Apakah mungkin menemukan ketenangan di tengah kebisingan digital yang terus mengepung kita setiap hari? Di era di mana smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, uzlah atau pengasingan diri tampaknya semakin sulit dilakukan. Dalam tradisi Islam, uzlah adalah praktik yang sudah ada sejak lama, di mana seseorang mengasingkan diri dari dunia luar untuk mencari ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah. Namun, bagaimana kita bisa mempraktikkan uzlah di zaman modern ini ketika smartphone selalu ada dalam genggaman kita?
Uzlah digital adalah konsep yang perlu kita pertimbangkan secara serius. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada Allah; sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya” (QS. Adz-Dzariyat: 50).
Ayat ini mengajak kita untuk berlari menuju Allah, meninggalkan hal-hal duniawi yang bisa mengalihkan fokus kita dari-Nya. Dalam konteks ini, uzlah dari smartphone adalah salah satu cara untuk kembali kepada-Nya, dengan mengurangi ketergantungan kita pada dunia digital yang sering kali membuat kita lupa akan esensi hidup.
Tantangan terbesar dari uzlah digital adalah ketergantungan kita yang begitu dalam terhadap smartphone. Bagaimana mungkin kita bisa memutuskan hubungan dengan alat yang telah menjadi sumber utama informasi, komunikasi, bahkan hiburan? Ketergantungan ini tidak hanya menciptakan rasa takut akan ketertinggalan informasi (FOMO) tetapi juga menimbulkan kecemasan ketika kita merasa tidak terhubung dengan dunia luar. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks uzlah digital, hadis ini mengingatkan kita untuk bijak dalam menggunakan teknologi dan memilih waktu yang tepat untuk diam, memisahkan diri dari hiruk-pikuk digital demi kebaikan spiritual.
Ketergantungan pada smartphone juga merusak rutinitas harian kita. Sebagai alat multifungsi, smartphone telah menggantikan banyak hal dalam hidup kita—mulai dari jam alarm, kalender, hingga peta dan alat komunikasi. Berpuasa dari smartphone mungkin terasa seperti berpuasa dari kebutuhan dasar, karena hampir setiap aspek kehidupan kita kini tergantung pada teknologi ini. Namun, penting untuk diingat bahwa uzlah bukanlah tentang menolak dunia modern, melainkan tentang menyeimbangkan kembali hubungan kita dengan dunia dan diri kita sendiri.
Manfaat uzlah dari smartphone sangat signifikan. Pertama, Ia menawarkan kita waktu untuk berkualitas, yang sering kali terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam suasana tanpa gangguan digital, kita dapat memfokuskan perhatian pada hal-hal yang lebih bermakna, seperti memperdalam hubungan dengan keluarga, mengembangkan hobi yang tertunda, atau memperkuat ibadah kita. Allah berfirman:
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
“Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati” (QS. Al-Muzzammil: 8).
Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu menyebut nama Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, suatu hal yang sering kali terlupakan di tengah hiruk-pikuk notifikasi dan informasi yang tiada henti.
Kedua, uzlah digital dapat mengurangi stres dan kecemasan yang sering kali dipicu oleh penggunaan smartphone yang berlebihan. Paparan terus-menerus terhadap berita negatif, tekanan sosial dari media sosial, dan kecemasan akan ketertinggalan informasi semuanya berkontribusi terhadap kondisi mental yang tidak sehat. Dengan mengambil jeda dari smartphone, kita memberi kesempatan bagi diri kita untuk bernapas dan meredakan ketegangan mental yang mungkin tidak kita sadari telah terakumulasi.
Ketiga, uzlah dari smartphone bisa menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas. Tanpa distraksi dari notifikasi atau scrolling tanpa akhir, kita dapat lebih fokus pada pekerjaan atau kegiatan yang benar-benar penting. Rasulullah SAW bersabda,
…اَحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ ….
“Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan hal yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan jangan lemah” (HR. Muslim).
Dalam hal ini, uzlah dari smartphone bisa menjadi langkah untuk fokus pada hal-hal yang lebih bermanfaat dan produktif, dengan tetap memohon pertolongan Allah dalam setiap langkah kita.
Uzlah digital, dengan segala tantangannya, adalah bentuk pengendalian diri yang sangat relevan di zaman sekarang. Ia mengajarkan kita disiplin dalam mengelola waktu dan kebiasaan, serta membantu kita untuk lebih sadar akan bagaimana kita menggunakan waktu kita. Pengendalian diri ini bukan hanya penting untuk kesejahteraan mental dan spiritual kita, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan dalam hidup kita yang semakin kompleks.
Mengintegrasikan uzlah digital secara berkala dalam kehidupan kita dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual. Hal ini tidak hanya membantu kita menemukan kembali ketenangan di tengah kebisingan dunia digital, tetapi juga memperkuat hubungan kita dengan Allah. Sebagaimana firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan ingatan yang banyak” (QS. Al-Ahzab: 41).
Dengan mengingat Allah dan mengurangi distraksi dari smartphone, kita dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam dan lebih dekat kepada-Nya. Uzlah digital bukan sekadar menjauhkan diri dari teknologi, tetapi merupakan bentuk introspeksi untuk menyadari betapa berharganya waktu yang kita miliki. Sebagaimana Allah telah mengingatkan kita dalam Surat Al-Ashr,
Berikut adalah teks Arab dari Surat Al-Ashr ayat 1-3:
وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran” (QS. Al-Ashr: 1-3).
Dengan uzlah, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memanfaatkan setiap detik yang diberikan-Nya, mengisinya dengan keimanan, amal yang bermanfaat, serta nasihat yang membawa kebaikan dan kesabaran. Hanya dengan kembali kepada esensi waktu, kita dapat keluar dari kerugian dan menuju keberuntungan yang hakiki.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah