ahmad khatib sambas
khatib sambas

Keistimewaan Syeikh Ahmad Khatib Sambas: Penyatu Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah

Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Ghafar as-Sambasi al-Jawi, lebih dikenal dengan Syaikh Ahmad Khatib as-Sambasi. Ia adalah seorang ulama besar dari kalangan Bangsa Melayu, yang menetap di tanah suci Makkah pada abad ke-19 M yang lalu. Ulama ini adalah ahli fikih sekaligus tasawuf, ulama intelektual sekaligus tokoh spiritual. Beliau berhasil menyatukan amalan tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsyabandiyah, menjadi tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dengan beliau langsung sebagai mursyidnya di Makkah. Yang kemudian tersebar keseluruh dunia, termasuk Indonesia.

Biografi Singkat Ahmad Khatib Sambas

Beliau dilahirkan tahun 1803 (awal abad ke-19 M) di Kampung Dagang, atau Kampung Asam, kota Sambas, Kalimantan Barat. Pada saat itu Sambas masih merupakan sebuah kerajaan Islam, dengan pusat pemerintahannya di kota Sambas. Sejak kanak-kanak beliau terkenal sebagai santri yang cerdas, dan memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan teman-teman sebayanya. Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah pada tahun 1820 M.

Beliau pergi ke tanah suci Makkah, untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim disanauntuk melanjutkan pendidikannya. Setelah menetap di Makkah, beliau tidak pernah pulang kembali ke kampung halamannya hingga akhir hayatnya (1875 M). Di Makkah beliau belajar kepada ulama-ulama al-Jawi, yang telah dahulu menetap di sana maupun ulama-ulama asli Timur Tengah. Beliau mempelajari ilmu-ilmu keIslaman, sehingga terkenal sebagai seorang yang alim. Beliau sangat menguasai ilmu fikih, di samping juga ahli dalam ilmu tafsir dan hadits. Dan lebih dari itu beliau juga terkenal sebagai ahli tasawuf (sufi), dan inilah yang menjadi dunianya di kala beliau berusia senja.

Di antara guru Ahmad Khatib Sambas yang paling terkenal, dan banyak memberikan warna kepadanya adalah Syaikh Dawud al-Fathani al-Jawi (w 1843) seorang ulama asal Patani. Ulama ini terkenal sebagai sufi yang menjaga keseimbangan antara fikih dan tasawuf, mursyid tarekat Syathariyyah. Di samping itu, Ahmad Khatib berguru pula kepada Syaikh Syamsuddin dan berbaiat tarekat Qadiriyah kepadanya. Dari semua murid-murid Syaikh al-Din, Ahmad Khatib mencapai tingkat tertinggi dan kemudian ditunjuk sebagai Syaikh Mursyid Kamil Mukammil (Pemimpin tertingi dalam suatu tarekat). Untuk tarekat Naqsyabandiyah, Ahmad Khatib berguru dan berbaiat kepada Syaikh Sulaiman Efendi mursyid tarekat tersebut yang berpusat di Jabal Abi Qubais.

Baca Juga:  Empat Hal yang Disunnahkan Ketika Pulang Haji

Syaikh Ahmad Khatib Sambas menjadi seorang ulama yang besar, dan tidak pernah kembali ke Sambas dan menetap di Mekah. Kemudian beliau membuka halaqah tersendiri, dengan murid-murid yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia termasuk dari kalangan al-Jawi sendiri. Di samping mengasuh santri dari kalangan umum untuk mempelajari ilmu-ilmu ke Islaman, beliau juga membina santri-santri khusus yakni para salik pengikut tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Karena ilmu beliau memang banyak dan santri juga mempunyai pilihan yang tidak sama, maka tidak heran kalau setelah menjadi ulama besar murid-murid Syaikh Ahmad Khatib Sambas ada yang mewarisi kemampuan intelktual beliau dan ada yang mewarisi kemampuan spiritual beliau khususnya tarekat.

Ahmad Khatib Sambas Berhasil Menggabungkan Dua Tarekat

Syaikh Ahmad Khatib Sambas berhasil menggabungkan dua tarekat yang cukup berbeda penekanan dan tata caranya ini, yakni tarekat Qadiriyah (yang didirikan oleh Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani 1077-1166 M) dan tarekat Naqsyabandiyah (yang didirikan oleh Syaikh Muhammad ibn Muhammad Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari an-Naqsyabandi 1318-1389 M). Dan meramunya menjadi satu tarekat baru yang kemudian diberi nama tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (1843 M).

Dengan demikian artinya beliaulah yang menciptakan tarekat tersebut, yang mungkin di Kampung halamannya sendiri beliau telah dilupakan orang. Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadhu’ dan ta’zim dari Syaikh Ahmad Khatib yang sangat alim itu kepada pendiri kedua tarekat tersebut, sehingga ia tidak menisbatkan nama tarekatnya kepada dirinya. Padahal, kalau melihat modifikasi ajaran dan tata cara ritual tarekatnya itu, sebenarnya lebih tepat kalau dinamakan dengan Tarekat Khatibiyah/ Sambasiyah karena tarekat ini merupakan hasil ijtihadnya.

Di dalam buku Sri Mulyari, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah termasuk di dalam tarekat yang mu’tabarah. Kitab Fathul Arifin dianggap sebagai sumber ajaran TQN, manuskripnya hanya terdapat satu buah yaitu diperpustakaan Nasional, Jakarta. Yang disusun oleh muridnya, Ma’ruf Al-Palimbani. Adapun kitab dicetak dan berdar secara luas, adalah tulisan muridnya, Abdurrahim al-Bali sebagaimana terdapat dalam colophoni (halaman penutup) kitab tersebut. Kitab tersebut sangat singkat namun padat, berisi ajaran-ajaran TQN secara garis besar. Yaitu tata cara membaiat, sepuluh macam lathaif, bentuk banyak dari lathifah berarti (titik) halus (di dalam tubuh manusia). Kemudian ia menjelaskan tentang dzikir dalam tarekat Qadiriyah, dan diteruskan dengan penjelaskan tentang dzikir dalam Naqsyabandiyah.

Baca Juga:  John L. Esposito dan Juru Bicara Islam di Barat

Syaikh Ahmad Khatib Sambas menerangkan tentang tiga syarat yang harus dipenuhi orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu dzikir diam dalam ingat (merasa selalu diawasi Allah di dalam hatinya dan pengabdian kepadaSyaikh). Kemudian, diakhiri dengan penjelasan rinci tentang dua puluh macama meditasi (muraqabah).

Sejarah Perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia

Pengembangan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang kelihatannya baru dikenal di Asia Tenggara, memang bermula dari kitab Fathul Arifin. Walaupun murid Syaikh Sambas yang utama yaitu Syaikh Abdul Karim Banten (lahir 1840 M), tampaknya tidak mengembangkan ajaran TQN. Namun generasi sesudahnya terutama di pusat-pusat TQN di Jawa, Qadiriyah wa Naqsyabandiyah relatif maju dan berkembang dengan pesat. Syaikh Abdul Karim di tunjuk Syaikh Sambas sebagai pengantinya, ia telah bersam-sama Syaikh Khatib Sambas sejak masa kecil saat belajar di Makkah.

Tugasnya yang pertama adalah menyebarkan tarekat ini di Singapura selama beberapa tahun, pada tahun 1972 M ia pulang ke kampung halamannya di Lampuyang dan menetap di sana selama kurang lebih tiga tahun. Kemudian pada tahun 1876 M, ia dipanggil ke Makkah untuk menjadi khalifah Syaikh Sambas sebagai pemimpin tertingga tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

ulil albab

Makna dan Karakteristik Ulil Albab dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran orang-orang yang menggunakan akalnya diberi sebutan dengan gelar ulil albab (orang-orang yang …

moderasi beragama dalam al-quran

4 Prinsip Ajaran Moderasi Beragama dalam Al-Qur’an

Moderasi beragama berdasarkan definisi yang diberikan oleh kementerian agama lewat buku yang disusunnya berjudul ModerasiBeragama, …