keragaman
keragaman

Pelajaran Berharga dari Rasulullah : Jika Sesama Manusia Kenapa Tidak Dihormati Apapun Agamanya

Kerap sekali umat saat ini begitu ingin menunjukkan marwah Islam dengan muka sangar dan berapi-api. Seolah-olah Islam yang tinggi harus ditampilkan dengan nada tinggi. Kenapa demikian? Karena dalam pikirannya seseorang selalu mempersepsikan kondisi selalu perang dan berhadap-hadapan. Musuh sedang mengintai dan kita dalam keadaan terkepung. Mental itulah sebenarnya yang menyumbat wajah Islam yang penuh dengan senyuman dan ramah dalam kondisi damai.

Mereka bukan tidak pernah memahami betapa agungnya Rasulullah melalui akhlaknya yang indah dan anggun. Mereka menyadari itu. Namun, bagi mereka Rasulullah adalah tegas dan keras kepada musuh-musuhnya. Karena mereka mempersepsikan diri selalu bermusuhan dengan yang berbeda, pilihannya adalah tegas dan keras.

Karena itulah, citra yang mereka ingin tampilkan adalah teladan Nabi ketika berhadapan dengan musuh-musuhnya. Pilihan mereka adalah tetap Rasulullah sebagai pemimpin agama sekaligus panglima perang yang tangguh. Apakah memang Rasulullah adalah pemimpin dan teladan pemberani dan tegas tanpa ampun?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Saya ingin menegaskan bahwa seringkali kelompok itu salah memahami konteks. Konteks peperangan dibawa dalam kondisi damai. Sikap pemberani dan tegas Rasulullah dipraktekkan dalam kondisi yang damai penuh keragaman. Karena itulah, mereka seringkali gagal fokus meneladani Nabi.

Rasulullah seringkali menampilkan sikap yang santun dan penghormatan yang tinggi bukan karena melihat agamanya, tetapi karena ia adalah bagian dari saudara sesama manusia. Ada beberapa teladan Nabi yang patut dijadikan contoh bagi umat Islam saat ini.  

Suatu ketika Nabi bersama sahabat sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datang rombongan jenazah di hadapan beliau. Nabi seketika berdiri dengan menghormati rombongan tersebut. Sahabat yang penasaran memprotes tindakan Nabi itu karena mereka tahu itu adalah jenazah orang Yahudi. Mendengar sanggahan sahabat Nabi hanya mengucapkan kalimat yang sangat keren: Bukankah ia juga manusia. 

Baca Juga:  Puasa : Ibadah Purba untuk Mengembalikan Fitrah Kemanusiaan

Kalimat pertanyaan retoris Nabi ini mengajarkan kepada para sahabat bahwa setiap manusia apapun latarbelakang agama sosial dan etnik ketika terbaring menjadi mayat layak untuk dihormati. Penghormatan kepada mayat tersebut bukan karena menghormati agama, suku, etnik atau latarbelakang lainnya tetapi semata karena ia juga manusia.

Dalam cerita yang lain suatu ketika Asiyah menyelenggarakan hajatan dengan menyembelih kambing. Setelah hidangan matang Aisyah membagikan masakannya kepada tetangga sesuai anjuran Nabi ketika masak untuk membagikan kepada tetangga. 

Nabi berkata apakah si fulan juga telah dikirim masakan. Belum dia itu Yahudi dan saya tidak akan mengirimnya masakan, ujar Aisyah. Apa tanggapan Nabi. Nabi tetap meminta : Kirimilah walaupun Yahudi ia adalah tetangga kita.

Sekali lagi Nabi tidak mempersoalkan agamanya tetapi kemanusiaannya. Walaupun seorang Yahudi tetapi sebagai manusia ia adalah tetangga yang wajib dihormati. Budi pekerti Nabi seperti inilah yang semestinya diviralkan kepada kita semua di tengah ganasnya sikap masyarakat yang selalu mempersoalkan perbedaan identitas.

Karena saking kerasnya hubungan antar yang berbeda, bukan sekedar perbedaan agama, perbedaan politik pun kadang merusak jalinan bertetangga. Bahkan karena perbedaan pilihan politik kita enggan menghormati jenazah walaupun kadang sesama muslim. Perilaku demikian tentu harus kita evaluasi bersama dengan menjadikan Nabi sebagai teladan dan contoh yang baik dalam berperilaku dalam perbedaan.

Bagikan Artikel ini:

About Triyanto S

Avatar of Triyanto S

Check Also

nilai puasa

Menuju Puasa Panca Indra dan Batin

Puasa adalah menahan diri dari lapar dan haus serta hal-hal yang mampu membatalkannya mulai dari …

makna wudhu

Jangan Menyepelekan Wudhu’ Sambil Ngobrol, Inilah Misteri Spiritual Setiap Gerakan Wudhu

Dalam kenyataan sehari-hari banyak kita jumapi orang yang sedang berwudhu terkadang sambil asik berbincang. Seolah tidak ada waktu lain di luar itu untuk bersenda gurau dengan membincangkan sesuatu. Sebagai proses untuk menyucikan diri tentang wudhu secara fikih memang sebagai syarat. Namun, ada makna penyucian yang semestinya seorang hamba perlu pahami.