ayat enterpreneur
ilustrasi al quran

Ngaji Ayat-ayat Entrepreneur [1]: 3 Alasan Mengapa Kita Harus Menjadi Entrepeneur

Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin menekankan kepada umat Islam untuk jihad ekonomi. Ajakan tersebut ia sampaikan saat menghadiri Tabligh Akbar Muharram 1444 H Majelis Rasulullah SAW di Jakarta.

“Sebagai bangsa, kita juga harus memenuhi panggilan Tanah Air, karena Tanah Air selalu memanggil kita. Kalau dulu panggilan Tanah Air adalah untuk berjihad mengusir penjajahan dari bumi pertiwi, sekarang kita juga dipanggil untuk jihad tapi jihadnya ekonomi,” tutur Wapres Ma’ruf Amin sebagaimana dikutip dari republika.co.id (22/08/2022).

Apa yang disampaikan KH. Ma’ruf Amin sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, tetapi sejatinya merupakan sebuah keprihatinan karena masih banyak masyarakat, terutama umat Islam yang berkecimpung dalam dunia usaha (entrepreneur). Lebih ironis lagi, juga berkaitan dengan masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa jihad itu mengangkat senjata.

Oleh sebab itu, genderang jihad ekonomi perlu terus ditabuh dan masyarakat Islam harus mulai fokus menjadi entrepreneurship. Timbul sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa kita harus menjadi entrepreneurship? Adakah landasannya dalam Islam?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan mengupas 3 alasan mengapa umat Islam harus menjadi entrepreneur. Nurrohman Assayyidi (2021) menjelaskan setidaknya ada 3 alasan mengapa kita harus menjadi pengusaha.

Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah seorang Ekonom dan Pebisnis Ulung.

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad adalah suri tauladan, publik figur dan tokoh yang harus diteladani. Salah satu hal yang harus diteladani oleh seluruh umat Islam adalah tentang pribadi beliau, yakni seorang agamawan dan pebisnis ulung.

Sejak usia belia, Nabi Muhammad sudah terdidik untuk berbisnis. Dimulai usia 8 tahun, Nabi Muhammad sudah menggembala kambing. Menginjak usia 10 tahun, beliau sudah menjadi asisten pribadi Abu Thalib dalam berbisnis lintas negara.

Baca Juga:  4 Prinsip Ajaran Moderasi Beragama dalam Al-Qur’an

Bahkan Nabi Muhammad berkat integritas yang tinggi, Khadijah binti Khuwailid mempercayakan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membawa dan memasarkan dagangannya. Dari sinilah, Nabi Muhammad menjadi pebisnis handal dan dikenal oleh banyak pedagang.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga menjadi seorang ekonom yang brilian. Diantara buktinya adalah, beliau meletakkan dasar mekanisme pasar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

Dari Anas bin Malik dia berkata: Telah melonjak harga (di pasar) pada masa Rasulullah. Mereka para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.” Rasulullah Saw menjawab: “ Sesungguhnya Allah menguasai (harga), yang memberi rezeqi, yang memudahkan dan yang menetapkan harga. Saya sungguh berharap bertemu dengan Allah dan tidak seorang pun boleh meminta saya untuk melakukan suatu kedzaliman dalam persoalan darah dan harta.”

Kedua, Salah Satu Bentuk Jihad dan Wujud Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

Perjuangan di bidang ekonomi untuk mewujudkan kemandirian dan memaksimalkan amal sosial merupakan bentuk jihad sekaligus dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Yang keduanya merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam.

Perintah untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar sudah sangat jelas sebagaimana diperintahkah Allah dalam QS. Ali Imran ayat 110. Senada dengan itu, sebuah hadis Nabi menyebutkan bahwa bagi orang-orang yang tidak melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, akan diberi hukuman/siksaan dan doa yang dipanjatkan tidak dikabulkan (HR. Tirmidzi).

Ketiga, 6 dari 10 Sahabat Adalah Saudagar.

Islam sangat mendorong umatnya untuk berdikari, mandiri dan mempunyai bekal yang cukup untuk meraih manfaat maksimal dari pahala yang ada di dunia. Oleh karena itu, para sahabat Nabi yang awal-awal masuk Islam yang dijanjikan masuk surga oleh Allah SWT adalah banyak yang menjadi suadagar.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 26-27: Faedah Perumpamaan dalam Al-Quran

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf, Nabi Muhammad SAW bersabda:

أبو بكر في الجنة، وعمر في الجنة وعثمان في الجنة، وعلي في الجنة، وطلحة في الجنة، والزبير في الجنة، وعبد الرحمن بن عوف في الجنة، وسعد بن أبي وقاص في الجنة، وسعيد بن زيد في الجنة، وأبو عبيدة بن الجراح في الجنة

“Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad bin Abi Waqqas di surga, Sa’id bin Zaid di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan An-Nasai).

10 sahabat tersebut, tujuh diantaranya adalah seorang saudagar (entrepreneur), yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah. Abdurrahman bin Auf merupakan sahabat dekat Rasulullah SAW. Abdurrahman bin Auf terkenal sebagai saudagar kaya raya dan all out dalam mendukung dakwah Rasulullah. Suatu ketika, sahabat Abdurrahman pernah menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya untuk penduduk kota Madinah.

Setidaknya 3 alasan di atas amat cukup bagi kita untuk terus jihad ekonomi untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang aman, maksimal dan penuh kebermanfaatan. Islam akan menjadi umat terbaik, salah satu kuncinya adalah apabila umat Islam telah memiliki kekuatan ekonomi yang tangguh. Benar bahwa jihad umat Islam di era saat ini adalah jihad di bidang ekonomi.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

ayat enterpreneur

Ngaji Ayat-ayat Entrepreneur [3]: Memasuki Sembilan dari Sepuluh Gerbang Kekayaan

Setelah mengkaji tentang urgensi ngaji ayat-ayat entrepreneur dan orang Islam harus menjada orang kaya, maka …

hiv

Bukan Poligami, Ini Solusi Islam dalam Mengatasi HIV/AIDS!

Baru-baru ini Wakil Gubernur Jawa Barat UU Ruzhanul Ulum melontarkan pendapat kontroversial. Ya. Ia menawarkan …