selamatan hamil
selamatan hamil

Menikahi Wanita Hamil

Pergaulan bebas adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang. Banyak akibat yang diderita olehnya. Salah satunya adalah hamil di luar nikah. Hingga terkucilkan dari komunitas keluarga.

Tak sedikit keluarga dibuat kelabakan. Ada yang memberikan solusi aborsi. Ada juga yang meminta pertanggungjawaban laki laki yang menghamilinya. Lalu bagaimana hukumnya menikahkan perempuan yang sedang hamil dengan laki laki yang menghamilinya dengan niat ingin menutupi aibnya?

Firman Allah :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Al-Nisa’ 23.

Dari surah al-Nisa’ diatas,  secara tersurat bisa kita pahami bahwa ada 12  wanita yang haram dinikahi atau yang lebih dikenal dengan istilah mahram. Mereka adalah

  1. Ibu kandung
  2. Putri kandung`
  3. Saudari kandung
  4. Saudara-saudara bapakmu yang perempuan (bibi)
  5. Saudara-saudara ibumu yang perempuan(bibi)
  6. Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki (keponakan)
  7. Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan (keponakan)
  8. wanita yang menyusui kamu
  9. Saudara perempuan sepersusuan
  10. Ibu-ibu isterimu (mertua)
  11. Anak tiri
  12. menantu)
  13. mempoligami dua perempuan bersaudara.
Baca Juga:  Rahasia dan Tata Cara Shalat Sunnah Wudhu’

Laki laki boleh menikah dengan perempuan siapa saja. Atau perempuan boleh dinikahkan dengan laki laki siapa saja asalkan dia bukan mahramnya. Kalau yang ditanyakan Bagaimana hukumnya menikahkan perempuan yang sedang hamil dengan laki laki yang menghamilinya. Maka, jawabannya tentu boleh-boleh saja (akad nikahnya sah) dengan catatan perempuan yang sedang hamil itu bukan termasuk perempuan yang haram dinikahi (mahram).

Fatwa hukum ini berdasarkan atas fatwa hukum Imam Syafii dan Madzhabnya. Seperti Syaikh Sulaiman Ibn Muhammad Ibn Umar al-Bujairami mengatakan bahwa akad nikah dengan perempuan yang sedang hamil adalah sah, bahkan suami setelah akad nikah boleh menyetubuhi istrinya meski dalam keadaan hamil. Hasyiah al-Bujairami ala al- Khatib, 11/228

Bahkan Imam Nawawi dengan tegas mengatakan sah tanpa khilaf (tidak ada perbedaan pendapat) namun beliau Imam Nawawi dalam hal bolehnya bersenggama dengan istri yang dinikahinya sewaktu hamil itu masih terjadi perbedaan pendapat. Ada dua pendapat dalam hal ini.

Namun dari kedua pendapat itu, pendapat yang paling shahih adalah pendapat yang memperbolehkan suami bersenggama dengan istrinya yang dinikahinya sewaktu hamil. Hanya Imam Ibn al-Haddad yang mengharamkan suami yang menikahi istrinya saat hamil dilarang bersenggama sampai istri melahirkan. Raudhah al-Thalibin Wa ‘Umdah al-Muftin, 240.

Apa yang difatwakan oleh Ibn al-haddad ini berdasarkan atas Hadits Nabi

لا تسق زرع غيره

Janganlah kamu menyiramkan (air maniya) ke tanaman orang lain. Mustadrak, al-Hakim, 2/317

Yang perlu diluruskan adalah bahwa nikah itu bukan untuk menutupi aib seorang perempuan, kalau niatnya seperti ini saya kira kurang tepat. Karena sejatinya, menurur Abdul Wahab Khalaf,  nikah itu bertujuan untuk melestarikan keturunan. Ilm Ushul al-Fiqh, 201 dan janji suci seorang laki laki untuk nikah satu kali lalu mati sesuai firman Allah dalam Surah al-Nisa’ ayat 21

Baca Juga:  Kenapa Seseorang Takut dan Belum Siap Mati?

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri istrimu) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.

Al-Mahalli dan al-Suyuthi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian itu adalah janji untuk membimbing istri sesuai dengan ajaran Allah, menemaninya dalam hidup dengan baik, atau kalaupun memang terpaksa mencerainya, akan menceraikan dengan baik pula. Tafsir al-Jalalain, 2/13.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …