Hikmah dari pengulangan ini antara lain adalah untuk penegasan dalam perkataan, keindahan dalam berbahasa dan kecakapan dalam retorika.

Pengertian Pengulangan Kata (Tikrar) dalam Al-Qur’an

Untuk menciptakan kalimat-kalimat yang efektif (yang bernilai balaghah), disamping dilakukan dengan uslub I’jaz dan Qasr, dalam kondisi tertentu juga diperlukan uslub Tikrar. Yang dimaksud tikrar disini adalah perulangan sebuah kata atau kelompok kata yang sama persis.

Definisi kata al-tikrar secara etimologi adalah mengulang atau mengembalikan sesuatu berulangkali. Adapun menurut istilah al-tikrar berarti “  اعادة اللفظ او مرادفة لتقرير المعنى“ mengulangi lafal atau yang sinonimnya untuk menetapkan (taqrir) makna. Selain itu, ada juga yang memaknai al-tikrar dengan “ ذكر الشي مرتين فصاعدا “ menyebutkan sesuatu dua kali berturut-turut atau penunjukan lafal terhadap sebuah makna secara berulang. Sedangkan yang di maksud dengan al-tikrar dalam al-Qur’an adalah pengulangan redaksi kalimat atau ayat dalam al-Qur’an dua kali atau lebih, baik itu terjadi pada lafalnya ataupun maknanya dengan tujuan dan alasan tertentu.

Menurut Ibnu Naqib ia mengartikan bahwa tikrar adalah lafadz yang keluar dari seorang pembicara lalu mengulanginnya dengan lafadz yang sama, baik lafadz yang di ulanginya tersebut semantic dengan lafadz yang ia keluarkan ataupun tidak, atau ungkapan tersebut hanya dengan maknanya bukan dengan lafadz yang sama.

Macam-Macam Pengulangan Kata dalam Al-Qur’an

Pertama, Tikrar al Lafdzi, yaitu pengulangan redaksi ayat di dalam al Qur’an baik berupa huruf-hurufnya, kata ataupun redaksi kalimatnya dan ayatnya. Maksud pengulangan pada jenis ini adalah, pengulangan yang ada pada satu tema. Seperti pengulangan pada beberapa ayat yang berdekatan atau pada pembahasan yang sama di surat yang berbeda, atau pada surat yang sama. Adapun contoh dari pengulangan kata, dapat dilihat pada QS. Al-Fajr (89): 21-22:

كَلا إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا  * وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Artinya: “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajr 89:21-22)

Kedua, tikrar al-ma’nawia, yaitu pengulangan redaksi ayat di dlam al-Qur’an yang pengulangannya lebih dititikberatkan kepada makna atau maksud dan tujuan pengulangan tersebut. Sebagai contoh QS. Al-Baqarah (2): 238:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah 2:238)

Al-Shalat al-wustha yang disebut dalam ayat di atas adalah pengulangan makna dari kata al-shalawat sebelumnya, karena masih merupakan bagian darinya. Adapun penyebutannya sebagai penekan atas perintah pemeliharaannya.

Ketiga, Tikrar  (al-Numt al-nahwi) yaitu, pengulangan pada jenis ini, lebih kepada keindahan alunan musik yang ditimbulkan, bukan pada berapa kali diulangnya suatu kalimat. Pengulangan jenis ini menguatkan estetika al-Qur`an, sehingga jiwa pun akan terus rindu untuk mentadaburinya, sebagaimana pengulangan pada jenis ini juga membantu seseorang untuk mengahafal ayat-ayat tersebut dengan mudah. Jenis pengulangan ini sering kita dapatkan pada surat-surat makiyah, yaitu surat-surat yang turun sebelum hijrah nabi ke Madinah. Salah satu cirri surat-surat Makiyah antara lain, yang potongan-potongan ayat dan juga keseluruhan berukuran pendek.

Fungsi Pengulangan Kata dalam Al-Qur’an

Dalam bukunya al Itqan Fi ‘Ulum al Qur’an,imam as Suyuthi menjelaskan fungsi dari penggunaan tikrar dalam al-Qur’an. Di antara fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, sebagai Taqrir (Penetapan)

Dikatakan, ucapan jika terulang berfungsi menetapkan. Diketahui bahwa Allah telah memperingatkan manusia dengan mengulang-ulang kisah nabi dan umat terdahulu, nikmat dan azab, begitu juga janji dan ancaman. Maka pengulangan ini menjadi satu ketetapan yang berlaku. Ini sejalan dengan fungsi dasar dari kaedah tikrar bahwa setiap perkataan yang terulang merupakan tiqrar (ketetapan) atas hal tersebut.

sebagai contoh Allah berfirman surah. Al-An‘am ayat 19 yakni: “Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.” Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Kedua, sebagai Ta’kid (Penegasan) Dan Menuntut Perhatian Lebih.

Pembicaraan yang diulang mengandung unsur penegasan atau penekanan, bahkan menurut imam as Suyuthi penekanan dengan menggunakan pola tikrar setingkat lebih kuat disbanding dengan bentuk ta’kid. Hal ini karena tikrar terkadang mengulang lafal yang sama, sehingga makna yang dimaksud lebih mengena. Selain itu, Agar pembicaraan seseorang dapat diperhatikan secara maksimal maka dipakailah pengulangan tikrar agar si obyek yang ditemani berbicara memberikan perhatian lebih atas pembicaraan tadi. Contohnya, Allah berfirman dalam surah Al-Mu’min ayat 38-39 :

وَقَالَ ٱلَّذِىٓ ءَامَنَ يَٰقَوْمِ ٱتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ * يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

Artinya: “Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Al-Mu’min 40: 38-39).

Ketiga, Pembaruan terhadap Penyampaian yang telah Lalu

Jika ditakutkan poin-poin yang ingin disampaikan hilang atau dilupakan akibat terlalu panjang dan lebarnya pembicaraan yang berlalu maka, diulangilah untuk kedua kalinya guna menyegarkan kembali ingatan para pendengar. Sebagai contoh, dalam alQur’an Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 89:

وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا۟ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا۟ كَفَرُوا۟ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah 2:89)

Keempat, sebagai Ta‘Zhim (Menggambarkan Agung dan Besarnya Satu Perkara).

Mengenai hal ini, telah dipaparkan dalam kaidah bahwa salah satu fungsi dari tikrar atau pengulangan adalah untuk menggambarkan besarnya hal yang dimaksud, sebagaimana pemberitaan tentang hari kiamat dalam surah  al Qari’ah ayat 1-3:

الْقَارِعَةُ * مَا الْقَارِعَةُ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ *

Artinya: “Hari Kiamat. apakah hari Kiamat itu?. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?” (Al-Qari’ah 101: 1-3)

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Tikrar merupakan salah satu bentuk i’jaz dalam al-Quran yang berfungsi sebagai penegasan sebuah ayat atau kalimat dengan cara pengulangan redaksi ayatnya, huruf-hurufnya, kata ataupun redaksi kalimat dan ayatnya.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

bulan rajab

Mari Mengambil Keutamaan Bulan Rajab di Momen Tahun Baru

Malam 1 Rajab 2025 jatuh pada tahun baru Masehi 2025.  Tahun baru, seringkali menjadi momen …

Khatib Salat Jumat

Sejarah Khutbah Jumat Membaca Surah An-Nahl Ayat 90, Serta Memetik Kandungan Makna Dalam QS An-Nahl Ayat 90

Surah An-Nahl ayat 90 menjadi salah satu ayat yang penuh makna dan pelajaran, baik dari …