walimah non muslim
walimah non muslim

Menghadiri Walimah Nikah Non Muslim, Bolehkah?

Dalam Al Hawi al Kabir, para ulama tidak satu pendapat tentang walimah (selamatan/pesta) pernikahan. Wajib atau sunnah? Argumen mereka yang mewajibkan mendasarkan pendapatnya pada perintah Nabi yang menganjurkan walimah meskipun hanya menyembelih seekor kambing. Di lain pihak, para ulama mengatakan walimah hukumnya sunnah. Argumennya, karena akad nikah sendiri tidak wajib, semestinya walimah juga demikian.

Para ulama juga berbeda pendapat tentang hukum menghadiri walimah. Wajib atau sunnah? Perbedaan tersebut direkam dalam kitab Raudhah al Thalibin wa Umdah al Muftin.

Dalam Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu tertulis, menurut jumhur ulama; Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, menghadiri walimah nikah hukumnya wajib. Adapun menurut kelompok Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyah hukumnya sunnah.

Yang dibicarakan di atas konteksnya di internal muslim. Bagaimana kalau undangan walimah nikah datang dari non muslim?

Termaktub dalam kitab al Hawi al Kabir, lagi-lagi ulama fikih berbeda pendapat. Sebagian berpendapat wajib. Sebab, perintah Nabi untuk menghadiri walimah nikah sifatnya umum; kepada sesama muslim dan non muslim. Karenanya, menghadiri undangan walimah nikah non muslim hukumnya juga wajib.

Tetapi, jumhur ulama yang mengatakan tidak wajib. Kewajiban menghadiri undangan walimah nikah kalau tidak ada faktor yang dapat menggugurkan kewajiban tersebut. Diantaranya, kalau kehadiran seseorang ke acara walimah tersebut akan membantu kedzaliman atau kemaksiatan, ada orang lain yang sakit hati ketika orang tersebut hadir, dan di tempat walimah nikah ada kemungkaran seperti minum minuman keras. Kalau ada faktor-faktor tersebut menurut jumhur ulama tidak wajib menghadiri walimah nikah.

Seperti termaktub dalam Raudhah al Thalibin dan Kifayah al Akhyar, jumhur ulama menegaskan orang yang mengundang harus baligh, berakal, dewasa, merdeka dan beragama Islam.

Baca Juga:  Fikih Pangan (2): Kriteria Hewan Darat yang Layak Konsumsi dalam Islam

Menurut saya, dalam konteks keindonesiaan, pendapat yang mengatakan menghadiri undangan walimah nikah non muslim wajib lebih tepat dipakai. Sebab pendapat ini juga memiliki landasan dalil yang kuat.

Dalam kitab Jami’ al Hadits dimuat satu hadits, “Siapa yang menyakiti kafir dzimmi (kafir yang berdamai dengan umat Islam), maka akulah musuhnya. Dan, siapa yang memusuhiku, aku juga menjadi musuhnya di akhirat”.

Hadits ini mengesankan untuk berbuat baik terhadap non muslim yang mahu hidup berdampingan secara harmonis dengan orang Islam. Tentu, menghadiri undangan walimah nikah mereka adalah bagian dari menghormati dan berbuat baik kepada mereka.

Seperti termaktub dalam I’anatu al Thalibin dan Tuhfah al Muhtaj fi Syarhi al Minhaj, sebagian ulama mengatakan sunnah menghadiri undangan non muslim, meskipun kesunnahan itu tidak sama nilainya dengan menghadiri undangan orang Islam. Sebagian ulama mengatakan, kesunnahan itu kalau non muslim yang mengundang adalah kerabat, tetangga, atau ada harapan dengan kedatangannya non muslim tersebut akan memeluk agama Islam.

Pendapat sunnah ini, saya kira merupakan jalan tengah dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan dan yang mengatakan tidak wajib. Sekali lagi, dalam konteks kebhinekaan dalam negara kita, lebih elok kalau kita menghadiri undangan walimah nikah non muslim, apalagi kalau mereka adalah kerabat, teman, rekanan bisnis dan hubungan relasi duniawi yang lain.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

qorun

Kisah Qarun: Simbol Oligarki Finansial dalam Al Qur’an

Terlalu sederhana, hanya menceritakan Qarun sebagai pengusaha tamak sampai lupa perintah zakat. Hampir tidak ada …

haman

Haman: Kisah Politikus Rakus pada Zaman Fir’aun yang Diceritakan Al-Quran

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair, namun hancur di tangan politikus Dr. Muhammad Iqbal Haman …