kisah di balik Hijrah
kisah di balik Hijrah

Kisah di Balik Hijrah : Suraqoh dan Sayembara Membunuh Rasulullah

Ketika para pembesar Quraisy mengetahui rencana muslim untuk melakukan hijrah ke Madinah mereka berupaya menghentikan rencana tersebut. Mereka melakukan pengintaian di rumah Rasulullah. Para pengintai pun agak lega karena mendapati Rasulullah masih terbaring di tempat tidurnya.

Setelah pagi datang, para Quraisy yang menunggu di sekitar rumah Rasulullah masih mengintai dan menunggu Rasulullah keluar.  Sayangnya bukan orang yang ditunggu yang keluar dari rumah, tetapi adalah  Ali bin Abi Thalib.

Merasa mereka terkecoh, kaum Quraisy pergi ke rumah Abu Bakar untuk mengetahui keberadaan Rasulullah. Namun sayangnya, Rasulullah dan Abu Bakar ternyata sudah tidak berada lagi di Makkah. Rasulullah terlebih dahulu tinggal di gua Tsur selama tiga hari lamanya.

Merasa tidak terima, para petinggi Quraisy membuat pengumuman kepada segenap kabilah yang terpencar-pencar sepanjang jalan antara Makkah dan Madinah. Mereka memberikan hadian 100 unta bagi siapa saja yang mampu membunuh Rasulullah.

Setelah berdiam diri di gua selama tiga hari, mereka disusul oleh budak milik Abu Bakar yang bernama Amir bin Fuhairah. Mereka kembali memulai perjalanan menuju Madinah melalui jalan yang tidak banyak dilalui banyak orang.

Di perjalanan mereka menuju Madinah, Abu Bakar merasa selalu gelisah dan takut akan ada orang yang menyusul mereka dan mengancam keselamatan. Menjelang siang Rasulullah dan Abu Bakar memutuskan untuk beristirahat dan beribadah sejenak.

Di tengah beristirahat, Abu Bakar melihat seorang pengembala domba yang juga ingin berteduh di sana. Melihat Rasulullah dan Abu Bakar yang terlihat kelelahan sang penggembala memeraskan air susu dari seekor kambing gembalaannya. Setelah mereka meminum air susu tersebut, Rasulullah bersama Abu Bakar melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, ternyata ada seorang laki-laki yang diam-diam menyusul mereka dari kejauhan. Ialah Suraqoh bin Malik. Dia adalah seorang laki-laki dari kalangan Quraisy yang terkenal dengan ketajaman mata dan sanggup membaca jejak dengan baik.

Baca Juga:  Risalah ‘Himayatul Kanais fil Islam’ (Menjaga Gereja dalam Pandangan Islam)

Ternyata Suraqoh bin Malik merupakan salah satu orang yang ingin memenangkan sayembara dan ingin mendapatkan hadiah 100 ekor unta. Karena banyaknya orang yang mengincar Rasulullah, maka Suraqohpun memiliki siasat licik terhadap pesaingnya.

Suraqoh mendatangi mereka dan berbicara, “aku tak melihat ada seseorang di depan, yang aku lihat hanyalah tanah gersang tanpa ada satu manusia dan hewanpun yang hidup atau berjalan di sana. Aku rasa Muhammad tidak akan pernah melawati tempat itu.”

Karena mereka mengenal Suraqoh dengan sangat baik, maka mereka mempercayai semua yang dikatakan olehnya. Setelah berpisah dari rombongannya, Suraqoh lantas memacu kudanya dengan kencang karena iapun takut kehilangan jejak Rasulullah.

Sungguh bahagianya Suraqoh ketika mengetahui dirinya tidak tertiggal jauh dari Rasulullah. Dia makin memacu kecepatan kudanya, dan tanpa disangka kudanya tidak mampu dia kendalikan. Terlemparlah Suraqoh dari punggung kudanya, sekali lagi ia mencoba, namun kudanya seakan tidak ingin Suraqoh mendekati Rasulullah.

Akhirnya ia mencoba mengundi keputusannya, seperti kebiasaan kaum Quraisy. Diambillah beberapa mata panah untuk mencoba mengundi keberuntungannya. Namun sayangnya, hasilnya tidak seperti yang diinginkan nafsunya.

Maka Suraqohpun mengingkari hasil undiannya tersebut, dan diraihnya kembali kudanya untuk memburu Rasulullah yang semakin menjauh dari tempatnya. Namun sekali lagi Allah menghalangi niatan Suraqoh.

Kedua kaki kuda yang ditungganginya tertancap di tanah, diapun berusaha membebaskan kudanya tersebut. Setelah dia berhasil menyelamatkan kudanya, iapun meyakini bahwa Rasulullah adalah manusia yang terlindungi dan akan mendapatkan kemenangan. 

Betapa dicintai dan dilindunginya Rasulullah dari kejahatan kaum Quraisy. Hal ini sebagaimana tersurat dalam hadist Imam Bukhari dari Abu Bakar. Rasulullah berkata: “Kami berangkat menuju Madinah, sementara banyak orang yang mencari kami. Tidak ada seorangpun yang berhasil menemukan kami kecuali Surâqah bin Mâlik bin Ju’syum yang menyusul dengan kudanya. Aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Orang ini berhasil menemukan kita, wahai Rasulullah!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyahut: ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla bersama kita’.

Suraqohpun langsung memanggil Abu Bakar, dia memberikan peringatan agar Raulullah dan Abu Bakar berhati-hati dalam perjalanan, karena banyaknya kaum Quraisy yang mengincar nyawa Rasulullah. Iapun berkata kepada Rasulullah, “Sesungguhnya kaummu telah menjanjikan tebusan untuk dirimu”.

Iapun menawarkan bekal dan barang-barang. Namun Rasulullah dan Abu Bakar tidak menginginkan hal itu. Rasulullah hanya meminta pada Suraqoh agar ia mampu merahasiakan keberadaan mereka. Rasullah berkata kepada Suraqoh: “Rahasiakan tentang kami”. [HR Imam Bukhâri].

Baca Juga:  Nasehat Bijak KH. Hasyim Asy’ari dalam Menyikapi Perbedaan

Setelah perang Hunain, Suraqohpun pergi mencari keberadaan Rasulullah. Ketika ia berhasil bertemu Rasulullah, iapun mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang muslim sejati. Maka Suraqohpun meminta Rasulullah untuk membimbingnya dalam mengucapkan syahadat.

Dalam cerita ini dapat dibuktikan bahwa seorang yang sangat mencintai dunia bahkan ia mampu menghabisi nyawa seseorang untuk memperbanyak hartanya, namun ketika Allah memperlihatkan perlindungannya kepada manusia yang di kasihinya. Maka seorang Suraqohpun yang sangat mencintai dunia mampu menyadari kebesaran dan kebenaran akan Rasulullah.

Bagikan Artikel

About Dodik Triyanto

Avatar