Yvonne Ridley
Yvonne Ridley

Mualaf Setelah Ditahan Taliban, Jurnalis Perempuan Inggris Ini Bantah Dicuci Otak

Jakarta – Jurnalis perempuan asal Inggris, Yvonne Ridley menjadi mualaf setelah dua tahun sebelumnya sempat ditahan Taliban di Afghanistan. Namun, ia mengaku keputusannya memilih Islam tidak ada hubungannya dengan Taliban. Ia juga membantah ia meninggalkan agama lamanya karena dicuci otak oleh Taliban.

“Sebagian ada yang mengatakan saya mengalami Sindrom Stockholm. Saya pikir kalau orang terkena ini harus ada ikatan antara si baik dan jahat. Tapi di kasus saya tidak ada. Ikatan, bahkan komunikasi dengan Taliban pun saya hampir jarang selama masa tahanan, karena mereka tidak suka bersama perempuan (bukan mahram),” katanya dalam forum webinar bersama Aqsa Working Group, Minggu (29/8/2021) dikutip dari laman republika.co.id.

Namun ia mengakui, saat ditahan sempat berjanji kepada Taliban untuk mempelajari Islam, tapi bukan untuk pindah menjadi umat Muslim. Namun setelah dua tahun ia bebas, Ridley mengaku mendapat hidayah dan memutuskan memeluk Islam. Keputusannya itu mendapat respon beragama, mulai dari dukungan hingga cibiran, bahkan tuduhan Yvonne yang telah dicuci otak oleh Taliban.

Menurut Yvonne, Taliban yang memimpin Afghanistan saat ini punya PR besar untuk mewujudkan apa yang telah mereka sampaikan dalam konferensi pers perdana mereka setelah mengambil alih pemerintahan. Dalam konferensi pers tersebut, Taliban menjanjikan akan membangun negara inklusif, menghormati martabat wanita, dan memimpin secara adil dan merata.

“Satu hal yang saya tahu tentang mereka, mereka tidak pernah berbohong. Mereka akan mengatakan hal jujur. Bahkan jika mereka telah melakukan penyerangan mereka akan mengatakannya, dan berkata tidak jika tidak melakukannya. apa pun itu. Kita tinggal tunggu saja janji mereka,” ujarnya.

Selain itu, menurut Yvonne, ada juga banyak sangkaan yang dipatahkan selama masa penahanan tersebut. Selama penahanan, Yvonne diperlakukan layaknya tamu, bukan tahanan. Padahal, dirinya sempat berpikir tidak akan bertahan hidup sehari saja. Hingga akhirnya dia dibebaskan Taliban karena masalah kemanusiaan.

Baca Juga:  Merawat Nilai Kemanusiaan dan Kebersamaan

“Kalau ada yang bertanya siapa yang paling senang terbebas saat itu, yang paling senang adalah Taliban karena para pria itu tidak suka harus sering bertemu (berkhalwat) dengan saya perempuan,” katanya sambil tertawa.

“Setelah mempelajari Islam, dua tahun kemudian saya masuk Islam, saya pikir ini adalah perjalanan wawasan akademik saya, namun ternyata ini adalah perjalanan spiritual saya,” tambahnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …