kisah nabi

Mengenang Hijrah: Strategi Ilahi untuk Menyelematkan Umat

Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir yang diberikan amanat oleh Allah untuk menyebarkan ajaran Islam yang penuh rahmat. Namun, dalam perjalanannya, misi rahmat itu harus berhadapan dengan berbagai rintangan dari kaum yang dilaknat.

Hidup di tengah manusia yang buta hati dan penyembah berhala, dakwah Rasulullah sangat ditentang dan dicaci maki. Berbagai makian, fitnah, siksaan dan ancaman diterimanya. Bahkan beberapa kali Rasulullah diincar untuk dibunuh oleh kaum Quraisy.

Lihatlah Rasulullah sang Pemimpin umat. Bukan memikirkan keselamatannya, Rasulullah justru sangat mengkhawatirkan kaumnya yang sebagian besar disiksa oleh petinggi Quraisy. Karena alasan itulah,Rasulullah menyarankan kaumnya untuk bebrhijrah dari Makkah ke kota Yastrib (Madinah).

Pilihan Madinah tentu bukan sekedar ijtihad semata, tetapi juga tuntunan ilahi. Hal ini sebagaimana diceritakan Nabi :

رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ

Artinya Aku pernah mimpi berhijrah (pindah) dari Makkah menuju suatu tempat yang ada pohon kurmanya. Lalu aku mengira daerah itu ialah Yamamah atau Hajr (Ahsâ`), (namun) ternyata daerah itu adalah Yatsrib. (Hr Bukhari dan Muslim).

Rasulullah memilih kota Yastrib karena Rasulullah menganggap di kota tersebut dianggap masih kondusif karena suku Aus dan juga Khazraj telah banyak memeluk dan ingin mengetahui tentang Islam. Saat mulai hijrah ke Yatsrib, Rasulullah menggunakan strategi karena pihak Quraisy tidak menghendaki mereka untuk berhijrah.

Beliau meminta Abu Bakar agar menemaninya dalam hijrah. Rasulullah dan pengikutnya berusaha mengelabui para kaum Quraisy. Tanpa di sangka, ternyata Abu Bakar telah menyiapkan dua ekor unta yang dititikannya untuk di pelihara oleh Abdullah bin Uraiqiz dan diambilnya ketika persiapan untuk hijrah telah selesai.

Baca Juga:  Strategi Dakwah Wali Songo : Kompromi Syariat, Tasawuf dan Lokalitas

Ketika meninggalkan Makkah, Rasulullah memutuskan menempuh jalan lain dari yang biasanya. Menjelang larut malam, Rasulullah keluar menuju rumah Abu Bakar, dan kemudian keluar dan bertolak menuju gua Tsur. Tak ada orang yang mengetahui rencana tersebut kecuali Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar, serta pembantu mereka  Amir bin Fuhairah.

Rasulullah bersama dengan Abu Bakar tinggal di gua tersebut selama tiga hari lamanya. Para algojo yang diberikan mandat membunuh Rasulullah akhirnya tiba di mulut gua Tsur. Beberapa dari mereka berniat masuk ke dalam gua, namun keinginan mereka terurungkan karena melihat banyaknya jarring laba-laba yang sempurna, menandakan tidak ada seseorang sebelumnya yang masuk kedalam gua ini.

Tentang pengejaran Quraisy terhadap Rasulullah untuk dibunuh, dan cerita tentang gua ini turunlah firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfaal: 30).

Setelah dirasa aman, Rasulullah dan Abu Bakarpun sepakat untuk melanjutkan perjalanannya menuju kota Yastrib. Mereka bertemu rombongan muslim lain di kota Quba. Para kaum muslimpun memutuskan singgah terlebih dahulu di kota Quba sambil menunggu Ali bin Abi Thalib yang sedang berdakwah di kota itu.

Sembari beristirahat dan menunggu seluruh umatnya berkumpul, Rasulullah bersama rombongan berusaha membangun tempat berteduh dan tempat beribadah bagi mereka yang singgah di Quba. Setelah mereka semua berkumpul, maka Rasulullahpun melanjutkan perjalanan mereka ke kota Yastrib.

Ada beberapa hal yang membuat Islam mudah di terima di kota Yastrib. Sebagian agama dari penduduk kota Yastrib beragama Samawi, yakni agama yang menganut dari Tuhan yang sama, dan merekapun mempercayai akan adanya Nabi terakhir yang akan muncul sebagai penyampai kebenaran.

Baca Juga:  Memahami Secara Benar Pemahaman dan Tingkatan Nahi Mungkar

Di negeri Yastrib Rasulullah mendapatkan penghormatan yang sangat besar, karena dakwahnya banyak diterima oleh masyarakat. Karena itulah nama Yastrib berubah nama menjadi Madinah yang memiliki arti Madinatul Munawaroh atau dapat di sebut juga kota Nabi. Kota di mana Islam mulai berkembang dan memancarkan cahayanya ke seluruh dunia.

Sampai di sini kita bisa memahami bahwa hijrah adalah perintah Allah yang diamanatkan kepada Nabi. Hijrah pun adalah strategi bukan kekalahan diri untuk terpaksa keluar dari kampung halaman.  Dengan Hijrah umat Islam terselematkan dan menjadi tonggak peradaban Islam kelak di kemudian hari.

Berhijrah bukan lari dari kenyataan. Berhijrah sejatinya adalah keluar dari kondisi yang tidak aman yang penuh siksaan ke arah yang lebih aman dan lebih baik. Jika engkau sudah berada di tengah kondisi yang nyaman dengan keimanan dan keyakinan yang dijamin, maka haruslah disyukuri. Tinggal bagaimana kita harus berhijrah secara maknawi untuk memperbaiki diri dari segala perbuatan yang dibenci Allah.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

orang bodoh

Tidak Semua Pertanyaan Orang Bodoh Direspon, Inilah Kriterianya Menurut Imam Ghazali

Sulit membedakan antara orang yang memang tidak tahu dan ingin tahu dengan orang bodoh yang …

UAS ditolak Singapura

UAS Ditolak Singapura karena Dianggap Penceramah Ekstremis, Mengganggu terhadap Kerjasama Negara?

Rama-ramai para tokoh memprotes kebijakan Imigrasi Singapura yang menolak penceramah kondang Ustad Abdus Somad (UAS) …