Dalam studi Islam, dikenal dengan dua kriteria atau tipologi pemahaman terhadap doktrin-doktrin keislaman, yaitu dimensi normatif dan dimensi historis. Pertama, istilah normativitas berasal dari bahasa Inggris norm yang berarti norma, ajaran, acuan, dan ketentuan. Normatif berarti berpegang teguh pada norma, menurut norma atau kaidah yang berlaku.

Islam normatif adalah Islam pada dimensi sakral yang diakui adanya realitas transendetal yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau sering disebut realitas ke-Tuhan-an.  Paham Islam ini cenderung mengabsolutkan teks yang sudah tertulis tanpa berusaha memahami lebih dahulu apa yang sesungguhnya melatarbelakangi (asbaabun nuzul) teks keagamaan yang ada, baik yang bersifat kultural, psikologis maupun sosiologis.

Kedua, sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut.  Menurut ilmu ini, segala peristiwa dan dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Jadi Islam historis adalah Islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu. Islam yang terangkai dengan konteks kehidupan pemeluknya. Realitas kemanusiaan selalu berada dibawah realitas ke-Tuhan-an.

Dari pemahaman itulah, lazim juga dikenal apa yang disebutnya sebagai pendekatan normatif dan juga pendekatan historis. Pendekatan normatif lebih menekankan aspek normatif dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah. Dalam pandangan Islam normatif kemurnian Islam dipandang secara tekstual berdasarkan al-Qur’an dan Hadits selain itu dinyatakan bid’ah. Kajian Islam normatif melahirkan tradisi teks: tafsir, teologi, fiqh, tasawuf, dan lain-lain.

Sedangkan dalam pendekatan historis, tidak ada konsep atau hukum Islam yang bersifat tetap, semua bisa berubah. Hukum islam adalah produk dari pemikiran ulama yang muncul karena konstruk sosial tertentu. Pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya adalah bersifat relatif dan terkait dengan konteks budaya sosial. Kajian Islam historis melahirkan tradisi atau disiplin studi empiris, seperti antropologi agama, sosiologi agama, psikologi agama, dan sebagainya.

Tokoh perumus

Di antara beberapa pemikir Islam kontemporer yang merumuskan konsep ini, di Indonesia adalah M. Amin Abdullah. Sementara di kancah internasional, terdapat beberapa tokoh penting. Pertama, Nasr Hamid Abu Zayd, yang menurutnya, wilayah teks asli Islam (the original text of Islam), yaitu Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad.

Adapun wilayah pemikiran Islam merupakan ragam menafsirkan terhadap teks asli Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw). Praktik ini muncul dalam berbagai macam dan bentuk sesuai dengan latar belakang sosial (konteks).

Kedua, Abdullah Saeed, yang menjelaskan tentang nilai pokok atau dasar atau asas, kepercayaan, ideal, dan institusi-institusi. Menurut Saeed, ada banyak persetujuan di antara muslim, seperti ke-Esaan Allah, bahwa Muhammad  adalah utusan Allah, bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, Sholat wajib lima waktu sehari semalam, dan seterusnya.

Penafsiran terhadap nilai dasar, agar nilai-nilai dasar tersebut dapat dilaksanakan atau dipraktikkan. Pada tingkatan ini ada perbedaan pendapat di kalangan muslim. Misalnya, perbedaan pendapat tentang bersentuhan dengan laki-laki/perempuan, apakah dapat membatalkan wudhu atau tidak.

Manifestasi berdasarkan nilai-nilai dasar yang berbeda antar satu negara dengan negara lain, bahkan antara satu wilayah dengan wilayah lain. Ambil contoh seperti tolok ukur dalam menegakkan keadilan yang berbeda antar negara.

Pada akhirnya, cara seseorang memahami ajaran Islam akan mengarah pada perbedaan pola pikir dan sikap, normatif atau historis. Dan ini benar-benar terjadi dalam realitas kehidupan kita.