tahun baru islam
tahun baru islam

Refleksi Tahun Baru Islam 1443 H: Hijrah Menuju Negeri Aman

Fenomana Hijrah dari Timur Tengah Hijrah ke Eropa

Peristiwa hijrah sejatinya dalam konteks kekinian juga masih berlangsung dan digunakan sebagai cara bagi individu dan kelompok untuk mencari suaka keamanan. Kenapa banyak pengungsi dari Timur Tengah justru memilih negara Eropa sebagai tempat labuhan hijrahnya?

Ini menjadi sangat miris. Konflik, perang saudara, dan perang yang terjadi di Timur Tengah menyebabkan warganya tidak merasa aman untuk tinggal di negaranya. Sementara, Negara-negara Timur Tengah juga tidak memberikan tempat yang nyaman bagi para pengungsi. Turki, Lebanon, dan Yordania sedikit negara yang mau menampung tetapi dalam kondisi perkemahan yang memperihatinkan. Pilihannya adalah negara Eropa.

Eropa dipandang sebagai negara yang lebih memanusiakan para pengungsi. Demikian pula keamanaan, kenyamanan dan kebebasan beragama sangat dijamin di negeri Barat tersebut. Apakah negeri Eropa lebih Islami? Tentu secara semangat mereka bisa dikatakan lebih islami dan manusiawi.

Namun, tidak semua negara Eropa menerima. Banyaknya pengungsi dengan latarbelakang kultur dan keyakinan terkadang menyebabkan anomali dan gangguan stabilitas sosial politik di negeri labuhan. Tidak mengherankan jika beberapa negara Eropa juga ada yang tidak menerima kehadiran para imigran.

Semangat Hijrah Rasulullah

Apa yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa hijrah sejatinya adalah mencari negeri yang aman di manapun tempatnya dan apapun agamanya. Hijrah pertama Rasulullah yang berhasil dilakukan adalah ke negeri Habasyah dengan raja nasrani yang siap menampungnya. Persoalan hijrah bukan ingin mencari negara Islami dalam arti harfiyah, tetapi negara islami yang menjamin keamanan, kenyamanan dan kebebasan dalam mengekspresikan keyakinan.

Sungguh propaganda yang menggelikan jika mengingat para kelompok teror pada tahun 2014 yang menggelorakan berdirinya negara khilafah di Irak dan Suriah lalu mengajak semua umat Islam di seluruh dunia untuk hijrah. Kenapa harus hijrah di tengah negara yang menjamin kebebasan berkeyakinan, justru menuju negara dan wilayah perang?

Baca Juga:  Membaca Yasin di Malam Jum’at (1) : Dalil Amaliyah Membaca Yasin Di Malam Jum’at

Hijrah demikian bertentangan dengan hijrah Rasulullah yang mencari wilayah aman untuk pergi dari wilayah penuh kekerasan dan teror. Hijrah Rasulullah adalah hijrah yang bermakna perintah dari Allah untuk menyelematkan jiwa manusia dan mencari keamanan dalam berkeyakinan. Hijrah bukan untuk mendekatkan diri dengan kematian dengan lari ke negeri penuh konflik dan perang.

Karena itulah, tidak mengherankan jika mayoritas penduduk Timur Tengah yang penuh konflik dan perang saudara memilih hijrah ke negeri Eropa. Negeri tempat hijrah adalah negara yang menjamin keamanan, kenyamanan dan kebebasan berkeyakinan. Negeri yang tidak mengenal itu adalah penguasa Islam atau tidak. Terpenting keyakinan dan ibadah bisa dijamin dan keselamatan jiwa bisa tercapai.

Jika sudah berada dalam negeri yang seperti itu layakkah masih berhijrah? Hijrah tentu bukan hanya harfiyah dalam arti mobilitas fisik . Hijrah juga diartikan secara maknawi dengan cara merubah pandangan, sikap dan perilaku. Tetapi tujuannya tetap sama untuk mencapai negeri yang aman, nyaman dan jaminan kebebasan.

Di negeri yang sudah nyaman dan bebas berkeyakinan, umat Islam harus hijrah secara pikiran dan sikap untuk membangun peradaban yang ada lebih nyaman dan aman. Hijrah bukan merubah diri menjadi ekslusif dengan semakin tertutup. Hijrah membangun kebersamaan dalam meraih keamanan dan perdamaian.  

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …

amarah

Amarah yang Merusak dan Tips Menyembuhkan

Marah merupakan salah satu perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang tak …