ibnu taimiyah
ibnu taimiyah

Mengenal Tokoh Wahabi (2): Ibnu Taimiyah Al Harrani

Di dalam aliran Wahabi, Ibn Taimiyah merupakan sosok ulama’ yang sangat disanjung-sanjung. Mereka menganggap dia adalah mujaddid (pembaharu) dalam Islam, karena pemikiran dan gerakannya mendobrak tradisi-tradisi Islam yang dinilai menyimpang jauh dari ajaran Islam, bahkan sampai kepada tingkat kufur. Dari pemikiran Ibn Taimiyah lah, Muhammad bin Abdil Wahhab, pendiri Wahabi, melucuti semua tradisi-tradisi Islam yang berlaku pada saat itu, dan meluluh lantakkan situs-situs Islam yang sebelumnya dilestarikan oleh umat Islam.

Nama lengkap Ibn Taimiyah adalah Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taquyuddin bin Syihabuddin bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Abdullah bin Taimiyah. Lahir di kota Harran pada tahun 661 Hijriyah dan meninggal pada tahun 729.

Sama dengan Muhammad bin Abdil Wahab, Ibn Taimiyah juga mengalami kritikan dan hujatan dari ulama’-ulama’ lainnya karena pemikirannya yang menyimpang.

Menurut Syaikh Waliyuddin Al Iraqi, Ibn Taimiyah menyalahi ijma’ ulama’ sekitar pada 60 masalah. Sebagian dalam masalah Ushuluddin (pokok-pokok agama) dan sebagian masalah Furu’uddin (cabang-cabang agama)[1]. Sebab itu, Ibn Taimiyah oleh ulama’ yang hidup di masa itu digolongkan kepada kelompok ahlul bid’ah.

Di antara ulama’ yang mengkritik Ibn Taimiyah adalah Al Hafidz Al Imam As Subki. Di dalam kitabnya ia mengatakan:

لَمَّا أَحْدَثَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ مَا أُحْدِثَ فِي أُصُوْلِ الْعَقَائِدِ، وَنَقَضَ مِنْ دَعَائِمِ الْإِسْلَامِ الْأَرْكَانِ وَالْمَعَاقِدِ، بَعْدَ أَنْ كَانَ مُسْتَتِرًا بِتَبْعِيَّةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، مُظْهِرًا أَنَّهُ دَاعٍ إِلَى الْحَقِّ هَادٍ إِلَى الجَنَّةِ، فَخَرَجَ عَنِ الْاِتِّبَاعَ إِلَى الْاِبْتِدَاعِ، وَشَذَّ عَنْ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ بِمُخَالَفَةِ الْإِجْمَاعِ، وَقَالَ بِمَا يَقْتَضِي الْجِسْمِيَّةَ وَالتَّرْكِيْبَ فِي الذَّاتِ الْمُقَدَّسِ

Artinya: “Ibn Taimiyah benar-benar telah membuat bid’ah-bid’ah dalam pokok-pokok aqidah, dan telah merobohkan tonggak-tonggak Islam dan sendi-sendi Islam. Setelah ia sebelumnya bersembunyi dalam ikut kepada Al Qur’an dan As Sunnah, menampakkan dirinya seolah-olah mengajak kepada kebenaran dan petunjuk ke syurga. Dan ternyata, ia bukan mengikuti sunnah-sunnah Nabi saw, tetapi pembuat bid’ah-bid’ah. Ia menyimpang dari umat islam dan menentang Ijma’. Dan ia juga berkata, bahwa Allah swt berbentuk jisim (benda) dan memiliki ketersusunan”[2].

Baca Juga:  Mengenal Tokoh Wahabi (1): Muhammad Bin Abdul Wahab

Dalam ulama’ Syafi’iyah, misal seperti Ibn Hajar Al Haitami juga berkomentar negatif terhadap Ibn Taimiyah. Dalam karyanya, Ibn Hajar berkata:

وَلَا يُغْتَرُّ بِإِنْكَارِ ابْنِ تَيْمِيَةَ لِسَنِّ زِيَارَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ عَبْدٌ أَضَلَّهُ اللهُ كَمَا قَالَهُ الْعِزُّ ابْنُ جَمَاعَةَ

Artinya: “Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibn Taimiyah tentang kesunnahan berziarah kepada makam Rasulullah saw, karena Ibn Taimiyah merupakan hamba Allah swt yang telah disesatkan oleh Allah swt, sebagaimana yang dikatakan Al Izz ibn Jama’ah”[3]

Bukan hanya ulama’ yang sejak awal berakidah berbeda dengan Ibn Taimiyah, bahkan muridnya sendiri, Ad Dzahabi dalam kitabnya Bayan Zaghal Ilmi Wat Thalabah mengatakan:

فَمَا وَجَدْتُ أَخَّرَهُ بَيْنَ أَهْلِ مِصْرٍ وَالشَّامِ وَمَقْتَتْهُ نُفُوْسُهُمْ وَازْدَرُوْا بِهِ وَكَذَّبُوْهُ وَكَفَّرُوْهُ إِلَّا الْكِبَرَ وَالْعَجَبَ وَفَرْطَ الْغَرَامِ فِي رَئَاسَةِ الْمَشِيْخَةِ وَالْأَزْدَرَاءِ بِالْكُبَّارِ

Artinya: “Apa yang saya dapatkan, bahwa penyebab para penduduk Mesir dan Syam mendiskreditkan Ibn Taimiyah, serta dibenci dan dihina, didustakan bahkan dikafirkan adalah karena ia sombong, terlena oleh diri dan ujubnya, lalai dalam mencintai para pemimpin ulama’, hingga menghina pembesar-pembesar ulama’. Lihatlah betapa berbahayanya pengakuan-pengakuan bukan haknya dan menampakkan hawa nafsu”[4]

Sebab kritikan ulama’ yang tajam terhadap penyimpangan Ibn Taimiyah, Syaikh Taqiyuddin Al Husni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah, menilai Ibn Taimiyah sudah kufur sesuai berdasarkan ijma’ ulama’[5].

Di antara ulama’ yang pernah berdebat dengan Ibn Taimiyah adalah:

  1. Al Qadhi Al Mufassir Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah As Syafi’i
  2. Al Qadhi Muhammad Ibn Al Hariri Al Anshari Al Hanafi
  3. Al Qadhi Muhammad Ibn Abu Bakar Al Maliki
  4. Al Qadhi Ahmad bin Umar Al Maqdisi Al Hanbali.
Baca Juga:  Arsitektur Masjid dan Cermin Kekuatan Adaptasi Islam

Dengan ke empat qadhi tersebut, Ibn Taimiyah dipenjara pada tahun 726 H. Dan berkali-kali Ibn Taimiyah dengan kesalahan yang sama, hingga ia pun meninggal di dalam penjara.

Wallahu a’lam

 

[1] Waliyuddin Al Iraqi, Al Ajwibah Al Mardhiyyah, hal 93

[2] As Subki, Ad Durar Al Mudhiyah Fi Arradd Ala Ibni Taimiyah, Hal 11

[3] Ibn Hajar Al Haitami, Hasyiyah Al Idhah Fi Manasik Al Hajj Wal Umrah Lin Nawawi, Juz 1, Hal 154

[4] Adz Dzahabi, Bayan Zaghal Al Ilmi Wat Thalab, Hal. 17

[5][5] Taqiyuddin Al Husni, Daf’u Syubhah Man Syabbah, Hal. 45

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …