kisah nabi

Mengapa Nabi Harus Hijrah? Inilah Pelajaran Penting di Balik Hijrah

Rasulullah adalah satu-satunya manusia yang paling dikasihi oleh Allah. Kalau bukan karena beliau manusia dan alam semesta tidak akan diciptakan. Tentu, sebagai yang terkasih apapun yang diminta akan dikabulkan oleh Allah. Tetapi, kenapa beliau harus hijrah? Kalau cuma soal umat Islam tertindas cukup meminta kepada Allah supaya musuh dilemahkan. Pasti dikabulkan.

Kalau begitu, pasti ada pelajaran untuk umat Islam yang ingin disampaikan oleh Nabi melalui momentum hijrah. Benar, ada beberapa pelajaran di balik hijrahnya Nabi.

Pertama, dakwah tidak selamanya akan diterima.

Nabi kurang apa? Semua orang Quraisy mengakui beliau sebagai “al Amin”, orang yang terpercaya. Satu kali saja beliau tidak pernah berbohong. Dari segi Nasab merupakan golongan paling terpandang. Bani Hasyim adalah klan Quraisy terbaik. Beliau juga tidak pernah mengotori  dakwahnya dengan urusan politik praktis, semisal menyinggung penguasa dengan tujuan menjatuhkannya.

Tapi kenapa dakwah beliau mendapat pertentangan dan penolakan yang hebat bahkan sampai pada taraf akan dibunuh? Inilah pelajaran penting pertama kenapa beliau hijrah. Bahwa tidak selamanya dakwah akan diterima secara baik. Butuh perjuangan, pengorbanan dan ketulusan niat serta keikhlasan.

Dakwah hanya media untuk mengajak, sementara persoalan hidayah adalah milik Allah. Seorang Rasul pun tidak bisa memaksakan orang lain untuk percaya. Karena itulah dakwah selalu mempunyai strategi yang tepat dalam memperhitungkan kondisi dan sasaran yang tepat.

Kedua, dakwah tidak terikat pada satu tempat dan satu sasaran.

Begitu kuatnya penetrasi permusuhan yang dilakukan oleh kaum kafir Makkah kepada Nabi dan para sahabatnya, sehingga beliau merasa khawatir terhadap keselamatan umat Islam yang jumlahnya sangat sedikit kala itu, maka hijrah menjadi satu solusi yang paling efektif.

Baca Juga:  Tips Memilih Pasangan Hidup di Era Millenial

Madinah dipilih sebagai tujuan hijrah karena masyarakatnya yang welcome terhadap Nabi dan ajaran Islam. Dan terbukti, Islam bersinar cemerlang pasca Nabi hijrah. Akhrinya, Madinah menjadi pusat agama Islam. Dari sana pula Islam berkembang pesat ke seluruh penjuru bumi. Artinya, apabila dakwah telah dilakukan secara baik dan tidak ada unsur duniawi yang menyertainya, namun tetap gagal, maka mesti beralih ke tempat lain.

Ketiga, keselamatan jiwa lebih penting.

Pelajaran dari hijrah Nabi berikutnya adalah menjaga keselamatan jiwa sangat penting. Setelah melihat gelagat kaum kafir Makkah yang tambah brutal dan ganas sehingga umat Islam terancam keselamatannya, Nabi tidak berdiam diri dan pasrah begitu saja. Beliau mencari cara dan alternatif sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan diri bersama sahabat-sahabatnya.

Dengan demikian, keselamatan jiwa lebih diutamakan dari pada dakwah. Sebab, dakwah bisa dimulai dari tempat lain yang lebih kondusif. Madinah adalah tempat yang paling kondusif waktu itu.

Dan perlu dicatat, sasaran dakwah Nabi adalah mereka yang belum memeluk Islam, sementara untuk mereka yang telah memeluk Islam cukup pada penguatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Itupun dilakukan secara pelan-pelan dan bertahap. Sahabat yang memiliki tingkat keilmuan lebih tinggi mengajari sahabat pemula.

Jadi, dakwah semestinya sasarannya adalah non muslim namun dengan cara-cara seperti yang Nabi lakukan, beradab, santun, tidak memaksa, apalagi membunuh. Oleh karena itu, sangat mengherankan apa yang terjadi saat ini. Sebagian umat Islam gencar menyalahkan amaliah umat Islam yang lain yang berbeda dengan pemahaman mereka. Dakwah mereka tidak dikhususkan kepada non muslim supaya memeluk agama Islam, tapi justeru konsentrasi untuk mengkafirkan umat Islam yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …

bulan shafar

Menepis Anggapan Bulan Shafar sebagai Bulan Sial

Masyarakat Arab pra Islam atau masyarakat jahiliah mengenal istilah tasyaum. Suatu anggapan bahwa bulan Shafar …