ahmad khatib sambas
khatib sambas

Mengenal Syeikh Ahmad Khatib Sambas Asal Kalimantan Barat

Lahir di kampung Dagang atau Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat pada 1217 H bertepatan dengan tahun 1802 M. Satu hal yang sangat istimewa dari beliau adalah kepiawaiannya dalam penguasaan ilmu tentang tasawuf. Wajar kalau kemudian beliau dikenal sebagai Syeikh Mursyid Kamil Mukammil.


Ilmu keislaman pernah mengalami masa keemasan di Nusantara. Tradisi untuk belajar agama Islam menyeruak dengan himmah dan semangat tinggi. Fenomena menggembirakan ini ditandai dengan munculnya beberapa ulama Nusantara dengan kapasitas keilmuan yang tak diragukan. Wajar kalau waktu itu agama Islam berkembang secara pesat di Indonesia.

Masyarakat tertarik untuk memeluk Islam. Ulama yang tampil elegan dengan cerminan beragama yang utuh, akhlak yang baik dan mampu mengurai hukum agama secara lentur, mampu menarik simpati masyarakat Indonesia. Dari salah satu pulau terbesar di Indonesia, Kalimantan Barat, ada satu nama ulama yang terkenal mumpuni penguasaan ilmu agama seperti fiqih, tafsir, ilmu hadis dan lain-lain. Bahkan lebih dari itu, sosok kenamaan ini juga merambah dunia sufi.

Bukan hanya pada tataran keilmuan dalam bidang sufisme saja yang dikuasi, pengamalannya juga dilakukan dengan sangat luar biasa. Alim dan mengamalkan. Dialah Syaikh Ahmad Khatib Sambas pendiri thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyyah. Nama lengkapnya  Ahmad Khatib Sambas bin Abdul Ghaffar al Sambasi al Jawi. Al Jawi berarti Indonesia secara umum.

Lahir di kampung Dagang atau Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat pada 1217 H bertepatan dengan tahun 1802 M. Ahmad Khatib kecil belajar agama Islam di tempat lahirnya sampai menginjak usia dewasa.

Memasuki usia sembilan belas tahun, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Makkah pada permulaan abad ke-19. Di tanah kelahiran Rasulullah ini,  beliau menetap dan memperdalam ilmu agama selama kuartal kedua abad 21 sampai meninggal dunia pada tahun 1289 H/1872 M. Riwayat lain menyebutkan beliau wafat pada tahun 1875.

Baca Juga:  Gembira atas Derita Orang Lain itu Sifat Munafik dan Psikopat

Selama di Makkah, beliau belajar berbagai disiplin ilmu agama Islam. Sufisme pun tak ketinggalan ia pelajari. Berkat ketekunan dan keuletannya, Ahmad Khatib menjadi seorang yang alim. Oleh karena itu, ia menjadi seorang ulama yang keberadaannya sangat diperhitungkan serta mendapat posisi terhormat di antara teman-temannya waktu itu.

Sahabat-sahabat dan teman sejawatnya begitu kagum terhadap  keilmuan mumpuni yang dimilikinya. Bahkan lebih dari itu, ajarannya tentang sufisme atau thoriqah berpengaruh kuat hingga sampai ke Indonesia.

Guru-guru Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Sebagaimana lazimnya para penuntut ilmu , selama menekuni ilmu agama di Makkah, ulama dari tanah Melayu ini belajar kepada beberapa Syaikh atau guru. Di antara gurunya antara lain ; Syaikh Daud ibn Abdullah ibn Idris al ­Fatani (w. 1843), seorang ulama besar yang menetap di Makkah, Syaikh Syamsuddin, Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari (w. 1812). Bahkan ada sumber yang menyatakan bahwa beliau juga murid dari Syeikh Abdul Samad al Palembangi (w. 1800).

Satu hal yang sangat istimewa dari Ahmad Khatib adalah kepiawaiannya dalam penguasaan ilmu tentang tasawuf. Wajar kalau kemudian seluruh murid Syeikh Syamsuddin memberikan penghargaan yang tinggi atas Kompetensinya serta menobatkannya sebagai Syeikh Mursyid Kamil Mukammil.

Guru-guru beliau yang lain adalah Syaikh Muhammad Salih Rays, seorang mufti bermadzhab Syafi’i, Syeikh Umar bin Abd al-Rasul al-Attar, juga mufti bermadzhab Syafi’I (w. 1249 H/833/4 M), dan Syaikh ‘Abdul Hafiz ‘Ajami (w. 1235 H/1819/20 M). Tidak cukup sampai di sini, beliau  juga menghadiri pelajaran yang diberikan oleh Syeikh Bisri al-Jabarti, Sayyid Ahmad Marzuki, seorang mufti bermadzhab Maliki, Abdullah yang akrab dpanggil Ibnu Muhammad al-Mirghani (w 1273 H/1856/7 M), seorang mufti bermadzhab Hanafi serta Usman ibn Hasan al Dimyati (w 1849 M).

Baca Juga:  Cara Memandikan dan Menshalati Jenazah Korban Kecelakaan yang Tidak Utuh

Dari sini bisa diketahui, Syaikh Khatib Sambas telah mendalami ilmu Fiqh yang dipelajarinya dari guru-guru yang representatif dari tiga madzhab besar Fiqh. Sementara, al-Attar, al-Ajami dan al-Rays juga tiga ulama yang terdaftar sebagai guru-guru sezaman Khatib Sambas, Muhammad ibnu Sanusi (w. 1859 M), pendiri tarekat Sanusiyah. Baik Muhammad Usman al-Mirghani, pendiri tarekat Khatmiyah yang sekaligus saudara Syeikh ‘Abdullah al-Mirghani maupun Ahmad Khatib Sambas, keduanya juga anggota dari sejumlah tarekat yang kemudian ajaran-ajaran taraket tersebut digabungkan menjadi tarekat tersendiri.

Dalam kasus tarekat Khatmiyah, tarekat ini penggabungan dari tarekat Naqsabandiyyah, Qadiriyyah, Khistiyah, Kubrawiyah dan Suhrawardiyah. Sementara dalam catatan pinggir kitab Fath al ’Arifin dinyatakan bahwa sejumlah unsur tarekat penulis kitab tersebut adalah Naqsabandiyyah, Qadiriyyah, al Anfas, al Junaid, serta al Muwafaqa, sebagaimana yang disebutkan sejumlah sumber, tarekat Samman juga menggabungkan seluruh aliran tarekat di atas.

Kemungkinan besar faktor yang membuat Syaikh Ahmad Khatib Sambas tertarik untuk menggabungkan tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah karena kelenturan ajaran dua tarekat tersebut. Dalam tradisi sufi, memodifikasi ajaran tarekat merupakan hal yang biasa dilakukan. Mengingat keahlian dan kepiawaiannya, bisa dimaklum seandainya  Syaikh Khatib Sambas menamakan tarekat yang didirikannya dengan nama baru.

Tarekat al Sambasiyah atau al Khatibiyah misalnya, sebagaimana kebanyakan aliran tokoh pendiri tarekat lainnya yang biasanya menamakan tarekat dengan nama pendirinya. Namun Khatib Sambas justru memilih menamakan tarekatnya dengan Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Di sini ia lebih menekankan aspek dua aliran tarekat yang dipadukannya dan untuk menunjukkan bahwa tarekat yang didirikannya benar-benar asli.

Murid-murid Syaikh Ahmad khatib Sambas

Sebagai ulama yang mampu dan sukses menggabungkan dua aliran tarekat terkenal, maka secara otomatis pangkat mursyid atau guru tarekat disandangnya. Tak heran kalau kemudian Ahmad khatib Sambas memiliki banyak murid dan pengikut. Murid-murid beliau kemudian andil besar dalam penyebaran tarekat yang beliau dirikan.

Baca Juga:  TGKH. Muhammad Zainudin: Sang Mujahid Sejati dan Ulama Nasionalis dari Pulau Sasak

Mayoritas murid-murid Ahmad Khatib Sambas berasal dari Indonesia, khususnya dari tanah Jawa dan Madura.  Kemudia merekalah yang meneruskan tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah ketika pulang ke Indonesia. Diantara murid-muridnya tersebut adalah Abdul Karim, Banten, Kyai Ahmad Hasbullah ibn Muhammad, Madura, Muhammad Ismail ibn Abdurrahim, Bali, Abdul Lathif bin Abdul Qadir al­ Sarawaki, Serawak, Syaikh Yasin, Kedah, Syaikh Nuruddin, Filipina, Syaikh Nuruddin, Sambas, Syaikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad, Tasikmalaya. Dari murid-muridnya inilah kelak ajaran tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah sampai dan menyebar luas ke pelosok Nusantara.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Hari Kemerdekaan Agustus

Anugerah Allah SWT, Kemerdekaan Wajib Disyukuri dan Diisi dengan Kebaikan serta Kepatuhan kepada-Nya

Jakarta – Kemerdekaan adalah anugerah besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri. Kemerdekaan juga harus …

Ngatawi Al Zastrouw

Kunci Utama Orang Terjangkit Radikalisme Karena Pemahaman Agama yang Salah

Jakarta – Kunci utama orang bisa terjangkit virus radikalisme karena pemahaman agama yang salah dan …