WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.45 1
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.45 1

Mengukur Seberapa Berkualitaskah Shalat Tarawih Kita?

Untuk sekedar bebas dari hutang shalat, sah saja sudah cukup. Bermutu atau tidak bukan persoalan. Tetapi kalau dihayati lebih dalam, shalat merupakan ibadah utama sebagai manifestasi “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Tapi, tujuan utama ini sering lepas.  Shalat hanya dipahami sebagai formalitas yang tidak memiliki tujuan apa-apa kecuali sebatas melepas tanggungjawab. Shalatnya juga kilat seperti yang disindir oleh Rasulullah dalam riwayat Abu Daud dengan Patukan burung gagak.

Di bulan Ramadhan ada shalat sunnah tarawih yang memiliki keutamaan luar biasa. Pahalanya berlimpah. Tetapi tenju saja tujuan sebenarnya bukan hanya soal pahala melainkan ibadah untuk diakui oleh Allah sebagai hamba yang sesungguhnya.

Herannya, kerap kita jumpai pelaksanaan shalat tarawih ini mirip perlombaan adu cepat sembahyang. Padahal ada kisah Nabi pernah menegur salah seorang sahabatnya yang saat itu bermakmum kepada beliau.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shalat dhuhur mengimami kami. Setelah salam beliau memanggil seorang laki-laki yang berada di shaf paling belakang. Beliau berkata, “Hai Fulan! Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah? Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana kamu shalat? Sesungguhnya salah seorang diantara kalian jika berdiri untuk melakukan shalat, maka ia berdiri untuk bermunajat kepada Tuhannya. Jadi, hendaklah ia melihat bagaimana caranya bermunajat kepada-Nya. Sesungguhnya kalian mengira aku tidak bisa melihat kalian. Padahal, sungguh demi Allah, aku melihat di belakang punggungku sebagaima aku melihat di depanku”. (HR. Ibnu Khuzaimah).

Tidak dijelaskan apa kesalahan dan kekurangan shalat orang tersebut. Tapi yang jelas ada yang tidak sempurna sampai Rasulullah menegurnya demikian keras. Mungkin saja tidak khusyuk, banyak bergerak atau terlalu cepat gerakannya.

Baca Juga:  3 Amalan yang Dapat Memperpanjang Umur

Dari Abdurrahman bin Syibli, ia berkata, “Rasulullah melarang patukan burung gagak (dalam shalat)”. (HR. Abu Dawud).

Hadis ini menegaskan Nabi melarang shalat seperti patukan burung gagak. Terlalu cepat tanpa tumakninah. Larangan yang tentu saja berlaku juga untuk shalat sunnah seperti shalat tarawih.

Walaupun untuk shalat sunnah ada pendapat yang tidak mewajibkan tumakninah, namun sebagaimana dikatakan diawal, shalat bukan ibadah formalitas tanpa makna, baik yang wajib maupun sunnah adalah sarana menghadap Allah. Tidak sepatutnya dibuat ajang adu cepat dan menghilangkan makna hakikinya.

Jalaluddin al Rumi dalam kitabnya Fihi ma Fihi menjelaskan, shalat adalah perintah yang harus dikerjakan dengan wujudnya shalat. Sebagaimana rasa lapar yang hanya bisa hilang dengan makan.  Shalat lebih dari sekedar takbir, ruku’ dan sujud.

Ketika shalat, seharusnya sadar saat itu kita menghadap kepada dzat yang agung, yang menciptakan kita dan seluruh semesta. Keagungannya tidak terlihat namun kita dituntut seakan melihatnya, jika tidak bisa maka yakinlah wajah agung itu melihat kita sedang menghadap kepada-Nya. Disaat itu mesti hadir dalam hati bahwa kita mahluk yang lemah dan sepenuhnya tunduk kepada-Nya.

Oleh karena itu, shalat tarawih yang hanya ada di bulan Ramadhan, setahun sekali, hendaklah dilakukan dengan baik. Dengan hati yang tenang sebagaimana makna tarawih itu sendiri yang berasal dari kata raha, tenang. Jangan sampai shalat tarawih kita, meminjam bahasanya Gus Mus, lebih buruk dari senam ibu-ibu, lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai dari pada lamunan 1000 anak pemuda.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …

petasan dari kertas al quran

Viral Petasan Berbahan Kertas Al-Qur’an, Catat Ini Hukumnya!

Tak berapa lama berselang, jagad maya dihebohkan oleh kasus petasan berbahan kertas Al-Qur’an. Respon publik …