mushalla
mushalla

Membumikan Nilai-Nilai Moderasi dari Surau, Menolak Radikalisme Sejak Dini

Kuntowijoyo memberikan legitimasi bahwa Madura adalah pulau seribu pesantren. Tak ayal, jika Kuntowijoyo menyebut Madura sebagai “pulau seribu pesantren”, karena memang memiliki cukup banyak “stok” kiai, mulai dari kiai langgar, kiai pesantren, kiai tarekat (mursyid), sampai “kiai” dukun. Karenanya, selain pesantren, surau merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan yang potensial dalam merawat keberagamaan masyarakat Madura. Eksistensi dan keistiqamahan surau dalam memberikan pemberdayaan dan pembelajaran Al-Quran di kalangan masyarakat Madura tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Biasanya sebelum seorang anak mendapatkan pendidikan di pesantren, ia ditempa terlebih dahulu disebuah surau.

Di zaman digitalisasi yang merambah dan masuk ke ruang-ruang masyarakat telah mengikis sebagian tradisi dan kearifan lokal. Kepungan teknologi dan seperangkat alat canggihnya telah menjadi manusia menjadi budak konsumstif dari media sosial. Terbukanya ruang publik di media sosial telah menggeser paradigma masyarakat dengan segala bentuk kemudahan dan aspek-aspek pragmatismenya. Problematika ini tentu menghantui masyarakat pemuda dan milenial hari ini, khususnya bagaimana gerak kapitalisme dalam menodai pemikiran pemuda untuk melupakan tradisi leluhurnya, bahkan bisa menyampaikan konten radikalisme dan terorisme dalam pemikiran pemuda.

Di kalangan masyarakat Madura, tradisi mengaji Al-Quran bagi anak-anak surau lambat laun akan punah seiring dengan berjalannya waktu. Dengan kemolekan teknologi, gerakan masyarakat magrib mengaji yang didengung-dengungkan hanya akan menjadi wacana belaka. Sebab tidak bisa dipungkiri, jika hari ini, paradigma masyarakat mulai menggeser budaya khatmil Al-Quran dilaksanakan melalui whats app sebagai alat dan ruang untuk melaksanakan tradisi ini. Selain menghadirkan kemudahan melalui online, hataman ini juga bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, tanpa harus hadir ke langgar. Ini tentu adalah sebuah tantangan bagi generasi muda, belum lagi bagaimana isu pemahaman radikalisme dan terorisme yang dicekoki melalui media yang sangat akrab dengan anak muda.

Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi dalam Budaya Hataman Quran di Surau

Salah satu resepsi tradisi hataman al-Quran adalah berfungsi sebagai fungsional. Masuknya praktik hataman Quran ke dalam ruang-ruang kegiatan dan rutinitas masyarakat Madura kemudian bermetamorfosis menjadi tradisi dan kebudayan. Biasanya hataman al-Quran ini dilakukan oleh sekelompok orang yang berjumlah 30 orang secara bersama-sama membaca al-Quran (per juz satu orang). Hataman al-Quran ini kemudian direspon, diapresisasi oleh masyarakat tidak hanya sebagai rutinitas semata akan tetapi berubah menjadi perayaan-perayaan yang dimasyarakatkan dan ritual-ritualnya bersentuhan dengan kearifan local seperti adanya pagelaran drumband, hadrah tradisional, pengajian umum, selametan, jheren kencak dan lain sebagainya.

Dalam rangka untuk memuliakan anak yang telah berhasil mengkhatamkan Al-Quran, biasanya sebagian orang tua dan surau-surau yang ada di Madura menyelenggerakan beragam syukuran bagi anak-anaknya. Perayaan budaya khataman Al-Quran juga terdapat di kalangan anak-anak  yang melakukan proses pembelajaran mengaji di Surau yang ada di Madura. Hataman Al-Quran di kalangan anak-anak di Madura berlangsung dengan penuh khidmah dan meriah karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal seperti tolong menolong, tradisi selametan, anak-anak yang diarak dengan menggunakan jheren dan drumband. Beberapa tradisi masyarakat yang diperkenalkan kepada anak anak sejak berada dalam lingkungan surau akan memadamkan gerakan radikalisme di tengah-tengah masyarakat. Integrasi nilai-nilai keagamaan akan semakin kental dengan nilai-nilai kebudayaan di tengah-tengah kemajemukan kehidupan masyarakat.

Beberapa problematika yang akan mengikis budaya mengaji di kalangan anak-anak masyarakat Madura berhasil diredam dengan sumber-sumber pelindung utama (modal sosial) dalam tradisi hataman al-quran di kalangan anak-anak di Madura ini. Seperti peran orang tua, guru alif (guru reba’an), dukungan (support) para tetangga dan masyarakat, yang ikut andil dalam eksistensi tradisi hataman al-Quran di Madura. Bahkan, anak-anak yang sudah selesai menghatamkan Al-Quran akan diberi parsel sebagai ucapan selamat karena telah selesai dalam menghatamkan Al-Quran.

Dukungan tersebut dengan memberikan modal material dalam tradisi hataman al-Quran di Madura dengan merayakannya di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, masyarakat  memberikan apresiasi kepada anak yang telah selesai melaksanakan hataman al-Quran. Tidak hanya itu, selain dirayakan dalam bentuk tradisi, hataman al-quran ini juga diselingi dengan budaya-budaya di kalangan masyarakat seperti dengan mengundang grup musik tradisional dan modern untuk memeriahkannya.

Apresisasi yang dilakukan oleh beberapa stakeholder ini memberikan suplemen tradisi hataman Al-Quran di Madura sehingga budaya hataman al-quran dan masyarakat magrib mengaji bisa berlangsung dan tetap eksistensi menjadi energi spiritual di tengah hiruk pikuk paradigma msayarakat Madura yang berubah dari hari ke hari. Kekuatan gotong royong dan apresiasi dalam budaya tradisi hataman al-Quran ini menjadi ketahanan dari gemburan budaya yang merasuk ke rongga-rongga kehidupan masyarakat Madura.

Menyemai Resistensi Radikalisme Sejak Dini

Radikalisme dan terorisme yang disinyalir telah merambah ke dalam dunia pendidikan tentu bisa dicegah dengan menyemai paradigma terhadap anak-anak yang mengaji di Surau dengan nilai-nilai moderasi beragama yang ada di dalamnya. Salah satunya bagaimana anak-anak diajak untuk dekat dengan tradisi kemasyarakatan melalui kebudayaan yang membumi. Tradisi hataman dengan memasukkan hiburan dan tradisi akan mematahkan virus radikalisme sejak dini.

Anak-anak yang belajar Al-Quran tidak hanya dicekoki dengan pemahaman Al-Quran yang utuh tetapi juga menghadirkan tradisi kental masyarakat di dalamnya, sehingga pemahaman dan doktrin radikal ini secara otomatis dengan sendirinya dengan perlahan-lahan akan semakin melunturkan radikalisme di kalangan anak-anak. Peran guru ngaji yang mewarisi keilmuan dari para kiai dan wali songo tidak bisa diragukan dalam menangkal adanya terorisme dan radikalisme dalam diri anak anak. Sebab, rata-rata guru ngaji yang ada di pulau Madura adalah alumni pesantren yang kompeten dalam memberdayaak kehidupan masyarakat.

Surau melalui peran guru ngaji adalah kepanjangan dari pesantren yang ada di kampung-kampung dan dusun di sebuah desa. Peran sentral ini tentu menjadi sebuah kekuatan dalam menolak terpaparnya anak-anak terhadap radikalisme dan terorisme. Di Madura, kebertahanan peran guru ngaji ini juga didukung oleh pemerintah dalam memberikan bantuan sosial terhadap guru ngaji. Timbulnya bibit radikalisme di desa tentu akan mustahil karena anak-anak masyarakat di Madura telah berguru dan bersanad keilmuan dengan alumni pesantren yang berpaham ahlussunnah wal jamaah. Anak-anak tersebut tidak pernah diajari untuk saling menyalahkan, bahkan disemai sikap gotong royong, saling membantu dan bersinergi dalam rangka kemaslahatan dan kedamaian hidup di tengah masyarakat.    

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Warist

Avatar of Abdul Warist
Penulis lepas, Mahasiswa Pascasarjana Studi Pendidikan Kepesantrenan, Instika,Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Check Also

ijitihad perdamaian Santri

Menyemai Ijtihad Perdamaian Santri

Santri secara etimologi bisa diartikan melalui kata Bahasa Arab سنتري. Kata tersebut mengandung nilai filosofis, …

menteri pendidikan khilafatul muslimin

Mewaspadai Infiltrasi ideologi Khilafah di Dunia Pendidikan

Kasus khilafah di negara Indonesia kembali mencuat ke permukaan hari ini. Tentu hal ini disebabkan …