menteri pendidikan khilafatul muslimin
menteri pendidikan khilafatul muslimin

Mewaspadai Infiltrasi ideologi Khilafah di Dunia Pendidikan

Kasus khilafah di negara Indonesia kembali mencuat ke permukaan hari ini. Tentu hal ini disebabkan oleh maraknya isu politik 2024 yang mulai bergerilya di berbagai platform media online. Sebagaimana dilansir dari suara.com bahwa khilafatul muslimin meruapakan organisasi yang mulai menanamkan ideologi ke kalangan pelajar dan sekolah di Jawa timur, tepatnya di Kabupaten Mojokerto. Setidaknya ini menjadi “alarm” bagi warga Jawa Timur agar tidak terpapar isu radikalisme dan terorisme yang semakin merajalela.

Namun, semakin majunya zaman, perkembangan organisasi khilafatul muslimin dianggap memiliki gerakan yang menyeleweng dari kaidah agama Islam. Polisi kini masih terus melakukan penelusuran dan penangkapan terhadap kelompok Khilafatul Muslimin. Kali ini polisi telah meringkus lelaki dengan inisial AS yang berperan sebagai Menteri Pendidikan Khilafatul Muslimin di daerah Mojokerto, Jawa Timur pada Senin (13/6/2022).

Fakta Menteri Pendidikan Khilafatul Muslimin yang juga Pegiat Media

Lelaki berinisial AS ini, menurut Kepala Bidang Humas Polisi Daerah Mater Jaya Kombes Endra Zulpan bahwa satu tokoh Khilafatul Muslimin yang ditangkap di Mojokerto, Jawa Timur. Usianya 74 tahun. AS merupakan laki-laki yang ditangkap pada pukul 00.30 WIB. Pria tersebut ditugaskan untuk untuk menyebarkan doktrin terkait paham Khilafatul Muslimin. Tidak tanggung-tanggung, Ia diperintahkan oleh organisasinya agar menetapkan kurikulum atau bahan ajar ke lembaga pendidikan yang terafiliasi dengan organisasi Khilafatul Muslimin. Bersama dengan keenam tersangka ia diduga menghasut, mengembangkan, dan menyebarkan ajaran atau paham khilafah kepada masyarakat yang bertentangan dengan dasar negara yakni Pancasila.

Saat ditangkapp, ternyata ia tidak sendirian. Akan tetapi, ia bersama dengan kolega temannya yang  lain. Lima orang lainnya yang ditangkap berinisial AQHB, AA, SU, IN, FA dan mereka disebut sebagai tokoh sentral organisasi masyarakat. Gerakan yang dilakukan bersama koleganya ini tentu sangat menggemparkan jagad media sosial di Jawa Timur. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh warga negara Indonesia jika doktrin khilafah ini sudah mulai menjamur di tengah lembaga pendidikan yang konsentrasi terhadap doktrin untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini.

Baca Juga:  Upacara Kemerdekaan sebagai Ekspresi Syukur Sesuai Anjuran Nabi

Gerakan  yang dilakukan oleh AS ini tidak hanya pembawa bahan ajar terhadap 30 sekolah yang berafiliasi dengan khilafatul muslimin. Disinyalir, pelaku merupakan salah satu dari seorang pegiat media yang berperan dalam pembuatan konten berita di beberapa surat kabar dan buletin. Ia menerbitkan tulisannya di surat kabar yang diterbitkan Khilafatul Muslimin. Tulisan tersebut diduga bertenangan dengan Pancasila. Hal ini semakin memperkeruh suasana ketentraman yang ada di Jawa Timur.

Ia bersama dengan lima koleganya diduga telah melanggar Pasal 59 Ayat 4 Huruf C Jo Pasal 82A Ayat 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyaratan Menjadi Undang-Undang dan atau Pasal 14 Ayat 1 dan Ayat 2 dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Demikian fakta terkait Menteri Pendidikan Khilafatul Muslimin. Menteri Pendidikan tersebut yang berinisial AS telah berperan dalam dugaan telah menghasut dan mengembangkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila. Pihaknya melakukan itu dengan cara membangun hubungan dengan hampir 30 sekolah.

 Mencegah Infiltrasi Ideologi Khilafah kepada Generasi Muda 

Peristiwa ini menjadi penting diperhatikan oleh para pemangku kebijakan, khususnya  yang bertentangan dengan dunia pendidikan. Sebab tidak bisa pungkiri, dunia pendidikan merupakan lahan untuk menyemai doktrin khilafah semakin menjamur di tengah-tengah ombang ambing masyarakat Indonesia. Jika gerakan ini semakin meluas, maka bisa dipastikan kepercayaan masyarakat terhadap negara akan semakin lemah dan bisa saja akan menggeser dan meruntuhkan paradigma yang telah dibangun oleh para founding father bangsa Indonesia. Pancasila akan semakin terancam dengan ideologi yang bergerak secara gerilya dan sembunyi sembunyi ini. Untung saja, keamanan negara siap dalam merespon gerakan organisasi khilafatul muslimin dengan penuh sigap dan cekatan.

Baca Juga:  Menguak Muatan Ideologis di Balik Narasi Kewajiban Menegakkan Khilafah

Ancaman akan semakin merajalela karena yang disasar oleh para oknum yang mengusung khilafatul muslimin ini adalah anak muda yang masih mengenyam pendidikan di negara Indonesia. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana jika generasi muda bangsa Indonesia telah dirasuki dengan racun-racun ketidakpercayaan terhadap negaranya sendiri belum lagi doktrin dan ajaran yang telah sejak semula disemai dengan baik di dunia pendidikan. Tantangannya tentu bagaimana para pejuang pendidikan dan guru sebagai pahlawan tanpa tanda ini berada di garda terdepan membentengi murid-muridnya dari ancaman yang semakin merusak tatanan negara ini. Inilah yang kita khawatirkan bahwa gerakan yang dilakukan khilafatul muslimin merupakan gerakan yang terstruktur, terukur dan mengenai objek yang sangat rentan untuk dimasuki sebuah doktrin.

Di tambah lagi, para pelaku yang ditanggap adalah pegiat media. Pendidikan dan media merupakan ruang yang sangat empuk untuk memasukkkan segala macam kepentingan yang terselubung. Sehingga dengan mudah mereka percaya. Walaupun awalnya tidak percaya, tetapi doktrin yang salah kemudian diulang-diulang dan dipoles oleh media maka akan menjadi kebenaran di benak mereka. Secara otomatis ini adalah upaya dalam merongrong perlahan demi perlahan keimanan, kepercayaan, keharmonisan, keteguhan, prinsip negara, atau bahkan bisa mengjungkirbalikan fakta di hadapan masyarakat. Karena tidak semua masyarakat selalu cerdas dan tertancam imannya dengan kokoh dalam hatinya. Ada sebagian yang masih terombang-ambing dengan beberapa hal yang berbau akhirat dan surga sehingga lambat laun mereka kemudian menentang pemerintah sah yang telah disepakati bersama oleh rakyat Indonesia.

 

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Warist

Avatar of Abdul Warist
Penulis lepas, Mahasiswa Pascasarjana Studi Pendidikan Kepesantrenan, Instika,Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Check Also

pesantren klasik

Pesantren, Kitab Epos Nusantara dan Kepemimpinan Indonesia

Di dalam kitab epos nusantara, diterangkan bahwa ada delapan unsur alam yang harus dimiliki oleh …