Menjaga Jarak ideal dengan Penderita Penyakit Menular seperti Corona Menurut Rasulullah

0
1444
menjaga jarak
sumber ilustrasi: motherandbaby

Menjaga jarak untuk menghindari penyakit menular sudah dianjurkan oleh Rasulullah. Bagaimana jarak idealnya?


Adanya virus corona atau covid-19 yang mengkhawatirkan telah membuat masyarakat pani. Hari demi hari penyebaran dan penularannya semakin meningkat. Kontak fisik yang tak ideal menjadi salah satu sumber baik melalui kontak langsung atau menyentuh barang yang terkena paparan virus kemudian masuk dalam tubuh manusia.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan menjaga jarak (social distancing) melalui kampanye “di rumah saja” baik bekerja, belajar dan ibadah. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran virus yang begitu cepat menular ini. Tentu ini adalah bagian dari upaya pencegahan dengan mengurangi kerumunan massa dan kontak langsung.

Islam bukan agama fatalistik, yang menerima segalanya tanpa usaha. Islam menganjurkan bahkan mewajibkan pemeluknya untuk memenuhi hak-hak tubuh. Hak tersebut antara lain memberi makan tubuh ketika lapar, mengobati bila sakit, dan mengistirahatkan ketika letih. Nabi bersabda, “Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atasmu”. (HR. Imam Bukhari).

Berupaya untuk mencegah adalah bagian kewajiban untuk memelihara tubuh. Tidak serta-merta alasan beribadah lalu mengatakan tidak takut penyakit. Dalam keadaan sakitpun Islam memberikan rukhshah. Semua dilakukan karena untuk mencegah dan menghindari penyakit dan penularan penyakit.

Islam juga mengakui adanya penyakit menular. Sehingga kita harus selalu mawas diri dan melakukan antisipasi penularannya. Pada masa dulu, penyakit menular itu antara lain lepra dan tha’un. Dalam mencegah penularannya Rasulullah juga telah memberikan panduan. Jarak atau social distancing sudah dipraktekkan dan dianjurkan oleh Nabi.

Dalam suatu ketika hendak menjenguk orang sakit yang terkena virus menular, Nabi bersabda:

وجاء في الحديث الشريف :”لا تُديموا النظر  إلى المجذومين فإذا كلمتموهم فليكن بينكم وبينهم حجاب قيدَ رمح”[اخرجه البخاري] .

Artinya: “Jangan terlalu lama memandang orang yang terkena penyakit lepra, berbicaralah dengan orang yang berpenyakit lepra dengan jarak satu tombak”.

Dari hadist tersebut, sesungguhnya menjaga jarak adalah bagian ikhtiyar untuk mencegah penyakit menular yang juga dianjurkan oleh Rasulullah. Namun, menjaga jarak juga bukan berarti menutupi diri sama sekali dengan aktifitas yang ada. Mengurangi aktifitas dan menjaga jarak adalah bagian penting untuk memutus penularan penyakit seperti virus corona ini.

Menjaga jarak seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah menjadi penting sebagai pegangan umat Islam agar mampu berusaha tidak terpapar virus corona. Hal ini tentu dengan menimbang potensi keganasan penularan penyakit terlebih dulu. Bila tingkat penularannya kuat, maka hifdu al Nafs (menjaga jiwa) lebih diutamakan.

Karena itulah, kebijakan social distancing menjadi sangat penting diperhatikan oleh masyarakat saat ini. Sejak dahulu potensi penyebaran penyakit menular memang membahayakan. Karena itulah, Rasulullah menganjurkan untuk tidak menatap lama dan menjaga jarak.

Semoga kita terselematkan dari bahaya virus mematikan ini. Marilah berusaha dan tiada putus untuk berdoa.

Wallahu a’lam